Chapter 2

1.3K 114 3
                                                  

Happy reading!








Stay safe and healthy!







Semenjak Sakura dipromosikan menjadi jounin dan Kakashi diangkat menjadi rokudaime hokage, mereka hampir tidak pernah berbicara banyak. Maksudnya hal-hal pribadi atau yang tidak bersangkutan dengan pekerjaan mereka. Tentu saja karena mereka terlampau sibuk.

"Tidak baik memaksakan diri dengan bekerja terlalu lama," ujar Kakashi yang melihat Sakura masih menggunakan jas putihnya.

Bukannya mengiyakan, Sakura malah membalikkan ucapan Kakashi.

"Sensei, sungguh kau tak pantas mengatakan hal-hal seperti itu," cibir Sakura sambil menunjuk tulisan rokudaime di punggung Kakashi, "kau jelas melakukan lebih daripada aku."

Kakashi terkekeh. Ia memang sering menginap di kantor hokage. Tidur di sofa ruangannya adalah rutinitas baru setelah menjadi hokage. Tak jarang Shikamaru harus membangunkannya di pagi hari karena ia baru tidur setelah fajar. Berlatih? Ia hampir tidak punya waktu untuk itu.

Mengingat soal latihan, Kakashi langsung mengangkat tangan kanannya. Mengumpulkan sejumlah chakra di sana hingga muncul percikan petir berwarna ungu. Shiden. Jutsu baru yang ia ciptakan untuk menggantikan raikiri-nya.

"Astaga, Sensei! Kau ini seperti baru lulus akademi saja mengeluarkan jutsu tanpa alasan!" Sakura mengusap wajahnya malas.

Ia tahu Kakashi hampir tidak pernah lagi menangani kasus di lapangan. Ia menangani segala hal yang membutuhkan diplomasi dan birokrasi. Pasti membosankan. Tapi mengeluarkan jutsu di tengah jalan juga bukan hal yang bisa dianggap wajar untuk seorang jounin–ralat–hokage. Walaupun kondisi jalanan sudah mulai sepi karena langit sudah menggelap.

Jalan ini. Sakura tahu mereka sudah mulai mengarah ke luar desa. Dan ia ingat ke mana jalan ini berakhir.

"Apa kita akan ke kuil naka?"

Seketika petir ungu di tangan Kakashi lenyap. Tak ada ekspresi terkejut yang berarti. Kakashi hanya mengembuskan napas ringan dan mengusap belakang kepalanya.

"Yah, begitulah. Naruto yang memintaku membawamu."

Pasti dengan kagebunshin pria kuning itu mengabari kantor hokage. Dan pasti...

"Apa Sasuke-kun telah kembali?" tanya Sakura ragu.

Hening sejenak. Tak ada jawaban dari Kakashi. Sebenarnya Naruto juga tidak mengatakan apa-apa. Namun intuisinya mengatakan untuk mengikuti keinginan murid oranye-nya.

"Perasaanku berkata, ya."

Itulah Kakashi. Banyak mengikuti intuisi dan terkaan abstraknya. Sayangnya hal itu selalu tepat. Apakah itu sebabnya ia sangat cocok menjadi pembimbing tim 7 yang bebal dan memimpin pembangunan kembali Konoha? Bisa jadi. Kinerja semua orang akan maksimal jika dipimpin dengan cara cerdas Kakashi.

Kini Sakura menunduk. Ia tidak menyangka Sasuke akan kembali di saat kesibukan di rumah sakit menumpuk. Bagaimanapun juga Sakura sudah bertekad untuk ikut jika Sasuke akan pergi berkelana lagi setelah ia kembali.

Tunggu dulu. Apa kali ini ia boleh ikut? Apa Sasuke tidak akan kembali menolaknya seperti dulu? Seperti yang biasa dilakukannya? Entahlah. Sakura merasa bingung.

"Apa rencanamu masih sama?" tanya Kakashi.

Semua tahu Sakura menyukai Sasuke. Sejak lama. Kakashi bahkan melihatnya sejak Sakura masih di akademi. Sedangkan Naruto yang mengaku menyukai Sakura akan terus mengambil kesempatan untuk menjadi Sasuke dan mendekatinya.

HurtsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang