For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

Malam menjelang pagi hari, ayam berkokok pun tak sempat kudengar karena kelelahan dengan acara semalam yang merenggut energi tubuh. Hingga ku rasakan pundakku bergoyang dengan pelan, mula-mula ku buka kelopak mata ini dan melihat siapa yang tersenyum didepan sana. Annoying guy. 

"Aku berangkat kerja dulu," katanya dan mengecup keningku dengan cepat sebelum aku benar-benar memukul tangannya. Tubuhnya sudah menghilang dibalik pintu dan aku kembali menidurkan tubuhku yang mendapat respon mengejutkan darinya. 

"Sudah bangun rupanya anak Ibu," saut Bunda yang sedang menuangkan secentong nasi goreng dipiring Ayah. 

"Guntur, sudah berangkat duluan tapi kamunya baru bangun gitu!" kata Ayah sambil menyuapkan sesendok nasi goreng miliknya. 

"Biarkan saja," jawabku dengan ketus. 

"Kamu harus bisa menerimanya Li, karena mau bagaimanapun juga dia kan sudah menjadi suamimu."

Aku menoleh kearah Bunda, "Insha allah, kalau Auli siap ya Bun!"

"Setidaknya kamu harus bersikap layaknya istri, jangan terlalu dingin. Dia cukup sabar dengan sikapmu kemarin-kemarin itu."

Terus saja membelanya.

"Kalau dia cukup sabar kenapa tidak gunakan kesabarannya untuk mencari calon istri yang lain, dengan jalan perjodohan seperti ini apa itu tidak membuktikan bahwa dia tidak sabar?" tanyaku yang membuat keduanya terdiam. 

"Karena kalian sudah dijodohkan sejak lama, pekerjaanya jugalah yang membuatnya tidak pernah memikirkan untuk mencari calon istri," jawab Ayah. 

"Lihat saja, Auli tidak mau memaksakan diri karena iba dengan kesabarannya."



***



"Assalamualaikum..." kutemukan dirinya yang sedang berdiri dibelakangku yang tengah asyik duduk menonton saluran televisi. 

"Walaikumsalam..." sapaku balik. 

"Kamu udah makan?" tanyanya yang menghampiriku.

"Udah."

"Lain kali aku pulang lebih cepat biar kita makan bersama ya!" ujarnya dengan riang, sementara aku hanya menoleh kearahnya dengan tatapan datar. 

"Air panas sudah aku siapkan, cepat mandi setelah itu makan!" kataku dan meninggalkannya yang masih duduk terdiam disofa. 

"Auli," panggilnya yang sontak membuat kedua kakiku berhenti.

"Sehabis makan, aku ingin bicara padamu!" setelah itu dia menghilang kearah kamar. 

Dia benar-benar membuktikan ucapannya, kini aku sudah duduk ditepi kasur dengan dia didepanku. Dia hanya terdiam dan sementara aku kembali menghela nafas yang entah keberapa kalinya ini terjadi. 

"Bunda sama Ayah kemana?" tanyanya. 

"Bogor," jawabku. 

"Li, minggu depan kita pindah ya!"

"Pindah? Mau kemana? Memangnya rumah ini tidak cukup bagimu?"

"Pindah kerumah kita sendiri, inikan rumah Bunda sama Ayah."

"Apa nggak terlalu cepat? kenapa sih kamu suka banget dadakan?"

"Minggu depan, jadi masih ada waktu untuk persiapan. Lagian Bunda sama Ayah ngedukung kok!"

Sukses kedua bola mataku membulat, "Apa? Ngedukung? Kapan kamu bilangnya?"

"Tadi pagi, sebelum kamu bangun." 

"Dasar," gumamku sambil melipat kedua tangan didepan dada. 

"Tidur sana, udah malam!" katanya dan lagi-lagi mengecup keningku dengan sembarang. 

"Malam, Auli," sautnya dengan nada kecil dan menyembunyikan kepalanya di hand rest sofa. 

Pindah? Baiklah, perubahan kehidupan akan dimulai minggu depan. 

All With You [end up]Baca cerita ini secara GRATIS!