[2] Prepare

144 58 8
                                    

Happy Reading























°°°




Yoongi duduk dihadapan gadis itu, seharusnya ia duduk di kursi kepala. Namun, karena ada appa nya jadi ia harus duduk dikursi itu. Eomma nya pula, mengapa harus pindah tempat duduk. Katanya tidak nyaman duduk disitu, alibi yang sangat basi menurutnya. Yoongi menelik gadis dan pria itu. Siapa mereka? Apakah salah satu kolega Appa? Ahh, entahlah.

Pria tua itu melepaskan kacamata yang ia pakai, menyimpannya diatas meja. Kini ia menatap wajah Yoongi dan gadis itu bergantian. Cocok, semua sudah memasuki kriteria untuk menjadi menantu keluarga besar itu.

"Terimakasih atas kehadirannya, Seokjin." Pria tua itu berucap, memulai percakapan yang sedari tadi sunyi. Seokjin mengangguk perlahan.

"Ah, tidak. Saya yang harusnya berterimakasih pada Bapak." Pak Min tersenyum mendengar jawaban Seokjin.

"Okei, to the point saja. Yoongi-a..." perkataan pak Min terhenti, matanya menatap serius Yoongi yang sedari tadi merunduk. Yoongi kini memandangi wajah appa nya itu.

"3 hari lagi, Kau menikah dengannya!" Lanjut pria tua itu sambil menunjuk kearah gadis yang berada dihadapnnya itu. Yoongi kaget dengan perkataan appa nya itu.

"Mwo?!" Jawab Yoongi kaget, wajah datarnya itu berubah seketika.

"Apakah perjodohan itu harus dilaksanakan, Oppa?" Seokjin mengangguk setelah mendengar perkataan sang adik.

"Tapi..," Seokjin pun segera munutup mulut Seola dengan jari telunjuknya itu. Lalu menggeleng perlahan. Yasudahlah, tak ada yang harus Seola perdebatkan. Mungkin ini sudah menjadi jalan hidupnya.

Alasan yang sangat aneh dan tak masuk akal menurutnya. Seokjin harus pergi ke luar negri untuk mengurusi pekerjaannya disana, dan Dia meninggalkan Seola di Korea karena alasan tak bisa mengajaknya, karena Seola sudah memiliki pekerjaan dan karier yang bagus disini.

Seola pun pasrah, karena hanya Seokjin lah keluarganya saat ini, hanya Seokjin. Ia pun pergi menuju kamarnya untuk segera beristirahat dan bersiap memulai hari esok yang sangat melelahkan.














°°°












Yoongi terdiam melihat kearah layar laptop yang berada tepat dihadapannya. Menutup laptop itu dengan kasar, lalu menyenderkan punggungnya pada senderan kursi putar miliknya. Menutup matanya sejenak, memikirkan apa yang appa nya katakan kemarin membuatnya tak fokus dalam bekerja. Arg! Yoongi berjalan meninggalkan ruang kerjanya. Kakinya melangkah menuju ruang tv untuk bertemu sang eomma yang sedari tadi sedang asyik menonton acara favoritenya.

Duduk di single sofa, menatap dingin sang eomma yang sedang asyik menatap layar tv yang cukup besar itu, dengan berbagai cemilan dimeja. Mengetahui keberadaan anaknya yang baru saja duduk tepat disampingnya itu.

"Mwo? Mengapa Kau menatapku seperti itu?" Yoongi langsung memalingkan pandangannya pada meja kaca dan melihat dirinya sendiri.

"Apakah Aku harus menikah?" Pertanyaan Yoongi membuat eomma nya terkekeh. Pertanyaan macam apa itu, dia tak ingat umur atau apa, xixi.

"Kau harus menikah! Kau tak ingat umurmu, nak? Apakah Kau mau menyendiri saat teman-temanmu sudah mempunyai keluarga? Dan apakah Kau akan bermain terus dengan laptopmu, ketika temanmu bermain dengan anaknya? Dan apakah Kau mau eomma meninggal tanpa memiliki cucu?" Yoongi terdiam mendengar penjelasan eomma yang membuat hatinya sedikit meluluh. Eomma langsung memalingkan pandangannya pada acara tv itu lagi setelah berkata seperti itu pada Yoongi. Tapi benar juga, kan?

My Cold CEO Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang