• 3. Hukuman •

623 78 19
                                    

Happy reading😊...
.
.
.

Sepulang sekolah Ara langsung menuju ke lapangan utama sekolahnya untuk melaksanakan hukuman ah sepertinya Ara lebih suka menyebutnya dengan tugas. Awalnya memang Ara gak mau tapi karena siswa gila itu tadi Ara juga harus menanggung hukuman dari Bu Siska. Bagaimanapun ia harus amanah dalam menjalankan perintah bukan.

"Btw nama cowok tadi siapa ya? Kalau dilihat-lihat ganteng juga tu cowok, tapi sayang nyebelin banget," gumam Ara pada dirinya sendiri.

"Ih... Ngapain juga gue mikirin cowok gila itu, ga ada faedahnya juga." Ara langsung menepuk-nepuk jidatnya untuk menghilngkan pikirannya tentang cowok yang membuat mood nya hancur sejak pagi tadi.

"ARA..."Panggil Ifa dengan berlari kecil  menghampiri Ara.

"Iya fa ada apa?"

"Pulang bareng gue yuk, nanti sekalian gue main ke rumah lo deh, udah lama juga ya gue gak main ke rumah lo," pinta Ifa kepada Ara.

"Tapi Fa, gue tadi dihukum sama Bu Siska buat ngebersihin lapangan, gimana lo mau nunggu?" Tanya Ara sedikit tak enak hati.

"APA! lo ngapain pakek dihukum segala Ra! Ih masak iya Seorang Destiara Silvia Putri Dinata Buketos galak bisa dihukum OMG!!! Mimpi apa gue semalem." Ifa langsung berteriak histeris, kaget mendengar penuturan Ara yang terkesan berbohong. Pasalnya dari SD Ara paling anti dengan yang namanya hukuman. Tapi apa ini?

"Ini semua juga gara-gara bocah gila it... Eh Betewe tu bocah kemana ya apa jangan jangan... Dia..." Ara celiangak - celinguk mencari sosok yang memenuhi pikirannya saat ini.

"Jangan jangan apa?"

Deg

"Lo pikir gue mau kabur? Sorry ya gue gak akan pernah lari dari tanggung jawab." Dengan tiba-tiba laki-laki yang Ara fikirkan itu telah berdiri tepat di belakang Ara.

"OMG RAKA... kamu ngapain disini?" Tanya Ifa dengan muka ternganga, tak percaya.

"Lo kenal dia Fa?" tanya Ara setengah berbisik kepada Ifa. Dan dijawab anggukan olehnya.

"Ara, siapa sih yang gak kenal Raka, dia itu ya cogan di sini dan apa ya namanya gue lupa," jawab Ifa pelan sambil menepuk jidatnya karena lupa.

Ara hanya be "O" ria

"Yaudah selamat mengerjakan hukumanya Ara gue tunggu di kantin Mang Ujang Ra dan jangan lupa siapin duit buat bayarin gue," oceh Ifa sambil cengir kuda menampilkan giginya.

"Dasar lo ya Fa."

"Udah selesai ghibahnya?" Cowok yang katanya bernama Raka itu tiba-tiba ada di samping Ara dengan ekspresi wajah datar.

"Siapa juga yang ghibah," jawab Ara berlalu.

Mereka berdua membersihkan lapangan dengan keadaan hening. Tak ada satu dari mereka yang mau membuka suaranya terlebih dahulu.

Membersihkan lapangan yang sangat luas ini ternyata cukup melelahkan dan bahkan menyita banyak waktu. Untung saja mereka mengerjakannya berdua jadi tak terlalu terasa. Selain karena lapangan yang luas, cuaca yang panas juga menjadi rintangan yang harus mereka berdua lalui.

Setelah selesai menyapu lapangan Raka langsung meninggalkan Ara sendiri tanpa berpamitan. Ara tak peduli hal itu, dan langsung saja melangkahkan kakinya untuk menuju ke kantin yang sudah dapat dipastikan akan sepi.

*****

Saat sampai di kantin, pandangan Ara melihat sekeling Kantin untuk mencari Ifa. Dan terfokus pada meja yang diduduki Ifa.

Tapi, mengapa ada orang lain yang duduk beesama Ifa? mana laki-laki pula.

Ara bergegas menghampiri Ifa, namun naas karena laki-laki itu sudah terlanjur udah pergi.

"Dor..." Ara menepuk pundak Ifa dan langsung duduk di bangku yang diduduki cowok tadi.

"Kampret ngagetin aja lo Ra, lama banget sih lo. Ini gue sampe habis empat gelas es teh dan dua mangkok bakso cuman nungguin lo," omel Ifa pada Ara.

"Wihh, itu perut apa kulkas mbak? Muat banget." Mulut Ara menganga tak percaya dengan apa yang dikatakan Ifa.

"Eh... Jangan lupa bayarin lo Ra," ucap Ifa sambil nyengir kuda.

"Kampret lo emang ya Fa, Betewe cowok yang disini tadi siapa Fa?" tanya Ara dengan penasaran.

"Entar gue ceritain sekarang bayar dulu makanannya, terus pulang deh kerumah lo. Gue tadi udah telvon mama gue boleh nginep di rumah lo kok," ajak Ifa yang disetuju Ara.

"Iyaaa Fa gue bayar tapi beneran ya nanti ceritain ke gue." Ifa mengangguk.

Ara beranjak berdiri dan berjalan menuju ke Mang Ujang untuk membayar makanan dan minuman yang telah di makan Ifa selama menunggunya tadi.

"Siap Bu Ketos Galak" Jawab Ifa sambil memberikan gerakan hormat kepada Ara.

*****

Ara dan Ifa adalah sabahat dekat. Mereka berdua sudah sabatan dari SD. Orang tua mereka juga sudah kenal dekat. Maka tak jarang baik Ara ataupun Ifa menginap di rumah mereka. Ara juga anak tunggal dari pasangan suami istri Papi Indro Dinata dan Mami Karin Dinata.

"Assalamualaikum Mi..."
"Waalaikumussalam," jawab Mami Karin.

"Ara ke kamar mandi dulu ya kebelet ni,"ucap Ara, langsung berlari menuju Kamar mandi kamarnya.

"Iya udah sana cepet nanti malah ngompol sini lagi. Udah lama Ifa gak main ke sini lho," ucap Karin dengan mengelus kepala Ifa

"Iya nih Mi, Ifa baru sibuk ngerjain tugas, mana bertumpuk-tumpuk lagi," jawab Ifa  sambil persalaman dengan Karin

"Owh yaudah masuk dulu Fa, kamu nginep kan disini?"tanya Karin yang mendapatkan anggukan dari Ifa.

"Iya Mi... Tadi Ifa udah izin ke Mama kok."

"Yaudah bagus kalau gitu, berarti mami gak perlu khawatir ninggalin Ara sendiri,"ucap Karin lega.

"Emangnya mami mau kemana?" Tanya Ifa, penasaran.

"Ini mami sama papi mau kondangan ke Malang. Rencananya sih tiga hari disana nanti malam berangkatnya. Kamu nginep di sini ya Fa, selama mami pergi. Nanti mami yang minta izin ke Mamamu." Tentu saja Ifa setuju dengan permintaan Karin. Memang moment seperti inilah yang paling dia tunggu.

"Asal stok cemilan di kulkas penuh mah bisa diatur," jawab Ifa.

"Dasar kamu ya Fa gak berubah sama sekali."

"Lho emangnya Ifa harus berubah jadi apa mi? kambing? Janganlah."

"Kayaknya itu lebih cocok buat kamu deh Fa. Hahahaha... Yaudah mami mau siapin makan malam dulu, kamu langsung ke kamar Ara mandi terus ke meja makan, ajakin Ara juga ya."

"Siap 86"

Ara dan Ifa telah selesai membersihkan diri mereka dan menjalankan ibadah. Setelah itu mereka langsung menuju ke meja makan sesuai dengan perintah kanjeng mami tadi.

"Ra nanti Papi sama Mami jadi ke Malang tiga hari. Kamu di rumah jaga diri baik baik. Nanti Ifa bakal nginep di sini selama kami pergi."

"Siap mami, nanti papi sama mami berangkat jam berapa?"

"Jam 21:00 Ra..." jawab Papi Indro

*****

Setelah menghantarkan papi dan mami, Ara sampai depan rumah. Ara langsung mengunci seluruh pintu dan jendela yang terbuka dan menuju ke kamar.

Kamar Ara bernuansa biru muda dan Kambing. Karena Ara sangan menyukai kambing dan warna biru muda.

"Eh, Fa gimana utang cerita lo ke gue."
tanya gue ke Ifa

"Iya gue lupa,"jawab Ifa

"Jadi tu cowok siapa Fa?"

"Namanya Reyhan dia itu...

_Aku beruntung mendapatkan hukuman pada hari itu, sebab dari hukuman itulah kita dipertemukan

KETOS VS PRADANA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang