I Cant Know!

50.4K 1.6K 134
                                    

Happy Reading.

@

"Nomor orang mati" kata-kata Taehyung Oppa masih terngiang jelas diingatanku. Aku memang ikut mencari tau siapa pemilik nomer itu tanpa Jimin ketahui. Aku tidak mau dia terlalu besar kepala karena aku ikut membantu.

"Sebenarnya dia terlihat sengaja. Lihat bagaimana dia mengirim foto ini" Aku mendesis saat melihat sebuah foto yang diperlihatkan Lisa Eonni padaku. Nomor yang sama dan mengirim sebuah foto yang berhasil membuatku hampir mencekik Jimin saat itu juga.

 Nomor yang sama dan mengirim sebuah foto yang berhasil membuatku hampir mencekik Jimin saat itu juga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Aku tau jika itu foto rekayasa dan aku tidak benar-benar percaya jika itu ada. Tapi apa masalahnya hingga nomor itu mengirimi aku foto. Jika diteliti sepertinya dia sudah dan banyak tentang aku dan Jimin. Kejutan luar biasa.

"Dia sepertinya ingin kau membenci Jimin" aku terkekeh mendengar ucapan Lisa Eonni. Benar juga, dari mulai sms di ponsel Jimin hingga foto ini. Pengirimnya berambisi membuat aku membenci Jimin. Wah sepertinya seru.

"Dia perempuan atau laki-laki ya?" Lisa Eonni menepuk pundakku dan berucap datar.

"Sepertinya perempuan. Dia ingin menyerang dengan titik sensitif. Jelas berbeda dengan laki-laki. Kau pasti ingat kejadian Brian kan? Dia tidak melakukan hal bodoh ini. Dia menghasut didepan dan bukan memprovokasi. Biasanya hanya perempuan yang suka memprovokasi"

"Aku tidak sabar melihat wajah jalang itu. Sepertinya akan menyenangkan jika aku bisa melihatnya dengan langsung. Atau aku langsung membunuh dia saja" cetusku riang.

"Jangan keluarkan dirimu yang sebenarnya. Darah pembunuh tidak boleh ditunjukkan sampai kapanpun" Aliya terkekeh dan mengusap perutnya.

"Apa Eonni lupa jika darah lebih kental dari pada air. Didalam tubuhku melekat sempurna darah pembunuh dan lamban laun itu akan ditunjukkan juga" cetusku dingin dan bangkit. Aku butuh udara segar.

"Harabojie akan marah Maknae" hanya lambaian tanganku yang membalas ucapan Lisa Eonni. Aku tidak terlalu peduli. Siapa juga yang mau mendengarkan kata-kata amatir dari Lalisa. Jelas bukan aku.

"I Don't Care"

*

"Hah?" Aku tersenyum melihat helaan nafas Jimin. Ditanganya penuh dengan kertas dan aku yakin jika itu berisi data-data yang akan membuatnya pusing. Oh kasihan sekali Jimin ku.

"Sialan" kakiku melangkah ringan ke arah Jimin. Dia benar-benar tertekan dan Saat seperti ini dia hanya butuh satuhal.

Sex.

Jelas Jimin butuh sex jika sudah seperti ini. Apa aku akan jadi medianya? Kita lihat seberapa hasil dari pekerjaannya.

"Jadi bagaimana?" Tanyaku bersendekap dada. Mengabaikan wajah lemahnya.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang