|4|

115 8 20
                                                  

Tanktop hitam dan celana jin di atas lutut menjadi pemandangan pertama Ben pagi ini. Meski Madison memiliki peralihan ke musim dingin dengan udara yang selalu jauh lebih ekstrim di setiap tahun, untuk saat ini saja Ben mendadak merasa kegerahan. Kesalahan besar, seharusnya Ben tidak pergi ke dapur setelah mandi tadi.

Rambut pirang itu tergerai, tapi tidak sukses menutupi bahu mulusnya yang terbuka. Kedua tangan Maggie terlihat cekatan meletakkan piring berisi piza di atas meja makan tanpa merasa terganggu dengan helai-helai rambutnya yang terkadang menutupi pandangan. Ya, piza untuk sarapan. Ben tahu kenapa kakak perempuannya berteman dengan Maggie, mereka sama-sama aneh.

“Pagi,” sapa Ben.

"Astaga!” Maggie terkejut dan tidak sadar membuat piring dalam genggamannya memelesat jatuh di atas meja.

“Hati-hati, Mag.”

Ben dengan cepat bermaksud menyelamatkan nasib piza yang melayang agar tak berakhir menyedihkan di atas lantai. Namun gagal total. Berita buruk lainnya, dia seketika menahan napas mendapati Maggie─yang begitu sialnya sangat seksi─berada sejajar dengan pandangannya. Sungguh, Ben adalah pria normal yang sepenuhnya sehat. Melihat tubuh berisi dan payudara besar yang mencolok dari balik kain tipis di depan matanya, hanya membuat sesak napas gara-gara memendam hasrat. Sial.

"Kau harus kehilangan yang satu ini," kata Ben yang buru-buru bangkit berdiri dan membuang makanan itu ke dalam tempat sampah.

Maggie mengangkat bahu, tidak peduli. "Aku masih punya lima potong ukuran medium."

Ben tersenyum. "Baiklah." Dia menduduki kursi bar, setelah menarik satu lainnya untuk Maggie duduk berhadapan dengannya. Entah mengapa, rasanya Ben seperti menyatu dengan ruang kecil itu. Desain minimalisnya seolah-olah cocok diisi oleh mereka berdua. Satu buah kompor, kitchen set dengan tiga pintu ruang penyimpanan, bak cuci piring ukuran kecil, plus satu mesin cuci di bawahnya.

"Kopi?" tawar Maggie yang membuyarkan lamunan singkat Ben. Pria itu akhirnya mengangguk setelah Maggie menunggu beberapa jenak. "Pagi ini apa rencanamu?"

Ben memberi tanda dengan tangannya, setelah merasa cangkirnya terisi cukup. "Aku akan ke tempat Leah," ucapnya sambil menyeruput cairan pekat nan hangat itu.

"Butuh tumpangan?"

Ben menggeleng. "Aku bisa naik taksi, tenang saja."

"Oke," balas Maggie pelan. Dia menyeruput kopinya sambil mengamati Ben yang banyak diam. Mungkin, masih terbawa suasana obrolan panjang mereka yang tidak begitu berjalan baik. Sedikit banyak, Maggie menyesali hal itu.

Ben melirik ke arahnya dan nano sekon selanjutnya Maggie mengalihkan pandangan.

"Maaf untuk yang semalam." Ucapan Ben menghapus keheningan yang sempat tercipta. "Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu."

Pernyataan itu, sukses membuat Maggie mengingat Ben yang beralih masuk ke kamar setelah mendengar kalimat terakhirnya semalam. Meninggalkannya termangu seorang diri dan kehilangan selera pada piza hangat yang datang tak lama kemudian.

Maggie meletakkan cangkir kopinya sebelum berucap, "Ah, itu bukan masalah. Kau tidak perlu khawatir." Jemarinya menyelipkan seberkas rambut ke balik telinga.

Diam-diam, Maggie mengamati Ben. Rambut hitamnya mengilat dan tersisir rapi, dibandingkan yang dia lihat di bar Hansol. Pria itu bahkan tidak perlu membuka kaus hitam polosnya hanya untuk memamerkan otot kencang di lengannya. Maggie membayangkan, kedua tangan kekar itu bisa menggendong tubuhnya dan menyentuh bagian-bagian yang menyenangkan. Mengapa adik sahabatnya terlalu menggoda pagi ini?

UNDENIABLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang