LWD - CHAPTER 01

2.2K 398 353
                                    

"Aku tahu ini salah. Tapi dia mengancamku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti semua kemauannya."
~Tiana Camelia

______________________________________


"Terima kasih," ucap Tiana dengan tulus. Gerald bersandar di samping mobilnya sambil bersedekap tangan. Mata cowok itu menyipit, sudut bibirnya nampak terangkat sebelah. Ada sedikit rasa ketertarikan saat dia melihat gadis di hadapannya itu. 

"Buat apa?" tanyanya datar.

Tiana menghembuskan nafas lelah, dia kemudian menatap mata Gerald dengan serius. "Terima kasih karena telah membantuku," jelas sang gadis dengan mata yang tidak berkedip selama lima detik.

Gerald menaikkan satu alisnya. Dia menegakkan tubuhnya dengan sedikit mencondongkan tubuh tingginya hingga wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajah Tiana.

Melihat hal itu, Tiana segera mengambil satu langkah ke belakang dengan wajah tegang. Dia tidak ingin ada seseorang yang melihat kedekatan mereka di tengah malam seperti ini. Tiana takut kalau terjadi kesalahpahaman yang akan menimbulkan fitnah nantinya.

"Gue nggak yakin dengan apa yang lo ucapkan," balas Gerald. Tiana membuang pandangannya ke kiri, mengalihkan manik matanya agar tidak bertubrukan dengan mata gelap pria di hadapannya ini. Satu tangannya meremas ujung jaket yang dikenakannya, menahan kegugupan karena kini sosok Gerald yang berdiri di hadapannya. 

Apakah ini mimpi? Jka memang benar, itu bukanlah sesuatu yang baik. Sebelumnya Tiana tidak pernah memimpikan hal ini dapat terjadi kepadanya. Bahkan menyebut nama pria itu saja dia tidak berani. Tiana tahu betul, bagaimana sosok pria tampan bak titisan Dewa Yunani itu bersikap. Sangat kasar dan brutal. Terlebih lagi suara baritonnya yang terdengar sangat menusuk di dalam batin. Mengerikan!

"Yah ... pokoknya begitu," cicit Tiana seadanya. Gerald merasa tersinggung mendengar tanggapan sang gadis. Itu bukan kalimat yang ingin didengarnya. Gerald menatap Tiana datar. Satu tangannya mencengkeram dagu dan mensejajarkan wajah Tiana agar lebih leluasa menatap bola mata sang gadis. Tiana bergeming, mengunci bibirnya dengan rapat. Matanya terpaksa menatap mata Gerald dengan perasaan takut. Pria di hadapannya ini sangat berbahaya. Dan Tiana harus mengingat fakta itu dengan baik.

Beberapa detik terdiam, Tiana pun terlonjak saat tiba-tiba Gerald memegang satu pundaknya dengan remasan kecil yang terasa menyakitkan.

Tiana meringis, dia memegang lengan Gerald yang bertengger di bahunya. "Ma-maksudku, kamu adalah pahlawan yang telah menyelamatkanku dari penjahat-penjahat itu." Ulang Tiana memuji dengan kalimat yang menunjukkan bahwa Gerald adalah pahlawan untuknya. Sebenarnya Tiana tidak ingin mengucapkan kalimat tersebut, namun sayangnya dia terpaksa. Karena kalau tidak, Gerald bisa saja melukai dirinya detik ini juga.

Gerald terkekeh, dia lantas mendekatkan wajahnya ke telinga kiri Tiana. Mengucapkan sebuah kalimat yang mampu membuat jantung gadis itu berdetak cepat. "Lebih tepatnya, gue menyelamatkan nyawa lo." Bisiknya dengan seringaian. Gerald menarik tubuhnya dari Tiana, kemudian beranjak memasuki mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

Tiana mematung di tempat. Dia tadinya sangat ketakutan mendengar nada bicara Gerald yang sangat serius. Gadis itu juga sempat khawatir kalau Gerald akan bertindak secara tak terduga. Tapi untunglah, apa yang ditakutkan olehnya tidak benar-benar terjadi. Setelah ini, Tiana harus mengucap syukur kepada Tuhan karena telah meloloskannya dari penjahat paling berbahaya yang pernah dia temui.

Mesin mobil Gerald berderu, detik berikutnya mobil itu melaju cepat meninggalkan Tiana yang hanya berdiam diri di trotoar jalan. Tidak ada niatan untuk secepatnya pergi dari sana, Tiana justru menatap kepergian mobil Gerald yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di telan kegelapan malam.

LOVE WITH DEVILTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang