Aku Penyendiri, Selamanya Begitu

22 4 0
                                        

Hari ini entah mengapa perasaan Diza sangat antusias sekali. Ia juga hari ini bangun lebih awal. Dan siapa sangka tujuannya bangun lebih awala adalah berkutat di dapur. Apa yang Diza lakukan di dapur sepagi ini?

"Aduh, ini diapain yah?" Tanya Diza kepada diri sendiri. Di depannya, sudah ada margarin, nasi, telor dan bahan bahan masakan lainnya.

"Kok jadi bingung sendiri sih? Duluan telor atau nasinya?"

"Lah Non Diza?"

"Astaga Bi Ijah? Ngagetin aja,"

"Yang harusnya kaget itu, ya Bi Ijah, Non. Non Diza ngapain subuh subuh gini di dapur? Sendirian lagi?" tanya Bi Ijah keheranan. Pasalnya, baru pertama kalinya Diza berada di dapur, dan di waktu subuh pula.

"Oh, Diza mau buat nasi goreng Bi. Tapi Diza bingung, masukin duluan yang mana. Nasihnya atau telornya dulu?"

"Lah kok tumben Non Diza mau buat nasi goreng? Biasanya juga Non makan masakan Bibi. Apa non kelaparan subuh subuh gini? Kenapa nggak bangunin Bi Ijah sih, Non?"

Diza memutar bola matanya malas. "Diza nggak laper kok Bi. Diza juga bukannya nggak mau makan masakan Bi Ijah. Diza Cuma pengen coba buat nasi goreng," jelas Diza sambil kembali memperhatikan dua benda masakan di tangannya.

Diza lalu menoleh ke arah Bi Ijah. "Jadi yang duluan di masukin apa dong Bi? Nasinya atau telornya?"

"Lah Non Diza belum tahu toh? Bibi kirain udah tahu goreng nasinya,"

"Bibi ngetawain aku yah?" Tebak Diza sambil memasang wajah cemberut.

"Nggak kok Non. Serius, Bibi nggak ngetawain,"

"Terus kenapa tadi aku liat Bibi senyum senyum sendiri?"

"Ya Bibi nggak nyangka aja, Non Diza bangun subuh subuh gini buat bikin nasi goreng,"

Iya juga yah perkataan Bi Ijah. Ngapain Diza bela belain bangun subuh subuh gini buat bikin nasi goreng? Kan biasanya Diza makan nasi goreng buatan Bi Ijah.

"Ya ampun Bi, Udah deh jangan ledekin Diza terus. Mending Bi Ijah kasih tahu Diza yang mana nih duluan, telor atau nasi?"

"Telor dulu non,"

"Okay,"

Diza memasukkan telor kedalam wajan yang berisi margarin cair. Dan langkah langkah selanjutnya ia lakukan ssuai dengan arahan dari Bi Ijah.

"Non," panggil Bi Ijah.

"Hmm? Kenapa Bi?"

"Ini untuk siapa sih, Non?"

"Ya ampun, Bi Ijah masih penasaran?"

"Siapa yang nggak penasaran Non, dari tadi Bibi tanyain tapi Non Diza nggak jawab sama sekali pertanyaan Bibi,"

"Udah deh dari pada bertanya terus, mending cobain dulu nasi goreng buatan Doza nih," kata Diza sambil menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Bi Ijah.

"Gimana?" tanya Diza degdegan. Ia takut nasi goreng buatannya tidk enak.

Bi Ijah tersenyum sambil mengangkat kedua jempolnya. "Enak Non,"

"Seriusan Bi?" tanya Diza dengan mata yang berbinar.

Bi Ijah hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Diza. "Cobain aja Non, kalau Bibi mah enak nih nasi gorengnya,"

Diza langsung mencobanya, dan yah memang rasanya tidak buruk. Asin dan gurihnya pas, tidak ada yang berlebih.

"Gimana, Non? Bibi benerkan?"

Monolog to MonokromWhere stories live. Discover now