What This!!

51.3K 1.5K 138
                                    

Happy Reading.

*

Kupeluk tubuh basah Jimin yang baru selesai mandi. Mengabaikan tangannya yang terus mengusap jemariku.  Entah kenapa aku ingin manja-manja dengan Jimin pagi ini.

"Apa sayang?" Kugelengkan kepalaku dan semakin mengeratkan pelukanku.

"Ji?"

"Hem?"

"Bagaimana jika kita liburan? Anggap bulan madu kedua kita. Aku ingin liburan" cetusku saat Jimin melepaskan tanganku. Berbalik dan menangkup wajahku.

"Bulan Madu?" Aku mengangguk antusias atas pertanyaannya. Akhir-akhir ini aku sering memimpikan waktu berdua dengan Jimin. Walaupun kami sudah tinggal berdua tetap saja aku ingin waktu lagi. Jimin sibuk juga bekerja dan kadang aku terabaikan. Jelas aku menuntut waktu Jimin lebih.

"Apa Aegi kita yang ingin?" Pertanyaan Jimin membuatku tersenyum lebar dan mengangguk. Mengusap perutku lembut.

"Dia ingin waktu dengan ayahnya" Jimin tersenyum dan mengecup keningku.

"Kita pergi lusa. Setelah memeriksakan keadaanmu dan keadaan Aegi kita. Aku akan menyiapkan kepergian kita!" Aku melompat ke pelukan Jimin saat dengan mudahnya dia menyetujui keinginanku.

"Kau yang terbaik" seruku semangat dan Jimin langsung merengkuh pinggangku.

"Apapun untuk istri tercinta ku. Dan ya kemana kita akan pergi?"

"New Zealand. Aku ingin mengunjungi Paman!" Jawabku singkat.

"Dan itu tidak akan jadi liburan tapi neraka bagiku jika kesana. Oh sayang kau suka sekali membawaku ketempat-tempat kelam seperti itu.  New Zealand? Yang benar saja. Aliya Park Jimin kau benar-benar ingin membunuh suamimu!" Aku terkikik geli dan mengabaikan protesnya Jimin.  Aku ingin mengunjungi Paman dan kufikir tidak salah. Lagi pula mereka sudah baikan dan menurutku kesana sebagai keponakan tidak akan jadi kuburan untuk Jimin.

"Ayolah.  Aku janji tidak akan ada perang jika kesana. Lagi pula aku sudah lama tidak bertemu dengan Paman dan aku ingin menyapanya" cetusku sambil melepaskan pelukan ini.

"Tidak ada keinginan tempat yang lain?" Kugelengkan kepalaku pelan dan kulihat Jimin langsung menyisir rambutnya dengan jari. Matanya terpejam dan aku tau dia kesal.  Lucu sekali Park Jimin.

"Jika saja istri ku bukan Aliya, sudah pasti akan berakhir di meja sidang" Aku tertawa terbahak bahak mendengar suara Jimin.  Yang benar saja.

"Bukankah berarti kau sangat mencintaiku?" Tanyaku sambil merengkuh perutnya.

"Dan seharusnya itu jadi bukti agar kau tidak bertanya terus seberapa cintanya aku padamu. Dan kau tidak akan pernah berfikir meninggalkan aku, karena aku sangat mencintaimu" aku mengangguk antusias dan menyenderkan kepalaku didada telanjang Jimin.

"Aku tidak akan meninggalkan mu meskipun aku kesakitan disampingmu Ji. Aku mencintaimu,  dan aku akan melakukan apapun untuk tetap berada disampingmu. Bahkan jika aku harus terluka atau tersakiti saat disampingmu. Aku akan mencintaimu. Aku janji!"

*

Mataku menelisik pada rintikan hujan yang terus saja turun membasahi bumi. Mengabaikan tetesan air yang merambat karena jendela kamar yang sengaja kubuka.  Jimin pergi tadi dan aku sendiri dirumah. Bagian depan tubuhku mulai basah karena rintikan hujan ini. Angin berhembus kencang dan udaranya benar-benar buruk.

"Park Jimin" kejadian dimana wanita yang menerima telfon dariku terus saja menghantui pikiranku.  Entah kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan itu walaupun Jimin mengatakan baik-baik saja. Aku punya perasaan yang lebih peka dibandingkan siapapun. Aku tidak akan tenang sampai semuanya terbuka jelas. Dan walaupun itu sebuah telfon biasa aku akan tetap mikirikan itu.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang