Bagian tak berjudul 7

58.2K 1.1K 718
                                                  


"itu lah yang terjadi kepadaku, aku hanya bertemu dengan pemuda misterius itu sekali dan mungkin untuk terakhir kalinya juga karena setelahnya pemuda itu lenyap secara misterius bahkan tuan Arjo tidak tahu kemana pemuda bernama Bayu Sasono itu pergi, ia hanya meninggalkan sepotong cincin berbatu merah" kata Sugik , "setelah dari tempat itu aku jadi mengenal siapa tuan Arjo Kuncoro dan betapa berkuasanya beliau sampai tak ada satupun orang yang berani menyentuhnya" Sugik tertawa namun cara Sugik  tertawa terlihat seperti ia tengah menertawakan dirinya sendiri "tuan Arjo memiliki 3 orang anak, dua anak lelaki dan satu anak perempuan" kata Sugik seraya menelusuri taman yang sudah di penuhi tanaman liar, Sri masih mendengarkan meski di dalam hati Sri, ia bertanya-tanya perihal informasi yang baru ia dengar, "Bayu Sasono" entah kenapa nama itu seakan-akan membuat dadanya terasa sakit padahal ia baru pertama kali mendengarnya, Sri tahu Bayu Sasono bukanlah nama sembarang orang. 

Di bawah gerimis saat hujan turun, Sri dan Sugik berjalan menapaki tanah yang berlumpur akibat hujan yang tengah turun "nama anak Sulung tuan Arjo adalah Pras Anum lalu anak kedua bernama Batra dan anak terakhir beliau adalah satu-satunya anak perempuan dari pernikahan tuan Arjo Kuncoro dan Lasmini Kuncoro namanya adalah Intan Kuncoro" dleg, bagai petir di siang bolong Sri sejenak menghentikan langkahnya, ia menatap Sugik yang juga menatap kearah dirinya tengah berdiri diam. ada yang aneh perihal nama-nama yang Sugik sebut namun nampaknya Sugik juga menyadari mimik wajah Sri yang kini berubah bingung.

"aku tahu Sri apa yang kau pikirkan, kau pasti bertanya perihal siapa Sabdo Kuncoro bukan? Kita belum sampai di sana karena kau harus tahu aku membawamu kesini dengan maksud tujuan yang sudah menjadi hutangku pada seseorang"

"seseorang" ulang Sri, Seperti yang di duga oleh Sri sebelumnya, Sugik tak memberikan informasi –informasi ini dengan gratis, wajah mereka sama-sama menegang terlebih tubuh Sugik tampak gemetar hebat namun tampaknya bukan karena suhu yang kini tiba-tiba turun, bukan juga karena langit yang mulai menggelap lantas apa yang membuat tubuh Sugik gemetar hebat seperti itu layaknya seseorang yang tengah menggigil karena sesuatu. Apakah karena ketakutan, Ketakutan macam apa yang membuat Sugik menunjukkan reaksi seperti itu.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, di belakang terlihat pemandangan bermacam-macam bangunan yang sudah lama tak terawat, gazebo-gazebo yang di buat dari bahan kayu tampak tak berpenghuni, gelap, riskan dan begitu mencekam, lain halnya dengan bangunan-bangunan lain yang sama tak terurusnya tempat ini benar-benar seperti layaknya pemakaman di mana Sri bisa mencium aroma kematian di setiap langkah kakinya ketika berjalan. "di sana Sri, di sana aku harus menunjukkan kepadamu bahwa  kita tidak dalam keadaaan baik -baik saja pasalnya cepat atau lambat kita pun akan menjadi korban dari tumbal -tumbal berikutnya" . 

Sugik menunjuk satu bangunan besar di balik pohon-pohon rindang yang di penuhi semak belukar saat secara tidak sengaja Sugik melihat seorang perempuan tengah berdiri di bawah rintik hujan, rambutnya pendek seperti di potong serampangan, ia mengenakan daster lusuh dengan kain longgar hingga menyentuh lumpur, ia tengah berdiri sendirian dengan sebilah pisau di tangannya, awalnya ia menatap Sugik sebelum beralih menatap Sri dengan tatapan mata penuh amarah.

Sri tercekat sama seperti Sugik, saat perempuan asing itu tiba-tiba berteriak dengan suara parau. ia berlari menuju tempat Sri tengah berdiri mematung, bertanya apa yang tengah terjadi dan siapa perempuan misterius itu saat Sri mendengarnya berbicara dengan suara paraunya "dadi koen sing wes mateni tuan Sabdo, koen pantes mati pisan koyok anak-anakku!!!!!" (jadi kau rupannya yang sudah membunuh tuan Sabdo, kau pantas mati juga seperti anak-anakku!!)

Terjadi pergulatan hebat antara perempuan misterius itu yang berteriak-teriak histeris seperti kesetanan, ia mendorong Sri berjibaku di atas lumpur sembari berusaha menancapkan pisau itu kearah wajah Sri, Sugik yang awalnya tertegun karena semua terjadi begitu cepat tanpa membuang waktu Sugik segera menarik tubuh perempuan misterius itu membawanya menjauh dari tempat Sri yang masih tersaruk di atas lumpur meski begitu perempuan misterius itu masih berteriak-teriak memberontak , meminta agar Sugik melepaskannya sehingga ia bisa membalaskan dendam yang Sri tidak mengerti maksudnya, kini sembari menatap Sri yang berusaha berdiri di atas lumpur, Sri melihat Sugik berteriak kepada perempuan itu.

"Hentikan!! Tolong Hentikan Lina!!" teriak Sugik, Sri terhenyak saat melihat Sugik rupanya mengenal siapa perempuan misterius itu. Setelah terjadi kekacauan yang tak pernah Sugik ketahui itu kini Sugik mencoba menenangkannya, Sugik menatap Sri dimana Sri melihat sesuatu di bola mata Sugik,  emosi yang sama seperti perempuan itu meskipun samar Sugik tak bisa menyembunyikannya dan Sri bisa melihatnya meski hanya setitik emosi itu.  "Maafkan isteriku Sri, dia dan aku baru saja kehilangan dua anak kami karena.." Sugik terdiam sejenak.

Sri merasa aneh, seperti ada yang salah di sini, entah tubuhnya atau apa Sri bisa merasakan suasana di tempat ini kini terasa semakin  mencekam seakan perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja.

"karena apa mas?" tanya Sri dengan wajah penasaran sementara wajah perempuan itu menunduk di dalam tangisan yang  suaranya terpecah oleh suara hujan yang tengah turun saat Sugik  tiba-tiba menyebut namanya. "Bokolono, ingon milik Kuncoro yang sekarang mengincar nyawa semua orang yang terlibat karena kematian majikannya tuan Sabdo yang adalah seorang Kuncoro terakhir, sekarang hanya tinggal menunggu giliran kapan dia datang dan menuntut nyawa kita"

"Bokolono"

**
Sri tak mengerti. "Bokolono" apakah ia makhluk yang sama seperti layaknya "Sengarturih dan Bonorogo" iblis hitam yang hampir merengut nyawanya.

Sri berjalan tepat di samping Sugik bersama dengan perempuan bernama Lina yang adalah isteri dari Sugik. banyak pertanyaan yang kini muncul di kepala Sri, salah satunya apakah semua rentetan kejadian sinting itu belum berakhir, Sri menoleh melirik mata Lina. ia tengah menatap Sri dengan tatapan penuh kebencian, meski Sugik sudah menceritakan semua tentang ingon milik Kuncoro Sri masih belum mengerti semuanya. namun setidaknya  Sri sudah tahu bahwa hidupnya masih jauh dari kata baik-baik saja. 

"Bokolono adalah wujud dari manusia setengah kambing, ia mengikuti keluarga Kuncoro bahkan sejak sebelum aku bekerja untuk keluarga ini, naif aku tak menyangka bila makhuk itu telah mengambil kedua anak kami"

Sri hanya diam ia tak tahu harus berkata apa sementara suasana terasa semakin canggung membuat Sri merasa semakin tersiksa dengan semua ini, apakah memang dirinya lah yang menjadi penyebab utama dari rentetan semua mata rantai ini. Sugik menyingkirkan angsel berkarat dengan sebuah linggis besi sebelum mendorong pintu yang lebih terlihat seperti pintu gudang tua, dengan satu dorongan kuat pintu terbuka di mana aroma kotoran binatang langsung tercium. 

tempat itu begitu gelap dengan rumput kering dan bebauan yang semakin lama semakin busuk. "tempat apa ini mas" tanya Sri, 

Sri mengawasi isi ruangan yang lebih terlihat seperti kandang kambing saat  Sri mendapati sesuatu yang aneh di atas dinding kayu gudang tua itu di mana tepat di hadapan Sri,  ia melihat sesuatu yang membuatnya tak dapat berkata apa-apa.

Sri terperanjat, mematung saat melihat apa yang ada di depannya tak dapat di percaya oleh logika di mana tepat di dinding kayu bangunan ini terlihat dua anak lelaki bertelanjang dada dengan seperca kain yang menutupi kemaluan tengah di gantung, tertempel di sudut dinding kayu dengan tangan dan kaki di pasak menggunakan pasak kayu runcing yang membuat dua anak lelaki itu seperti hiasan dalam dinding. Darah hitam keluar di antara luka membentuk siluet kengerian dari sayap makhluk hina dina. Tanpa sadar Sri berjalan perlahan mendekati 2 anak lelaki yang tergantung itu, memastikan apakah yang ia lihat benar-benar seperti yang ia pikirkan. wujud kepala anak itu seperti kepala seekor kambing yang di jahit di antara leher dan kepala begitu aneh dan mengerikan. Sri menatap Sugik dan Lina yang juga menatap ke arah dirinya sebelum Sugik mendekat dan mengangkat linggis sebelum menusukkannya tepat di tubuh Sri.

"itu memang anakku—kau yang sudah membuatnya menjadi seperti ini, maaf Sri, hutangku adalah nyawamu. Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri, lihatlah, siapa Atmojo yang sebenarnya, siapa Kuncoro dan bagaimana Janur ireng itu terjadi"

Sri terdiam, ia bingung dengan maksud ucapan Sugik sementara perlahan rasa nyeri di tubuh kini mulai menyebar dari perut hingga ujung rongga mulut Sri terkatup kesakitan sementara ia tersungkur jatuh, linggis yang menembus tubuh Sri benar-benar terasa menyakitkan, rasa ingin meronta namun tubuh Sri tak mampu bergerak apalagi menggelinjang, Sri hanya bisa merasakan bahwa ujung kakinya sudah mulai mati rasa dan perlahan semua itu akan menyebar menghantarkan Sri pada kematiannya. 

Sri memandang dua anak laki-laki dengan kepala kambing itu seperti tengah menatapnya, tersenyum kepadanya lalu perlahan-lahan semua mulai  menghitam saat—Sri mati ia mendengar Sabdo Kuncoro memanggil dirinya.

Apakah neraka sedang menunggunya.

JANUR IRENGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang