Rama Aditya Pratama

1.2K 300 886
                                    

[Rama POV]

Aku kembali bersekolah seperti biasanya di SMA Nusa Pratama, yang merupakan sekolah milik ayahku sendiri. Setelah satu bulan lamanya aku terbaring di rumah sakit, akhirnya kondisiku benar-benar pulih sekarang. Beruntung, aku tidak mengalami patah tulang atau masalah serius lainnya, aku hanya meninggalkan luka di sekitar pelipis dan kakiku. Hanya saja, keadaan ibuku jauh dari kata baik-baik saja. Ibuku masih koma akibat kecelakaan parah yang menimpa kami satu bulan yang lalu.

"HAI RAMA! SELAMAT SEKOLAH LAGI!"

"YA AMPUN RAMA! MAKIN CAKEP AJA!"

"DUH, CALON IMAM!"

"SUNGGUH NIKMAT TUHAN MANALAGI YANG KAMU DUSTAKAN?"

"INI MATAKU YANG RABUN, ATAU KAMU AJA YANG MAKIN CAKEP?!"

"HAI RAMA! EH GIRLS, KALO SAPAAN GUE DI BALES GUA TRAKTIR KALIAN SEPUASNYA DI KANTIN!"

"KAK, HARI INI AKU ULANG TAHUN! UCAPIN DONG!"

"GUE SUMPAHIN LU JADI PACAR GUEEE!"

"KAK FOLLBACK IG FANSBASE KITA DONG! NAMANYA @fansramaselamanya"

"WOY INISIAL "R" ITU FUCEK!!!"

Beberapa kali aku mengerjapan mata, raut mukaku datar dan sedikit bingung melihat perkumpulan kaum hawa di koridor yang begitu excited menyambut kedatanganku. Bahkan, di antara mereka membawa karton bertuliskan "welcome Rama", " i love you 3000", "we really Miss you" dan kalimat-kalimat menggelikan lainnya.

Aku melirik jam rolex yang berada di pergelangan tanganku, jam 06:20. Hei, Bukankah masih pagi?

Aku hanya membalas sambutan mereka dengan senyum tipis dan sedikit kikuk di sambut seantusias itu. Aku bergegas meninggalkan perkumpulan kaum hawa di koridor dan segera memasuki kelas.

***

Hari ini kelas free, guru-guru sedang rapat sampai istirahat jam pertama. Berita yang bagus untuk murid yang malas belajar dan pergi ke sekolah hanya untuk bersenang-senang. Tetapi itu tidak berlaku denganku, aku tidak menyukai keramaian.

Dan sekarang, suasana kelas sedang kacau, ada yang jungkir balik sampai salto, main tik-tok, menggosip, berfoto, main cacing, rebahan, dan ada yang memilih melamun saja. Pastinya aku termasuk dalam kelompok orang yang melamun saja. Cukup monoton bukan?

"Ram, mau nitip makanan nggak? Gue mau ngantin nih sama anak-anak," Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku kencang dari arah belakang.

Aku terkesiap dan langsung membalikkan badan. Ternyata Naufal, satu-satunya temen karibku sejak SD.

"Enggak laper fal,"jawabku datar.

"Yaudah deh, gue pergi dulu. Jangan kangen mamen," Ucap Naufal dramatis.

"Eh fal! bentar deh,"

"Nah kan! kangen kan lo? Ngaku lo? Gue tahu, gue ngangenin emang," Ucap Naufal dengan senyum tengilnya.

"Serius fal!"

"Iya, apa? gece ah! perut gue udah meronta ronta! Yang sabar ya cing," ucap Naufal dramatis sambil mengelus-ngelus perutnya.

"Kenapa sih orang-orang pada bilang inisial "R" itu fucek?" Tanyaku heran, aku mengingat salah satu cewek mengatakan inisial R itu fucek.

Satu detik sampai satu menit dia malah menatapku intens lalu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

"Lo abis sakit kudet ya. Jadi gini, inisial R itu fucek, apalagi Riski anak geng sebelah." ucap Naufal di sela tawanya.

"Hah? Apanya yang lucu bego!"

"Udahlah, gausah di pikirin fucek boy," ucap Naufal seraya mengangkat jari tengahnya. Lalu ia pergi ke kantin sambil cekikikan.

"Ck, kok gue bisa tahan temenan sama cowok absurd kek Naufal?" Batinku heran.

Aku membuka buku fisika semester satu yang kemarin ku pinjam di perpustakaan agar tidak bosan di tengah keramaian. Tidak lupa untuk memakai ear phone agar tidak terdengar kegaduhan yang luar biasa.

Aku memang terkenal pelit bicara, dingin, cuek, introvert. Aku tidak mempunyai banyak teman apalagi pacar, sebenarnya banyak yang mendekatiku untuk menjadi pacar atau hanya sekedar teman. Tetapi banyak dari mereka yang tidak tahan dengan sikapku. Mungkin jika aku tidak tampan dan kaya raya, tidak ada yang mau mendekatiku atau sekedar basa basi denganku.

"Hei, selamat siang jodoh!"

"Ih sombong banget sih lo!"

"RAMA!"

"Ih pantesan!"

Aku mengerutkan kening saat merasakan ada yang mencabut ear phone ku. Aku menoleh ke samping dan mendapati seorang cewek berambut sebahu dengan senyum ceria sedunia. Matanya berbinar menatapku, terlalu bersemangat! Wajahnya sedikit familiar , tetapi aku tidak tahu gadis berambut sebahu ini.

"Selamat siang, jodoh!" Sapanya sambil tersenyum lebar.

"Lo siapa?" Tanyaku heran.

"Hmm, lo lupa ya sama gueee?" Kata cewek itu agak kecewa, senyum ceria nya perlahan memudar.

Aku mendengus pelan. "Ck! Sok kenal lo!"

"Coba lo inget-inget wajah imut gue ini," Cewek itu menunjuk wajahnya sendiri.

"Pergi!" Usirku padanya, enak saja menggangguku saat sedang nyaman-nyamannya!

Cewek itu menghela napas kasar, cukup kesal dengan  tingkah Rama yang masih seperti dulu.

"Nama gue Nara Pramudita Nareswari. Panggil aja Nara, panggil sayang juga boleh kok. Umur gue 16 tahun. Jenis kelamin perempuan. Agama Islam. Berkewarganegaraan Indonesia, Hobi gue masak, Cita-cita gue jadi Psikolog dan impian gue jadi pacar lo!" Gadis itu menghela napasnya sebelum melanjutkan.
"Gue suka sama lo 5 tahun yang lalu."

Aku menatapnya tajam, pernyataan panjang cewek itu sangat tidak penting dan membuang waktu!

Kelas 11 IPA 1 heboh dengan pernyataan cinta seorang murid baru ini. Cowok yang sudah mengincar cewek ini kecewa, patah hati melihat pujaan hatinya menyatakan perasaannya kepada cowok most wanted seantero sekolah.

Dahiku berkerut, mencoba mengingat cewek gila yang baru saja menyatakan perasaannya kepadaku.

"Dia ..."

Ya! Aku ingat sekarang! Sangat ingat! Dia cewek gila yang pernah menembakku saat kelas 6 SD! Eh ... Bukankah cewek ini juga murid baru di sekolah dan sekelas denganku? Sepertinya iya! Demi seluruh warga bikini bottom, musibah apakah ini?!

"Palingan juga tuh murid baru di tolak! Terus nangis kayak yang kemarin-kemarin. Kasian deh." Bisik-bisik kaum hawa, mereka cukup prihatin dengan murid baru yang langsung berani menyatakan perasaannya.

"Cita-cita lo enggak mencerminkan perilaku lo! Lo yang butuh ke psikolog, lo cewek gila! Hus, jauh-jauh sana!" Tolakku mentah-mentah.

Bukannya menangis dan berlari menjauh seperti yang sudah terjadi, gadis yang bernama Nara tadi malah nyengir. "Gapapa, ini baru pemanasan, Rama."

"Minta nomor hape lo aja!" Ucap cewek itu enteng.

Aku bergidik ngeri di tempat. "Nggak! lo siapa gue?!"

"Calon pacar kamu dong!" Yakin gadis itu dengan cekikikan.

Nara menuliskan nomor teleponnya di belakang buku tulisku yang tergeletak di meja. "Save ya!"

Aku merobek nomor teleponnya dan membuangnya ke tempat sampah. "Ck, gadis gila!"

Nara menghela napas kasar, meratapi kedua kali nasib tak beruntungnya. Kini, Nara menatapku tajam dan mengacungkan telunjuknya tepat di bagian mukaku.

"RAMA ADITYA PRATAMA, GUE PASTIIN HATI LO YANG DINGIN INI BAKAL MENCAIR, CEPAT ATAU LAMBAT!"

____

Jangan lupa vote dan komen! Satu vote dan komen kalian berharga bagi author^^

Follow divagstn_

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang