Nara Pramudita Nareswari

2.6K 330 1.1K
                                    

[Nara POV]

Pagiku cerahku
Matahari bersinar
Ku gendong tas merahku di pundak.

Suara alarm dari ponsel terdengar nyaring di telinga, membuatku langsung terbangun dari tidur lelap.

Aku duduk bersandar di kepala ranjang, berusaha mengumpulkan nyawaku yang masih berpencar. Aku menguap lebar, semalam aku hanya tidur 3 jam. Aku mengalami insomnia karena ingin cepat-cepat besok tiba.

Aku mencari sendal pandaku di dekat ranjang. Setelah menemukan sendal kesayanganku itu, aku membersihkan tempat tidurku seraya bernyanyi lagu bangun tidur dengan semangat. Setelah kurasa sudah rapi, aku menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.

Setelah mandi, aku menuju meja rias. Aku perhatikan wajahku di depan cermin, Alis yang tebal alami, mata yang kecoklatan dengan bulu mata lentik, hidung yang mancung dan bibir yang mungil melengkapi kecantikanku.

Bibirku terangkat sempurna. "ASTAGFIRULLAH! CANTIK GUE NGGAK NYELO ANYING! GIGI HADID MAH KALAH SAING SAMA GUE!"

Napasku naik-turun setelah berteriak. "Oke, cukup segini dulu mengangumi kecantikan gue. Akan gue lanjut pulang sekolah!"

Aku hanya mengoleskan sunblock dan lip ice agar tidak terlihat pucat. Setelahnya, aku memasukan sedikit skincare limited edition ke dalam tas. Perawatan itu perlu di manapun dan kapanpun! Tidak lupa membawa tissu dan kapas, ini wajib!

Aku menuruni anak tangga untuk bersiap sarapan. "Selamat pagi ayah! Selamat pagi bik Sumi!"

Bik Sumi yang sedang membersihkan kaca menoleh."Selamat pagi juga, non."

Kenapa tidak mengucapkan selamat pagi pada ibu? Ibuku sudah meninggal saat aku lahir ke dunia. Aku hanya bisa mengamati wajahnya dari album keluargaku. Terkadang, aku berpikir telah menjadi anak durhaka karena menjadi penyebab ibu meninggal. Maka dari itu, Bik Sumi sudah aku anggap seperti ibu kandung sendiri.

"Selamat pagi juga sayang!" Sahut ayah.

Ayah mengernyit heran. "Tumben kamu baru keluar? Biasanya jam enam tepat udah siap-siap sarapan?"

Aku mendudukkan tubuh di kursi yang tersedia. "Kesiangan yah, lewat 5 menit dari biasanya," ucapku sedikit kesal.

"Ya sudah, cepat makan!"

Suasana hening setelahnya, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu.

Ayah menarik lenganku. "Ayo berangkat ke sekolah! Ayah yang antarkan ya."

"Eh bentar yah ..."

Aku menopang dagu, tatapanku tertuju pada jam dinding yang terus berputar ke kanan. Aku amati terus sampai jam menunjukkan tepat pukul 06:30. Saatnya berangkat ke sekolah!

***

Hari ini adalah hari pertamaku sebagai murid baru. Aku sangat antusias tinggal dan bersekolah di Bandung lagi, seperti ada sesuatu yang belum terselesaikan di kota ini. Entah apa, yang jelas terasa mengganjal.

"Nara, sudah sampai."

Suara lembut itu membuat lamunanku terbuyarkan. Aku mengerjap, menatap sekeliling dari kaca mobil yang menampilkan orang-orang berlalu-lalang dengan seragam putih dan bawahan hitam.

Ternyata Mobil BMW i8 putih milikku yang di kendarai oleh ayah sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Ayah memaksa mengantarku ke sekolah, katanya ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja di sekolah baru.

NARAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang