To Bagas
Terimakasih telah hadir di kehidupanku
Mengenalkanku berbagai dunia baru
Mengenalkanku pada satu hal yang dinamanakan berani
Membukakan mataku untuk melihat kenyataan yang kuanggap hayalan
Mengganti monologku, menjadi berbagai macam dialog
Dan terimakasih
Telah memberi warna dan tawa yang menjelma menjadi Bahagia
Diza
Untuk pertama kalinya, Diza menulis kata terimakasih kepada seseorang dalam buku hariannya. Untuk pertama kalinya, Diza merasa dunianya begitu indah. Dan untuk pertama kalinya, senyum yang dibentuk bibirnya itu, ia berikan kepada orang lain selain keluarganya. Dan itu semua untuk lelaki yang mengubah dunianya, membuatnya tertawa lepas. Itu semua untuk Bagas.
Diza tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Ia tak mampu mengartikan sengatan yang mucul dalam dirinya saat ia Bersama dengan Bagas. Ia takut mengetahui semua ini. Tapi ini terlalu indah untuk ia tidak mengerti sama sekali.
"Ya aku harus gimana, Lia?"
"Aku mana tahu Diza. Yang harus tahu jawabannya kamu harus ngapain itu adalah diri kamu sendiri, bukan orang lain," jawab Liah dengan nada yang pelan sambil memperhatikan layer laptopnya.
"Tapi aku bahkan tidak tahu dengan apa yang terjadi padauk sekarang. Yang ku tahu adalah setiap kali Bersama Bagas ada sesuatu yang berbeda dalam diri aku. Tapi aku tidak tahu apa itu, dan tak tahu kenapa itu bisa terjadi,"
Liah memalingkan fokusnya dari layer laptop lalu menatap Diza dengan tatapan yag jengah.
"Diz, dengerin aku. Kamu hanya perlu meyakinkan diri kamu bahwa apa yang kamu rasain itu Namanya suka. Kamu hanya perlu mengerti, bahwa perasaan yang kamu rasakan sekarang adalah hal yang lumrah. Dan kamu hanya perlu terima, bahwa kamu Sekaran jatuh cinta dengan Bagas," jelas Liah panjang lebar.
"Apa itu tidak berlebihan, Liah?"
"Berlebihan?"
"Iya berlebihan. Aku takut itu hanya perasaanku saja. aku takut semanya hanya pikiran semu saja. aku takut ini sebenarnya semuanya bukan apa apa,"
"Sekarang aku tanya deh sama kamu. Kalau ketemu Bagas, kamu merasa deg degan nggak?"
Diza mengangguk.
"Kalau berada di dekat Bagas, kamu merasa aman nggak?"
Diza menganggu lagi.
"Kalau dekat dengan Bagas, kamu Bahagia nggak?"
Dan lagi lagi Diza hanya bisa mengangguk mengiyakan itu semua.
"Dan kalau malam atau sendiri, kamu sering kepikiran Bagas nggak?"
"Iya," jawab Diza dengan pelan.
"Nah itu semua kamu rasain. Mau bukti apa lagi Diz? Kamu udah fix suka sama Bagas. Jadi berhenti yah selalu merasa, bahwa semua yang kamu rasain itu berlebihan. Itu bukan berlebihan Diza. Itu anugrah. Kamu sekaramg dipercayakan semesta untuk merasakan itu semua. Dan orang yang membuat kamu merasakan itu semua adalah Bagas. Semesta memilih dia Diz, untuk menemani kisah kamu kedepan,"
Mendengar penjelasan dari Liah, membuat Diza merasa memang betul. Semuanya memang betul. Perasaannya memang seperti itu saat berada di dekat Bagas. Tapi apa iya, ia harus merasakan semua itu sekarang? Apa iya, ia harus menjadikan Bagas sebagai cinta pertama? Dan ketika memang itu semua benar, apakah benar semesta memilih Bagas untuk menjadi partner kisah Diza untuk bagian ini? Apakah Bagas orang yang tepat? Apakah Bagas juga memiliki perasaan yang sama? Apakah Bagas juga merasakan hal yang sama ketika berada di dekat Diza? Oh semesta, Diza tak mau terlalu percaya diri. Diza tak mau terlalu jauh berpikir. Tapi Diza juga tak mampu menapik, bahwa semua itu sedang ada dalam kepala Diza. Semua hal itu sedang berkecamuk dalam pikirannya. Ah pada bagian ini, Diza mengaku semuanya begitu rumit. Bahkan lebih rumit dari menyusun kata kata menjadi kalimat lalu berujung menjelma bait yang berisikan syair syair puisi yang indah.
YOU ARE READING
Monolog to Monokrom
Teen FictionUntuk Bagas "Gas, bagiku kamu adalah ganjil yang menggenapkan. Banyak yang mencukupkan. Keras yang menguatkan. Dan tali yang mengeratkan. Terimakasih dari aku untuk kamu, karena telah mengubah duniaku dari monolog menjadi pandai berdialog. Dan terim...
