028

91 11 5
                                              

Tak terasa sebulan sudah terlewati. Kim Taehyung dan Park Jimin total sudah sembuh dari cedera yang mereka alami. Pun ketiganya tak pernah absen berlatih dari pagi sampe siang hari. Hari ini mereka berlatih muay thai. Jasmine yang sibuk memasok udara dalam dadanya melirik ke arah Jimin dan Taehyung yang nasibnya tak jauh berbeda. Kelelahan, kelaparan. Astaga, mereka harus istirahat sekarang atau ketiganya berakhir tumbang.

"Hari ini sampai sini saja. Aku bisa mati lama-lama," ujar Jasmine dengan peluh membasahi wajah pualamnya. Jimin tertawa dengan sisa sengalan lelah.

"Yang paling bersemangat latihan, kan, kau, Jasmine. Aku dan Taehyung sudah berkali-kali mengatakan mari kita berlibur sejenak. Kita di Eropa, nona! Mana bisa menyia-nyiakan kesempatan ini hanya untuk latihan sampai nyaris mati," dumel Jimin.

Taehyung menyahut dengan nada menggebu. Ia butuh jalan-jalan, butuh mengisi galeri dengan foto estetiknya, butuh mencicipi dessert Eropa yang enak-enak!

"Hah, baiklah. Mari berlibur sehari. Besok hari kalian, rencanakan semuanya sendiri. Aku mengikut saja," kalah Jasmine, membuat kedua sahabatnya bersorak senang. Makanan enak, jalan-jalan, dan cendera mata, kami datang!

"Taehyung, kita harus memaksimalkan liburan ini! Cepat cari destinasi liburan yang mantap!"

Jimin menyuruh Taehyung dengan nada antusias. Taehyung mengangguk-angguk selayaknya anak anjing patuh. Jasmine hanya tersenyum kecil melihat sahabatnya begitu bahagia. Oh, jangan sampai kedua cahaya dalam hidupnya meredup. Biarkan mereka begitu terus. Bahkan, jika itu harus mengorbankan cahaya miliknya sendiri, Jasmine sungguh tak apa.

"Kalian rencanakan saja berdua. Aku akan masuk dan mandi dahulu," ujar Jasmine sembari bangkit dan berlalu.

...

"Hei, bagaimana kalau kita melihat langit malam di Aviary sebagai penutup? Kau tahu, kan, Jasmine paling suka melihat bintang?"

Taehyung memberikan usulan. Dia hapal semua tentang Jasmine melebihi gadis itu. Jimin tersenyum lebar, bermaksud menggoda.

"Ey, tahu sekali ya kau, Kim? Cinta mati?"

Jimin menyenggol lengan kekar Taehyung sekali, berakhir diberi bogeman di dadanya yang basah karena keringat. "Mau mati, ha?" tukas Taehyung sebal.

Walaupun begitu, Jimin bisa lihat rona merah malu-malu di pipi Taehyung yang lebih tembam dari terakhir kali ia mengingat. Ah, seandainya mereka bisa seperti ini terus selamanya. Tak usah membalas dendam, keluar dari lingkaran setan bernama pembunuh bayaran, menghilang dari dunia dan membuat dunia mereka sendiri. Jimin sungguh ingin melakukan itu, tapi kedua tangannya tak cukup kuat. Ia lemah, Jimin pecundang.

Taehyung yang melihat Jimin melamun lantas memegang bahu pria itu. Jimin berkedip sekali sebelum tertawa lebar, terlihat tak apa-apa.

"Ada apa?"

"Tidak. Tak sadar saja aku melamun. Tak memikirkan apapun, kok," balas Jimin. Taehyung paham Jimin tak suka membagi beban pikirannya, tapi mereka bahkan saling berbagi pakaian dalam. Lalu, kenapa Jimin harus merahasiakan semua deritanya sendirian?

"Kau bisa membagi apapun padaku jika kau tak ingin membebani Jasmine. Kau mengerti aku dengan baik, kan? Rahasiamu itu hanya akan terkunci rapat di hatiku."

Jimin tersenyum. Kali ini lebih tulus. Ia merangkul bahu Taehyung, keduanya menyuguhkan senyum lebar. "Terima kasih sudah bersamaku sampai sekarang, Kim."

"Begitu juga aku, Park."[]

ɓɭɑck cɑt. [ ɱiɳ yѳѳɳgi ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang