"Akhirnya sampai juga," ucap Bagas dengan lega setelah 30 menit dalam bus.
"Kita udah sampai, Gas?" tanya Diza memastikan.
Bagas mengangguk sambil tersenyum manis membenarkan pertanyaan Diza.
Mereka akhirnya tutun dari bus, dengan Bagas yang menggandeng tangan Diza.
"Hati hati, Diz," ucap Bagas saat menunggu Diza turun dari pintu bus.
Diza turun dari bus, menatap lingkungan sekitar. Mereka berada di bawah jalan layiag yang ramai dengan kendaraan orang orang yang menjalani aktivitas di hari minggu. Ini kali pertama Diza menghabiskan waktu weekendnya di tempat yang seperti ini. Biasanya, Bunda dan Ayah selalu membawanya berjalan jalan ke Mall untuk mengisi libur di akhir pekan. Tapi kali ini sangat berbeda, ia berada di tempat yang polusi berada di mana mana, bukan hawa dingin AC yang dirasakan oleh tubuhnya, melainkan hawa panas dari matahari yang memancarkan sinarnya secara langsung. Bukan suara music yang merdu yang terdengar mengalun di telinganya, melainkan suara bising kendaraan yang kadang sudah tidak sabar ingin menerobos lampu merah ataupun kemacetan. Ya, memang dasar sifat manusia yang tak sabaran.
Diza dan Bagas berjalan menyusuri trotoar di bawah jalan layang. Sesekali Diza melihat anak anak yang memegang okulele yang sudah tua dan rapuh, talinya tinggal tiga. Ada juga yang memegang beberapa bungkus tissue dan surat kabar yang sudah siap dijajakan kepada para pengendara dikala lampu merah menyala. Hati Diza seakan teriris melihat keadaan itu, usia yang seharusnya mereka habiskan untuk bermain, malah meereka habiskan untuk bekerja keras demi mendapatkan uang untuk makan hari ini.
"Kak Bagas!!!" teriak anak anak dari dari seberang jalan.
Diza kaget mendengar nama Bagas dipanggil oleh anak anak yang berada di jalanan itu.
"Hai kalian. Sini sini kak Bagas bawa sesuatu nih," jawab Bagas dengan antusias sambil mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.
Anak anak itupun berlarian menghampiri mereka berdua. Rasa Bahagia pun terpancar nyata dari wajah anak anak itu. Hal itu membuat hati Diza yang tadi ngilu kian menjadi hangat. Senyuman itu sangat berarti bagi Diza.
"Sini semua, lihat nih Kak Bagas bawa apa?"
"Wah buku baru!!" jawab salah satu anak yang berada di gerobolan tersebut.
"Yey, akkhirnya punya bacaan baru lagi,"
"Buku yang kemarin kakak bagi, udah dibaca sampai selesai nggak?" tanya Bagas.
"Sudah dong kak!!" jawab anak anakitu serentak.
Hah? Buku kemarin? Berarti Bagas udah sering ke sini dong yah? Tanya Diza dalam hati. Tapi ia tetap diam memperhatikan interaksi Bagas dengan anak anak itu.
"Gimana ceritanya? Seru nggak?"
"Seru banget kak. Aura sampai pengen jadi Tingker Bell beneran,"
"Oh yah?"
"Nggak jadi kak!" jawab salah satu anak perempuan dengan wajah murung.
"Loh kok nggak jadi?"
"Ya soalnya Peter Pan selalu meninggalkan Tingker Bell. Aura nggak mau jadi kesepian seperti Tingkerbel kalau ditinggal Peterpan," jelasnya.
Hmm sepertinya gadis kecil itu adalah Aura yang dimaksud.
Bagas hanya mangut mangut. Yaudah nih, Kak Bagas bawa buku baru lagi, tapi janji yah kalian harus lebih giat lagi buat bacanya,"
"Siap kak!" jawab anak anak itu serentak.
"Eh kak, kakak yang dilekang itu siapa? Pacar Kak Bagas yah?"
YOU ARE READING
Monolog to Monokrom
Teen FictionUntuk Bagas "Gas, bagiku kamu adalah ganjil yang menggenapkan. Banyak yang mencukupkan. Keras yang menguatkan. Dan tali yang mengeratkan. Terimakasih dari aku untuk kamu, karena telah mengubah duniaku dari monolog menjadi pandai berdialog. Dan terim...
