027

119 20 2
                                              

Seminggu berlalu dengan cepat di sana. Jimin sudah melepas perban di lengannya, mulai berlatih tiap pagi dengan Jasmine di halaman belakang mansion yang mereka sewa. Taehyung sudah sadar dan biasanya hanya mengawasi latihan keras itu dari bangku taman sembari menikmati snack pagi dan teh hangat.

"Kalian belajar dengan cepat. Aku ingin segera sembuh dan bergabung," sedihnya sambil mengaduk cangkir teh yang tinggal setengah isinya. Jimin datang dengan handuk di bahunya, keringat menetes begitu banyak dari rambutnya yang disemir lagi kemarin—kali ini warna abu-abu.

Mungkin Taehyung bisa mencobanya kapan-kapan. Itu terlihat keren di wajah jelek Jimin.

"Makanya, jangan hanya duduk dan makan cantik di sana. Bergerak sedikit, Bangsat."

Jimin berpura-pura menendang kaki Taehyung, hampir saja Taehyung terjerembab dari duduknya karena terkejut. Jasmine yang datang terakhir hanya tertawa sambil mengambil satu biskuit di meja.

"Dokter bilang Taehyung bisa melepas kruknya dua minggu lagi. Dia bisa melakukan aktivitas ringan seperti pull-up atau angkat beban."

"Dari mananya itu terlihat ringan, Jasmine?" sahut Taehyung dengan senyum lebar, menginterogasi.

"Untuk pembunuh seperti kita, itu sudah hal paling ringan, Kim."

Jimin membantu Jasmine. Mereka saling tertawa saat Taehyung kalah argumen. Pemuda itu mengerut kesal. Nyaris menumpahkan emosi karena sebal dua orang di depannya suka sekali melawannya. Jasmine juga jarang sekali berada di pihaknya.

"Terserah kalian. Toh, aku tak punya teman untuk melawan. Aku selalu sendirian," dengusnya dengan raut turun.

Namun, satu pelukan hangat dari Jimin membuatnya tersenyum lagi. Kali ini senyum tulus karena sahabatnya. Jimin menyodorkan satu tangannya ke Jasmine, menyuruh gadis itu bergabung. Jasmine menggeleng sekali, senyum canggung muncul di ranumnya.

"Ayolah! Seperti kita tak pernah berpelukan bertiga saja," cela Jimin sembari tertawa di akhir kata. Taehyung mengangguk setuju. Jasmine tak bisa mengelak, berakhir ikut dalam dekapan hangat kedua sahabatnya.

"Mari kita hidup tenang setelah pertempuran ini."

Jasmine berbisik pelan. Jimin dan Taehyung mengangguk antusias. Mereka harus menang. Demi kebahagiaan ketiganya, demi dendam Jeon Jungkook. Walaupun dunia yang mereka tinggali bukan dunia indah penuh pelukan dan hangat rumah, ketiganya tahu bahwa memiliki satu sama lain dalam dunia gelap penuh bau darah adalah satu-satunya alasan untuk tetap waras.[]

ɓɭɑck cɑt. [ ɱiɳ yѳѳɳgi ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang