Kemarin perasaan Diza campur aduk. Ada penasaran, takut, terkejut, aman hingga Bahagia bercampur menjadi satu. Ia merasa menjelajahi sebuah akses yang baru saja ia temukan. Teka teki yang selalu ia hindari selama hidupnya ternyata perlahan ia bisa pecahkan sedikit sedikit.
Hari ini, petualangan pun kembali berlanjut. Kebetulan hari ini hari minggu jadi Diza dan BAgas berencana berpetualang seharian.
"Diz! Diza!" teriak Bunda dari luar pintu kamar Diza.
"Iya, Bund?"
"Ada teman kamu di bawah nyariin kamu. Katanya mau keluar bareng,"
Astaga, Bagas tepat waktu juga yah. Puul 9 pagi pas ia ada di rumah Diza. Sama seperti yang ia katakana kemarin sebelum Diza turun dari bus yang mereka tumpangi.
"Oh iya Bund. Tunggu sebentar. Diza siap siap dulu,"
Dan tinggal mengoleskan pelembab di bibirnya menjadi penutup persiapan Diza pagi ini. Ia sangat Bahagia, karena ini akan pertama kalinya ia dan Bagas jalan Bersama selain kemarin waktu pulang bareng.
"Ponsel udah, masker udah, headset udah, hmmm apa lagi yah?" tanya Diza kepada diri sendiri saat mengecek kembali barang bawaannya dalam tas.
Tiba tiba suara pintu kamar terdengar. Terlihat Bunda membuka pintu dan tersenyum kea rah Diza.
"Boleh Bunda masuk?"
"Silahkan Bunda. Masuk aja," jawab Diza sambal tersenyum.
"Anak Bunda cantic banget," puji Bunda.
"Bunda bisa aja,"
"Bunda serius sayang. Anak Bunda udah gede yah sekarang,"
Mendengar perkataan Bunda, Diza angsung mengerutkan kening.
"Maksud Bunda apa? Diza nggak ngerti,"
"Iya sayang. Anak Bunda udah gede. Udah bisa jalan sama teman laki lakinya,"
"Astaga Bunda, Bagas itu cuma teman Diza kok,"
Bunda hanya mangut mangut mendengar pernyataan Diza.
"Bagas hebat yah,"
"Hebat gimana maksud Bunda?"
"Ya dia hebat, bisa berteman sama anak Bunda yang dari dulu nggak punya teman deh kayaknya," jawab Bunda dengan sedikit nada bercanda.
"Bunda jangan gitu ih. Diza malu tahu,"
"Loh ngapain mesti malu sih sayang? Emang harusnya kamu berteman sama banyak orang,"
"Diza nggak biasa Bunda,"
"Diza pasti bisa. Bunda yakin. Mulai dari Bagas, Diza akan ketemu banyak orang lagi nantinya,"
"Kemarin kemarin juga ketemu banyak orang kan?"
"Ya itu beda sayang. Bunda mau kamu itu jadi punya banyak teman. Jangan hanya kenal sama Ayah, Bunda, Bi Ijah, dan Pak Karni aja,"
Diza menarik napas Panjang. "Diza coba yah Bunda. Doain Diza bisa,"
"Selalu sayang,"
"Yaudah Bunda, Diza berangkat dulu. Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Diza menuruni tangga menuju ruang tamu untuk menemui Bagas.
Terlihat Bagas sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Halo Bagas," sapa Diza dengan nada yang masih malu malu. Ya ia masih memiliki sedikit perasaan malu kepada Bagas.
"Hai. Udah siap berangkat?"
YOU ARE READING
Monolog to Monokrom
Teen FictionUntuk Bagas "Gas, bagiku kamu adalah ganjil yang menggenapkan. Banyak yang mencukupkan. Keras yang menguatkan. Dan tali yang mengeratkan. Terimakasih dari aku untuk kamu, karena telah mengubah duniaku dari monolog menjadi pandai berdialog. Dan terim...
