Circle Baru?

35 1 0
                                        

"Udah siap?" tanya Bagas kepada Diza yang baru saja keuar pintu kelas.

Diza hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan dari Bagas.

"Oke. Sekarang kita berangkat!"

Bagas langsung menggenggam pergelangan tangan Diza dengan penuh semangat. Tapi, langkah mereka terhenti sejenak. Bagas melihat kea rah Diza.

"Kenapa Diz?"

"Kita mau kemana?"

"Kita akan ke suatu tempat yang aku berharap bisa buat kamu senang,"

"Dimana?"

Bagas tersenyum "Nanti juga kamu tahu kok,"

Diza hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia masih bingung, Bagas akan membawanya kemana.

"Tenang Diz, aku nggak akan macam macam kok. Kamu bisa langsung lapor deh sama Pak Karni atau langsung teriak aja nanti kalau aku macam macam,"

"Bukan itu Gas,"

Bagas mengrnyit bingung "Terus apa dong Diz?"

"Tangan kamu," jawab Diza dengan malu malu sambal menunjuk ke arah tangan mereka yang bergandengan.

Bagas langsung reflex melepas tangan Diza. "Maaf yah. Kamu nggak suka yah Diz?"

Diza langsung menggeleng cepat merespon pertanyaan Bagas.

"Terus?"

"Aku malu Bagas," cicit Diza yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.

"Loh kok malu?" goda Bagas. Ia sangat suka melihat wajah Diza yang seperti ini. Sangat lucu dan gemas.

Diza terdiam. Iya juga sih, kenapa ia harus malu. Bagas Cuma pegang tangannya saja. tidak lebih dari itu.

"Udah yah nggak usah malu. Ini salah satu cara aku menjaga kamu Diz. Nggak apa apa kan?" tanya Bagas lembut.

Astaga kalimat apa yang barusan Diza dengar? Racunkah? Atau sengatan listrik? Kenapa tubuhnya seakan aneh mendengar kalimat seperti itu? Ini baru bagi Diza dan ini sudah pasti aneh. Oh semesta bantu Diza untuk menerjemahkan situasi ini. Situasi yang baru saja ia temukan semasa hidupnya.

***

"Kita nggak naik kendaraan pribadi ya Diz. Aku mau ngajak kamu naik kendaraan umum. Nggak apa apa kan?"

Diza menggeleng sambal tersenyum dengan tulus.

"Nah gadis baik," balas Bagas sambal tersenyum dan mengacak ngacak rambut Diza.

Ya ampun, getaran aneh itu hadir lagi dalam tubuh Diza. Semesta, tolong hentikan perlakuan manis Bagas kepadanya. Diza takut akan semakin aneh dengan ini semua.

Akhirnya mereka berada dalam bus kota yang dipenuhi oleh oleh orang orang yang menggunakannya untuk segera sampai pada tujuan. Awalnya, Diza tidak tahu harus berbuat apa di dalam bus kota. Ia tak pernah berada dalam lingkungan yang memuat volume manusia sebanyak ini. akan tetapi, kali ini ketakutannya selalu terkalahkan dengan rasa aman yang selalu dihadirkan oleh Bagas untuk dirinya. Kalimat "Nggak apa apa. Ada aku. Kamu tenang yah," adalah mantra yang paling ampuh untuk menenangkan hati Diza dari rasa takut menghadapi circle baru. Dan kata kata itu ia dengar hanya dari seorang Bagas.

Perjalanan pun terasa menyenangkan. Duduk berdampingan di atas bus kota sambil menatap keluar kaca bus kota itu. Melirik bagaimana pengguna jalan lainnya harus berusaha sabar untuk menunggu lampu merah berganti hijau. Turut merasakan kesederhanaan penumpang bus kota yang rela panas panasan dan berdesak desakan karena masing masing ingin tiba di tempat tujuan dengan tepat waktu. Dan ditambah lagi dengan lagu lagu indah yang dinyanyikan oleh penamen di atas bus kota itu , menambah pengalaman baru yang luar biasa dalam hidup Diza.

Semuanya terasa berbeda dibandingkan pertemuan pertamanya dengan Bagas. Meski pertemuan pertamanya saat berada di kendaraan umum seperti ini, tapi perasaannya tak senyaman ini. Ia betul betul merasakan dunia yang berbeda dari dunia yang selama ini ia jalani.

Monolog to MonokromWhere stories live. Discover now