Kita Boleh Berteman?

34 3 0
                                        

Pagi seperti biasanya, Diza menjalankan rutinitasnya dengan berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Karni. Belajar seperti biasa dan istrahat serta makan siang di tempat favoritnya, Taman belakang sekolah.

Diza menikmati setiap moment disiang hari ini. Dengan hembusan lembut sang angin, aroma segar dari oksigen yang disalurkan pohon, dan ditambah dengan alunan lagu Creep dari Radiohead adalah komposisi paling tepat.

Di saat Diza sedang menikmati waktu dan dunianya sendiri dengan memejamkan mata, merasakan setiap makna lagu yang ia dengarkan sambil sesekali menggerakkan tangannya untuk mengikuti irama musik dan bernyanyi "nanana" untuk mengimbangi lagu tersebut. Tanpa sadar ternyata tepat di sampingnya ada orang yang sedari tadi memperhatikan wajah damainya dalam keadaan diam dan tersenyum tipis. Mata itu tak mampu berpaling untuk menatap yang lain, karena apa yang berada di hadapannya adalah pemandangan langka dan berharga untuk ia nikmati.

"Cantik," ucap seseorang dengan pelan.

Diza membuka mata secara perlahan. Ia terhalang dengan silaunya matahari yang tepat berada di matanya.

Baru ia tersadar dan kaget saat melihat ada Bagas di dekatnya. Iya lelaki yang memperhatika dirinya sedari tadi adalah Bagas.

Dengan gerakan yang sangat cepat Diza langsung melepas earphone yang terpasang di telinganya dan berusaha menjauh dari jangkauan Bagas.

"Hi," sapa BAgas dengan senyum termanis yang ia punya.

Diza hanya tersenyum kikuk membalas sapaan itu.

"Aku ganggu yah?"

Diza menggeleng menanggapi pertanyaan itu.

"Kalau gitu, aku boleh dong gabung bareng kamu di sini?"

Ya ampun apa yang dilakukan Diza tadi? Kenapa ia harus menjerumuskan dirinya sendiri ke hal hal yang ia tidak suka. Ah, untuk kesekian kalinya semesta mempermainkan harinya dengan bertemu Bagas kembali.

"Diz, boleh nggak? Atau nggak boleh yah? Aku bakal pergi kok kalau kamu merasa terganggu aku di sini,"

"Hah? Nggak kok,"

Apa yang barusan Diza katakan? Nggak apa apa? Astaga kenapa mulut ini tiba tiba berkata seperti itu? Refleksnya sedang tidak bisa dikendalikan.

"Oookay kalau gitu. Aku akan di sini sama kamu," balas Bagas dengan senyum manis itu lagi.

"Mampus," ucap Diza dalam hati merutuki diri sendiri.

"Btw kamu tadi dengar lagu apa Diz?"

"Creep,"

"Wow. Radiohead?"

"Ii..iya. Kamu tahu?"

"Astaga yaiyalah Diz. Siapa yang nggak tahu band itu. Apalagi Creep salah satu lagu yang paling popular,"

Diza tersenyum mendengar jawaban dari Bagas. Ia menyetujui pendapat Bagas kali ini. Lagu yang ia dengarkan tadi memang cukup popular. Tapi bukan karena kepopulerannya yang ia lihat, tapi lagu ini mampu memberinya ketenangan dan sesuai dengan dunianya.

"Selain Creep, apalagi yang kamu suka dari lagu lagu Radiohead?"

"No Suprises?"

"Ah yeah. Aku juga tahu lagu itu!" jawab Bagas dengan antusias.

"Oh ya?"

"I'll take a quiet life, a handshake of carbon monoxide, no alarms and no suprises,"

"No alarms and no suprises"

"Silent silence," ucap keduanya mengakhiri lagu No Suprises.

Keduanya tersenyum. Ternyata mereka memiliki kesamaan dalam hal menyukai lagu.

"Selain kamu berbakat jadi penulis, kamu juga berbakat loh Diz jadi penyanyi,"

"Kamu berlebihan Gas,"

"Loh kok berlebihan sih Diz? Aku ini serius.kamu mampu untuk keduanya," ucap Bagas meyakinkan.

"Nggak mungkinlah Gas. Nggak mungkin aku jadi penulis dan penyanyi seperti yang kamu bilang tadi,"

"Diz, ini kalimat terpanjang pertama yang kamu ucapin ke aku,"

Mendengar hal itu, Diza langsung terdiam. Ia tidak menyadari bahwa refleksnya mampu berbicara sebanyak itu kepada Bagas.

"Diz, kita boleh berteman?"

Pertanyaan macam apa ini? Kenapa Bagas mau berteman dengan orang seperti dirinya? Orang yang hanya bisa bermonolog dan menolak semua bentuk dialog terhadap orang asing.

"Diza?"

"Hah? Iya?"

"Boleh?"

Monolog to MonokromWhere stories live. Discover now