Bayu Sasono

64.7K 1.1K 520
                                                  


Sugik terkesiap terbangun dari tidurnya, tubuhnya di penuhi peluh keringat dengan ekspresi wajah ketakutan, belum pernah Sugik melihat hal sesinting ini suatu kengerian yang bahkan tak dapat ia bayangkan sebelumnya. Sugik menatap ke sekeliling, ia terbangun di atas sebuah matras di dalam ruangan yang di bangun dari bambu dan kayu, penerangan di dalam ruangan itu pun hanya sebatas lampu pijar dengan gerakan hati-hati Sugik mencoba melangkah turun saat dari jauh terlihat seorang pemuda tengah menatap dirinya dari jauh, pemuda itu lalu mendekat ke tempat Sugik, membantunya agar dirinya bisa duduk.

"nang ndi aku mas?" (di mana saya ini mas?) tanya Sugik. ia menatap Anak muda di hadapannya dengan wajah bingung,  menanggapi pertanyaan Sugik pemuda itu hanya bisa tersenyuman sebelum akhirnya ia mengatakan dengan suara  lembut. "njenengan ada di rumah saya, sebelumnya njenengan sempat tak sadarkan diri selama 3 hari 3 malam dan selama itu pula njenengan terus mengigau berteriak-teriak minta tolong. Maaf bila saya lancang tapi apa yang njenengan lihat sampai berteriak seperti itu?"

Sugik menunduk membuang muka dari pandangan pemuda misterius yang ada di hadapannya dengan perasaan sedikit  ragu Sugik menimbang keputusan, apakah ia harus menceritakan apa yang ia lihat di dalam mimpinya kepada pemuda yang bahkan tak ia ketahui siapa namanya namun melihat ekspresi pemuda itu yang tampak bersahabat, Sugik memutuskan untuk bercerita kepadanya meski sebelumnya Sugik bertanya terlebih dahulu perihal siapa yang ada di hadapannya, "ngapunten, saya boleh tahu nama njenengan?"

pemuda itu mengangguk lalu berucap dengan nada suara lembut. "saya Bayu Sasono".

**

selama mendengarkan cerita Sugik, pemuda bernama Bayu itu hanya mengangguk sesekali terkadang ia menggeleng seakan tak percaya, namun sejujurnya Sugik bisa menilai ia adalah pendengar yang baik terlihat bagaimana ia menanggapi cerita Sugik karena apa yang Sugik lihat di dalam mimpi bukanlah sesuatu hal yang biasa karena  itu semua adalah bentuk dari sesuatu yang konon tengah mengikat Sugik namun Bayu menahan diri, ia tak bisa menceritakan semuan kepada Sugik karena jika ia melakukan hal tersebut sama saja dia telah memutus benang "Kaulo" dengan keluarga besar yang saat ini sudah menjamin kehidupannya, salah satu dari keluarga yang bahkan Bayu harus hormati, keluarga Kuncoro.

Bayu memberikan segelas jamu yang ia racik sendiri sebelum meminumkannya kepada Sugik, benar kata Bayu; jamu yang ia minum setidaknya mampu menenangkan dirinya. Kini Sugik bisa lebih tenang dibandingkan sebelumnya ia sekarang jauh lebih bisa menerima semua yang ia lihat salah satu yang kini akan terus menghantui dirinya. "mas Sugik" kata Bayu, "sebentar lagi yang jemput jenengan akan datang saya hanya bisa membantu sampai sini berikutnya semua keputusan ada di tangan mas Sugik" kata Bayu sebelum meninggalkan ruangan tempat Sugik duduk.

Menceritakan semua yang Sugik lihat pada Bayu tentang mimpinya adalah keputusan di luar nalar karena ia belum lama mengenal Bayu dan tentu saja mengandung resiko yang besar namun sekali lagi  melihat ekspresi wajah Bayu yang tampak tenang saat mendengarkan Sugik bercerita membuat dirinya yakin bahwa pemuda yang ada di depannya itu tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang mimpi yang Sugik lihat, mimpi di mana Sugik menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah tragedi di mana terjadi peristiwa sinting di dalam kediaman Kuncoro dimana terbujur gelimangan mayat manusia yang ke'semuanya tewas dalam kondisi mata melotot dengan di akhiri sosok Arjo Kuncoro menggorok leher sendiri, memenggal kepalanya sebelum menari-nari di taman rumah tepat di depan mata Sugik.

Suara klakson Mobil terdengar, Sugik melangkah turun dari dipan lalu mengintip kearah jendela di sana ia melihat sebuah mobil hitam yang ia kenal berhenti tepat di depan rumah, salah satu mobil milik keluarga Kuncoro yang biasa di kemudikan oleh mas Sugeng, Sugik terdiam memandanginya, tak beberapa lama terlihat mas Sugeng melangkah turun sebelum membukakan pintu tempat di mana Sugik bisa melihat tuan Arjo Kuncoro melangkah keluar.

JANUR IRENGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang