Izinkan aku selingkuh mas

939 70 19
                                    


Pagi yang cerah dengan langit tampak biru sempurna, dengan putik-putik awan yang mengotori, namun lukisan Tuhan itu menjadi semakin indah dilihat. Di ujung timur matahari mulai naik. Aku menyapu peluh di kening, leher dan memperbaiki kuncir rambut sekenanya. Ibu rumah tangga begitu statusku.

Adakah yang mau mendengarku bercerita? Aku bertanya pada kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga mawarku. Oh sudah dua hari tidak kusiram. Aku langsung mengambil air dan menyiram bunga-bungaku satu persatu. Mereka terlihat jauh lebih segar sekarang. Mungkin sebagai wujud terimakasih mereka berusaha menghiburku. Untuk tidak layu sepagi ini.

" Mas boleh aku bekerja lagi? Anak-anak sudah besar, aku bosan."

" Tidak." Sebelum aku mengeluarkan sebuah alasan dia sudah memotong. Dia berharap kali ini aku akan diam seribu bahasa. Tapi sepertinya energiku berdebat sepagi ini masih cukup banyak. Hingga aku bicara lagi.

" Mas."

" Tidak." Suaranya jauh lebih tegas daripada tadi. " Bukahkah kamu masih bisa menulis di rumah." Aku tidak punya jawaban dari kata-kata suamiku.

Aku ibu rumah tangga, aku seorang penulis freelance. Dulu kami bertemu juga di sebuah stasiun tv ternama. Aku penulis naskah acara, sementara dia seorang pembawa acara berita. Aku jatuh cinta. Kami menikah. Singkat kata, aku harus mengakhiri semua kerja kerasku untuk tinggal dirumah saat kehamilan anak pertama.

Aku menghembuskan nafas berat. Setelah selesai menikmati bunga-bunga mawar aku masuk ke rumah. Melihat pekerjaan yang setiap hari kulakukan, tanpa jeda. Sering kali tumpukan pakaian tak pernah berhenti dari keranjang pakaian. Setiap hari penghuni rumah berganti pakaian. Anak-anakku berjumlah tiga orang. Dua di SMP dan satu kelas tiga SD. Semuanya laki-laki, tahu sendiri bukan bagaimana aktivitas anak laki-laki. Sekolah, latihan klub. Anak sulungku Andika masuk klub sepakbola, papanya memang melihat bakat Andika dan hendak menjadikannya pemain profesional. Kalau Atila lebih menyukai bola basket dan bersepeda, dua olahraga itu menjadi nyawanya. Ia belum menentukan mana yang akan ia pilih sebagai tujuan profesionalnya. Berbeda dengan kedua kakaknya putra bungsuku Anan lebih menyukai dunia seni, ia belajar piano dan biola. Aku tidak menikmati permainannya. Tidak tahu menurun dari siapa minatnya itu. Aku ratu sekaligus wanita tercantik di rumah ini.

Tapi, aku lelah menjadi ibu rumah tangga. Aku ingin bekerja. Keluar dari rumah ini, membahagiakan diriku, menunjukan prestasiku pada dunia. Bekerja dengan banyak orang, berjibaku dengan deadline. Aku tersentak saat mendengar suara pintu di tutup.

" Mas Haryo, kenapa sudah pulang." Langsung bangun dan mendekatinya.

" Sudah jam berapa ini, seharusnya kau menjemput anak-anak dan mengantar mereka ke klub, tapi karena kau tidak bisa dihubungi akhirnya aku yang harus melakukannya. Ku telfon tidak diangkat-angkat, ternyata kamu malah tidur-tiduran di rumah."

Aku merasa sangat bersalah, aku minta maaf dengan tulus. Mas Haryo mendengus lantas berbalik ke kamar. Keluar sudah berganti pakaian. Lalu pergi begitu saja. Ia pasti sangat kesal, pekerjaanya sebagai pemimpin redaksi di stasiun tv terkemuka membuatnya sangat sibuk. Apalagi isu nasional memang sedang memanas. Ini harus mengurus sesuatu yang memang pekerjaanku. Karena tidak berani menelpon akhirnya aku sms Mas Haryo untuk meminta maaf. Setelah menunggu balasan tak kunjung datang aku yakin ia tak akan membalasnya. Lalu akupun menelfon ketiga anakku. Meminta maaf pada mereka. Andika dan Atila mampu memahamiku namun tidak dengan sibungsu, ia masih uring-uringan sebelum menutup telfon. Ia begitu mirip dengan mas Haryo.

Oh aku lelah menjadi ibu rumah tangga seperti ini.

Secepatnya kebereskan pekerjaan rumahku yang belum selesai. Menyetrika adalah pekerjaan terakhir, setelah memasukan semua pakaian ke dalam lemari. Aku menyambar handuk dan menuju kamar mandi. Guyuran air kekepalaku sedikit membuyarkan kepenatan.

Kumpulan Cerita KehidupanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang