Halte Bus

112 7 1
                                        

Pagi itu suasana begitu cerah. Hal tersebut sama dengan perasaan gadis kecil yang sedang berjalan menuju sekolah. Ia adalah gadis kecil berparas cantik, tapi pendiam. Ia tak mampu berinteraksi dengan orang lain terutama dengan orang asing. Setiap hari ia menghabiskan waktu membaca dan menulis. Ia menyukai buku buku yang bergenre comedy tapi tak jarang ia juga membaca buku bernuansa teenlit. Dalam hal menulis, ia suka menulis apa saja yang dilaluinya dalam sehari ia beraktivitas. Baik disekolah, diperjalanan pulang maupun yang dialaminya di rumah. Baginya, menulis adalah satu satunya media untuk bercerita tanpa harus bercengkrama dengan orang lain terlebih dahulu.

Hari ini merupakan pengalaman pertama ia berangkat sekolah sendirian. Sebelum sebelumnya selalu ada ayah yang mengantar. Atau kalua bukan sang ayah pasti Pak Karni sang supir yang setia menemaninya kemanapun ia ingin pergi. Tapi hari ini keduanya berhalangan menjalankan tugas untuk mengantar gadis kecil. Ayah sedang ada meeting pagi makanya ia berangkat sangat pagi bahkan sebelum gadis kecil bangun. Dan Pak Karni hari ini punya kabar gembira bahwa istrinya sedang melahirkan anak kedua mereka, maka tak mungkinlah Pak Karni melewatkan hal berharga itu.

Si gadis kecil tak keberatan jika harus berangkat sendiri ke sekolah pagi ini. Justru dalam pikirannya sangat bagus, karena ia bisa menemukan hal hal baru untuk ia ceritakan dalam buku harian yang sejak kelas 6 SD telah ia bawa dalam saku atau tasnya. Buku itu sudah berumur kurang lebih 5 tahun lamanya. Dan di dalam buku itu, sudah banyak tercipta cerita cerita yang ia telah alami selama hidupnya.

Pagi yang terlihat cerah tadi seketika berubah menjadi gemuruh yang berisikan petir yang menakutkan. Awan yang putih suci tiba tiba menjelma bagai asap hitam yang berkumpul untuk bergumul membentuk genangan air yang sebentar lagi akan menciptakan hujan. Si gadis kecil melangkahkan kakinya dengan irama yang lebih cepat dari sebelumnya. Ia tak ingin seragam yang sudah di setrika rapih oleh Bi Ina menjadi kusut hanya gara gara tertimpa hujan yang tak kenal waktu jika ingin menuntaskan rindu kepada semesta.

Namun, harapan hanyalah tinggal harapan. Langkah kaki yang dipercepat tadi kalah dengan rintikan hujan yang kian waktu kian deras. Si gadis kecil terpaksa menghentikan langkahnya di sebuah Halte yang sudah tak jauh dari lokasi Sekolah. Tapi jika dipaksakan untuk tetap melangkah, hujan akan menbasahinya. Keadaan pada Halte tersebut ramai. Keterangan ini mengartikan Si gadis kecil tak sendiri. Atau tidak sedang berdua dengan ayah atau Pak Karni di dalam mobil. Iya, ia merasa asing dengan banyaknya orang disekitarnya. Ia merasa tak nyaman dengan suasana yang baru petama kali ia dapatkan. Ia merasa berbeda dari sekeliling yang tak pernah menganggap dirinya teman. Tuhan, apa yang harus dilakukan oleh gadis kecil yang tak mempersiapkan apa apa untuk menghadapi semua ini. Hujan membuatnya terjebak, hujan membuatnya berada dalam fase dan situasi sulit yang tak bisa ia gambarkan sebagai kebahagiaan seperti perkiraan awalnya.

"Hai, kamu tidak apa apa?"

Si gadis kecil tak menjawab sama sekali. Ia hanya berusaha memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya. Hujan deras membuatnya kedinginan karena lupa membawa jaket.

"Hai, kamu kedinginan?"

Gadis kecil akhirnya melihat ke arah suara itu berasal. Ia tak pernah menduga akan menghadapi situasi seperti ini dalam hidupnya. Diajak bercengkrama dengan orang asing yang baru pertama kali ia temui. Ah, semesta sedang mempermainkannya sekarang. Baru saja ia kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang tiba tiba saja berubah. Sekarang malah ditambah harus bercengkrama dengan orang asing yang ia takt ahu sama sekali.

Ia hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan lelaki yang sedang bertanya kepadanya. Berharap dengan gelengan kepala itu bisa menjadi jawaban yang mengakhiri percakapan tiba tiba ini.

"Tapi kenapa kamu sepertinya menggigil? Tanganmu gemetaran," ucap lelaki itu lagi dengan nada entah takut atau khawatir.

Ah sial, ternyata percakapan ini masih saja berlanjut. Apa yang harus diakukan gadis kecil? Mengabaikan saja? takutnya lelaki itu malah bertanya terus. Menjawabnya? Tapi ia tak tahu kata katanya harus dirangkai seperti apa. Gadis kecil bigung.

"Hei apa kamu dengar suara saya?" tanya lelaki itu lagi.

Gadis kecil akhirnya memilih pergi dan meninggalkan lelaki itu dengan pertanyaannya. Kali ini semesta menolongnya karena tiba tiba saja hujan berhenti sehingga ia bisa melanjutkan perjalanan. Tapi, tanpa ia sangka, buku hariannya jatuh saat ia beranjak dari Halte. Dan lelaki itulah yang menemukan bukunya. Dan di sampul buku itu tertera nama Si gadis kecil.

"Ohh, Namanya Diza Andira Atmaja,"

Monolog to MonokromWhere stories live. Discover now