Abdi

63.9K 1.1K 257
                                                  

"sakjane getih ambek banyu iku podo sing mbedakno mek getih iku luweh kentel, tapi sak kentel-kentel'e getih iku gak onok opo-opo'ne nek wes berurusan ambek regane awak" (sebenarnya darah dengan air itu sama saja, yang membedakannya hanyalah darah lebih kental namun sekental-kentalnya darah tak akan ada artinya bila sudah berurusan dengan harga diri seseorang).

Sugik menuntun Sri meninggalkan bangku kosong, membawanya berjalan menelusuri lantai kayu di sepanjang ruangan megah tersebut. sesekali Sri mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati setiap darah yang tergenang di sepanjang ruangan ini, nyaris Sri bisa melihat bercak—seakan darah itu di muntahkan. Entah apa yang terjadi di masa lampau namun bila melihat semua ini pastilah pristiwa itu bukan peristiwa sembarangan. Suara dari langkah kaki Sugik menggema, menyebar ke segala penjuru, kegelapan pekat tak mengendurkan warna dari darah yang merah kehitaman kering menutup plitur dari lantai kayu yang berubah menjadi warna bernoda hitam pekat.

"koyok jek wingi, kedadean iku nang ngarepku" (seperti baru kemarin, kejadian itu terjadi di depan mataku).

Sri masih mengikuti langkah kaki Sugik, sementara suara-dari mulut sugik terdengar lantang di telinganya. "Sri aku ngerti awakmu jek bingung lapo isok tak gowo nang kene" (Sri, aku mengerti pasti kamu masih bingung kenapa bisa ku bawa ke tempat ini)

Sri hanya diam saja, namun yang ia tahu Sugik mengatakan itu tepat di depan sebuah pintu besar. Sugik menoleh menatap mata Sri, ia sempat tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya. "soale ben aku nyawang awakmu sing tak delok iku den Sabdo—" (karena setiap kali aku melihatmu rasanya seperti aku melihat tuan Sabdo di hadapanku).

Sri tak mengerti apa maksud kalimat Sugik, namun ini pertama kalinya ia melihat Sugik menampilkan ekspresi bersedih di depan wajahnya. "paling perasaanku tok, ra usah di pikirno Sri" (atau mungkin hanya perasaanku saja, sudahlah gak usah terlalu di pikirkan) Sugik kembali menatap pintu, ia melepaskan satu persatu engsel kayu yang mengganjalnya, meletakkannya di atas lantai lalu mendorong perlahan pintu sembari berujar lirih, "nang kene kabeh di mulai" (dari sini semuanya di mulai).

***

Sugik melangkah keluar dari pintu, di hadapannya terbentang sebuah latar taman yang begitu luas dengan banyak pohon beringin yang tumbuh di sekelilingnya. Tempat itu begitu teduh, sangat cocok bagi mereka yang ingin mencari ketenangan. Hamparan hijau dan lebatnya bunga-bungaan membuat siapapun akan kerasan bila ingin menghabiskan waktu sepanjang hari duduk dengan pemandangan gazebo di beberapa titik.

"gik. Mrino, tambah ngelamun" (gik. kesini. kok malah ngelamun) panggil seorang lelaki berambut cepak dengan kemeja batik, Sugik segera berlari kecil mendekatinya. "koen iku lapo, opo sing mok delok iku" (kamu itu ngapain, apa yang kamu lihat itu).

Sugik tersenyum malu-malu mendengarnya. "apik mas kebun'e" (bagus mas taman'nya)

Lelaki berambut cepak itu tertawa, "yo mesti ta'lah sing nduwe ae guk wong sembarangan" (ya iya'lah, yang punya aja bukan orang sembarangan). Sugik mengangguk mengerti apa yang di maksud saudaranya.

"mas Sugeng kerasan tah kerjo nang kene" (mas Sugeng memang kerasan kerja di sini) tanya Sugik, ia menatap kakaknya yang memang sudah lama mengabdikan dirinya terlebih dahulu kepada keluarga besar, salah satu dari orang paling kaya yang pernah di temui di wilayah ini.

"yo ngunu gik, kerjo yo kerjo, di omong'ke kerasan yo kerasan. Enak kok, sing penting ojok lali ambek posisine awak dewe.. yo" (ya begitu'lah gik, kerja ya kerja, di bilang kerasan ya kerasan, enak kok, yang penting sadar diri saja di mana posisi kita). Sugik mengangguk. Ia mengerti maksud ucapan kakaknya, menyusuri langkah di taman tiba-tiba mata Sugik melihat sebuah latar cukup besar di antara tumbuh-tumbuhan di sekelilingnya, ada 4 perempuan tengah menari di tengah-tanah lapang itu. Mereka berlenggak-lenggok begitu memukau memainkan setiap lekuk gerakan tubuhnya membius siapapun yang menatapnya, di belakangnya beberapa orang tengah memainkan gamelan dengan tabuhan berirama yang menyenangkan, sorot mata mereka semua tampak begitu bahagia menikmati dendangan dari suara gendang dan gending yang beradu menjadi satu di saat itulah Sugik melirik seorang lelaki paruh baya dengan busana hitam yang di buat dari kulit binatang dengan bawahan bermotif lurik hitam ia terlihat begitu berbeda di bandingkan dengan yang lain. Blankon di atas kepalanya menambah wibawa bahwa ia bukanlah orang sembarangan. Ia begitu tenang duduk di bawah atap gazebo, di sampingnya ada 2 perempuan yang berdiri mendampinginya.

Sugik penasaran. Siapa lelaki itu, apakah dia yang di ceritakan oleh mas Sugeng, dia yang menjadi kepala keluarga di kediaman megah ini, rupanya tak butuh lama bagi Sugik untuk tahu siapa gerangan lelaki yang benar-benar memiliki sesuatu yang membuatnya benar-benar terlihat berbeda karena setelahnya mas Sugeng menarik lengan Sugik sebelum mengatakan semua.

"niku Arjo Kuncoro, tiang kepala keluarga nang kediaman iki. Awakmu tak gowo mrene mergo sak iki, tuan Arjo butuh sopir. Awakmu sanggup gik nek ketemu ambek tiang sak niki" (itu adalah Arjo Kuncoro, orang yang sekarang mengepalai sebagai pemilik kediaman besar ini. Kamu ku bawa kemari karena saat ini tuan Arjo sedang membutuhkan tenaga seorang supir. Kamu siap apa tidak bila bertemu dengan beliau sekarang juga) tanpa membuang waktu, Sugik mengangguk.

Tak lama, perempuan yang ada di samping Arjo mendekati Sugeng ia berbisik sembari menatap Sugik, "dek. Tuan Arjo kepingin ketemu. Sak iki temonono" (dek tuan Arjo ingin bertemu, sekarang temui beliau)

Sugik mengikuti perempuan itu di mana tuan Arjo masih duduk menikmati seni tari di hadapannya. Sugik merasakan sesuatu yang aneh ketika mendekati lelaki itu, entah kenapa ada sesuatu yang membuat Sugik merasa begitu segan saat berada di dekatnya.

"sopo jenengmu le?" (siapa namamu nak?) itu adalah pertama kali Sugik mendengar suara tuan Arjo untuk pertama kalinya. Suaranya begitu berat, menegaskan bahwa lelaki di hadapannya ini benar-benar bukan orang sembarangan.

"Sugik, tuan"

Arjo menatap Sugik, ia mengamati wajahnya sebelum berdiri dan berlalu meninggalkannya. Sugik terdiam tak mengerti kenapa ia di tinggalkan begitu saja di sini, bingung dengan apa yang akan terjadi selanjutnya Sugik menoleh menatap Sugeng yang memberikan gesture agar Sugik mengikutinya, tahu maksud saudaranya Sugik langsung berlalu mengejar tuan Arjo yang sudah berada di ujung taman.

Langkah kaki tuan Arjo saat berjalan begitu cepat hingga Sugik harus setengah hati berlari kecil untuk bisa menyusulnya, tak mengerti kemana Sugik akan di bawa tiba-tiba terdengar suara lembu di telinganya.

Lorong itu di penuhi dengan suara-suara binatang peternak, di samping kanan-kiri juga banyak di temukan rumput kering menegaskan bahwa tempat ini adalah tempat di mana semua binatang peternak milik keluarga Kuncoro berada. Setelah melangkah dalam diam, tuan Arjo membuka satu pintu di mana di dalamnya ia melihat banyak sekali kerumunan kambing berbulu hitam tengah mengunyah rumput, aroma kandang begitu memuakkan namun Sugik mencoba menahan semua itu. Ia masih tak mengerti kenapa tuan Arjo membawanya ke tempat seperti ini.

Tak beberapa lama, tuan Arjo menarik satu kambing hitam menuntunnya keluar dari dalam kandang berhenti tepat di hadapan Sugik.

"le, aku kepingin takon ambek awakmu. Opo awakmu siap kerjo ambek aku?" (nak, aku ingin bertanya sama kamu. Apakah kamu yakin siap bekerja untukku?)

Sugik masih tak mengerti maksud tuan Arjo Kuncoro namun perasaan aneh yang janggal tiba-tiba terasa di dalam hati Sugik, ada ketakutan saat memandang wajah tuan Arjo begitupula dengan sosok kambing yang ada di hadapannya.

"nggih tuan. Kulo siap" (baik tuan. Saya siap)

Tuan Arjo tersenyum sebelum menyalami Sugik namun ada yang salah, saat ia menjabat tangan Sugik ia menyentuh lengan hingga penghujung siku seakan meraba tangan Sugik sebelum menariknya kembali. Tuan Arjo lalu mengambil sebuah parang yang di letakkan di sela tembok gubuk, mendekati Sugik dan kambing hitam itu. Sugik menatapnya di mana mata tuan Arjo tampak menyelidik mengamati Sugik sembari mengelus bulu kambing hitam itu saat keheningan ganjil itu memenuhi tempat itu dengan cepat saat itu juga tuan Arjo Kuncoro menghunuskan parang ke leher kambing hitam itu, menggoroknya dengan cepat sebelum menahan darah yang keluar dari leher kambing itu dengan kedua tangannya. Ia mengadah darah kental itu sebelum menatap Sugik. "bukak'en lambemu le" (buka mulutmu nak) bagai seseorang terbius Sugik membuka mulutnya, darah kental di tangan tuan Arjo Kuncoro menelusup masuk melalui tenggorokan Sugik. Aroma menyengat yang tak pernah Sugik rasakan tiba-tiba seperti membakar tubuhnya, Sugik terduduk menatap tuan Arjo Kuncoro yang sekarang mengelus kepala Sugik sembari membaca sesuatu seperti mantra yang Sugik tidak mengerti sama sekali.

Kepala Sugik seperti di hantam dengan gadah hingga membuat Sugik semakin goyah. Sugik merintih memuntahkan isi perutnya tapi tak mengerti kenapa tiba-tiba tubuhnya menjadi seperti ini. Hanya tatapan wajah tuan Arjo Kuncoro yang tersenyum menatapnya adalah pemandangan terakhir sebelum semuanya mendadak menjadi gelap gulita.

JANUR IRENGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang