Prolog

29.1K 2.7K 152
                                                  

Jangan lupa vote dan komen. Kalo suka masukin ke reading list kalian yaw. Kalo suka banget banget, promoin ke temen kalen dwong. Ihiy. Kalau nggak suka? Harus suka! #maksa. Makasih kesayangan😚😚

==

Kenta menarik tubuhku begitu pintu kamar motel bernomor 110 itu terkunci. Memeluk tubuhku erat dan menyerang bibirku. Aku masih bisa merasakan cocktail yang ia pesan tadi di bibirnya. Manis berpadu dengan pahit yang memabukkan. Ciumannya tergesa-gesa namun nikmat. Jujur saja, aku tak pernah menyangka Kenta bisa mencium dengan baik. Gerakan bibirnya pada mulutku benar-benar di atas ekspektasi. Begitu bibirnya berpindah ke leher, lututku lemas. Ia cepat tanggap. Mendorongku mundur agar tubuhku menempel pada pintu, menjagaku agar tidak menggelosor ke lantai.

Aku mulai bergerak kembali. Menyentuh Kenta di mana saja. Hal yang dulu tak pernah melintas sedetik pun di kepalaku. Melakukan hal-hal yang begitu intim bersama dengan rekan kerjaku. Mungkin malam ini, aku yang memulai, tapi pusatnya berasal dari Kenta. Seratus persen salahnya. Sejak dia mulai memanjangkan rambutnya yang bergelombang, tak berniat memotong rapi rambutnya. Puncaknya saat Raven dan Malika terbang ke Italia, Kenta muncul dengan model rambut top knot. Hanya dengan perubahan kecil itu, dia mampu membuatku berantakan.

Ia menarik gaun spandek yang malam ini membalut ketat tubuhku. menyisakan sepasang pakaian dalam sebagai penutup terakhir. Kenta diam di tempatnya, tidak mengambil langkah mendekat padaku. Terpaku dengan ekspresi lucu sembari mencengkeram gaunku di tangan kirinya.

"Jangan jatuh cinta pas liat tubuh telanjang gue, Ta," peringatku. "Kita cuman dalam kebutuhan. Friends With Benefit." Wajah Kenta merah padam, napasnya memburu. Aku berani taruhan saat ini ia tidak fokus pada peringatanku. Sepasang matanya sedari tadi hanya fokus pada dua payudaraku yang tertutup bra keluaran awal tahun dari La senza.

Mendadak ia melipat gaunku, melintasi ruangan untuk menjauh dariku. "Mau buat perjanjiannya?" tanyanya. Menuju meja yang terdapat buku catatan kecil. Buku memo gratis berstempel nama motel yang kami tempati sekarang.

Aku sempat terkesima. Tidak menyangka aktifitas bercumbu kami berhenti seketika. "Lo nggak marah 'kan tentang ide FWB ini? Lagian, pihak cowok selalu yang beruntung loh, Ta."

Kenta duduk di ranjang, membiarkan kemejanya yang tak terkancing tetap di sana. Level 'hot'-nya sudah naik berkali lipat sejak sepuluh menit lalu. "Gimana ceritanya yang beruntung pihak cowok? Samalah. Jelas sama-sama enak." Ia bergeser begitu aku duduk di sebelahnya. "Lo mau rule-nya gimana?"

Dari posisi duduk di samping Kenta, aku akhirnya berbaring miring. Menghadapkan tubuhku padanya. Kepala tertopang telapak tangan. Tak mau kalah hot dari Kenta. "Gue tahu banyak aturan FWB-an yang baik dan benar," jelasku membuat Kenta menaikkan sepasang alis tebalnya ketika ia menoleh padaku, "beneran! Nih ya, menurut Jenny Jusuf ada banyak aturannya buat FWB-an, tapi gue ambil yang penting-penting saja." Aku diam, mengingat-ingat isi story penulis naskah film itu. "Satu," ucapku beberapa detik kemudian, "nggak boleh jatuh cinta; dua, nggak usah ngomongin masa depan; tiga, nggak usah bicara hal-hal romantis. Intinya, ewe aman. Fuck Without Baper." Selesai berpidato pada Kenta, untuk sepersekian detik aku bisa melihat kerutan aneh diwajahnya.

Mendadak ia memasang wajah serius, di detik selanjutnya. "Aduh," dia menepuk jidat. "Gue baperan, Ra. Yang sekarang ini aja udah deg-degan, gimana kalo ngamar buat kedua kalinya? Bisa bucin gue sama lo."

"Perasaan tanggung jawab sendiri-sendiri. Tambahin sekalian." Aku memelototinya, sama sekali tidak ingin terlibat sesuatu yang serius dengan Kenta. Ia tersenyum tipis, mulai menulis peraturan tambahan yang barusan kuucap. "Lo nggak nambahin?" tanyaku begitu ia selesai menulis.

FWB (Spinoff Trapped With the Boss)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang