Prolog

204 11 4
                                                  

Ehemm...

Sejujurnya, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Tapi aku tidak cukup berani untuk memulai barang hanya satu kata. Kalimat pembuka selalu menjadi momok yang membuatku akhirnya mundur. Aku benci mengatakannya, tapi banyak orang yang memang hanya menilai sesuatu dari kalimat pertamanya saja, kan? Dunia ini tak semudah yang kukira. Ada banyak pelik yang menyembunyikan jutaan keindahan.

Katanya hidup itu pilihan.
Tapi kadang kita tidak benar-benar memilih.

Seseorang pernah berkata padaku.

"Jangan khawatir. Setiap cerita akan menemukan pembacanya sendiri."

Makanya aku putuskan untuk tetap menceritakannya. Pelan-pelan.

Sekian lama aku mengembara, mencari arah mata angin, menggantungkan harapan pada langit melalui nyala bintang-bintangnya yang indah menerangi kegelapan. Akhirnya aku sadar. Bahwa rencana semesta selalu lebih indah kalau kita sendiri menerima. Bahwa bukan waktu yang mengobati rasa sakit, tapi diri sendiri yang berangsur lekat dengan penerimaan.

Biasanya, manusia akan membuat cerita atau menceritakan hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang dialaminya dalam rangka kabur dari kisah nyata yang tak sesuai keinginan. Membaca cerita bisa jadi sebuah hiburan. Tapi terkadang ketika menutup sebuah kisah, manusia tersadar bahwa ada hidup yang harus terus berlanjut.

Kisahku mungkin tidak bisa menghiburmu. Aku hanya ingin mengajakmu berani menerima hidup sebagaimana mestinya. Tak perlu muluk-muluk karena aku sendiri bukan manusia sempurna.

Aku bukanlah penutur cerita yang baik. Tapi seseorang mengajariku bahwa menjadi baik saja sudah cukup, tanpa perlu tertekan harus menjadi yang terbaik. Kadang memang yang dikira terbaik, belum cukup baik, kan?

"Karena seburuk-buruknya kamu, di mataku kamu yang paling baik, Al."

Hari dimana aku menceritakan kisahku adalah hari dimana aku mengenal arti penerimaan.

Dan hari dimana aku mengenal penerimaan, adalah hari dimana aku sembuh dari sakitnya sebuah ketetapan.

- Aluna Nuansa Senja
di pesisir pantai

Nuansa SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang