025

128 20 4
                                                  

Jasmine terus berpikir tentang kemungkinan baik yang akan terjadi jika ia melakukan ini. Di genggamannya ada tiga buah tiket pesawat yang ia minta belikan dari orang terpercaya markas.

Jasmine baru saja meminta cuti selama 2 bulan sebelum rapat akbar pada Bos Besar. Ia rasa mereka bertiga harus menjauh dulu dari Min Yoongi dan seisi dunia, mengumpulkan dan mengembangkan kekuatan agar bisa membunuh si brengsek itu.

Hari ini ia sudah boleh pulang, tapi tidak dengan dua kawannya. Ini sudah tiga hari sejak mereka dirawat. Jasmine sudah menghubungi salah satu rumah sakit kawannya di London sana.

Gadis itu berencana menyembunyikan ketiganya di sana. Sembuh dan menjadi lebih kuat lagi. Identitas mereka akan sulit dilacak jika berada di Eropa. Pun Yoongi takkan tahu pergerakan mereka karena ia hanya punya teman yang tersebar di Amerika.

"Bagaimana transfer pasien Park Jimin dan Kim Taehyung? Apakah sudah beres?" tanya Jasmine pada salah satu pegawai di meja informasi. Pegawai itu mengangguk sopan, menyuruh Jasmine untuk menaiki mobil yang akan membawa ketiganya ke London sore ini.

Jasmine tak suka mengulur waktu. Ia akan membereskan pakaian dan barang mereka dengan mudah. Yang terpenting adalah mereka harus pergi secepatnya sebelum Yoongi menyadari ini.

"Apa ini tidak terlalu cepat, Jasmine? Taehyung akan marah saat tahu kita meninggalkan Korea."

"Lebih cepat lebih baik, Jim. Aku yang akan mengurus Taehyung. Tenang saja."

Ketiganya menaiki mobil menuju bandara. Omong-omong, Jimin sudah bisa bergerak tanpa selang infus sekarang. Tapi, harus mendapat rawat jalan dan diperiksa tiap seminggu. Keduanya diam mengamati Taehyung yang masih terpejam. Jimin menepuk bahu Jasmine, menguatkan.

"Tidak apa-apa. Semuanya akan berlalu dan kita bisa hidup nyaman bertiga."

Jasmine tersenyum kecil mendengarnya. Beralih melarikan diri ke pelukan Jimin yang hangat.

"Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku hanya memiliki kalian berdua di dunia ini."

"Tidak akan pernah. Bahkan, jika malaikat pencabut nyawa memaksa kami, aku akan mencekiknya duluan."

Jasmine terkekeh, memukul dada Jimin gemas. Selera humor Jimin aneh, tapi ia lebih aneh sebab menyukai lelucon pria itu.

"Dua bulan ini akan menjadi bulan dimana kita akan lebih kuat. Aku harap keparat itu benar-benar mati."

"Tentu. Satu lawan tiga. Mana mungkin kita kalah."

"Iya.."

Balasan Jasmine terdengar samar, tak yakin.

".. tentu kita akan menang."[]

ɓɭɑck cɑt. [ ɱiɳ yѳѳɳgi ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang