01 - mulai

40 0 0
                                                  

Empat minggu yang lalu. Malam Anugerah Gim Indonesia.

"Anda memiliki perusahaan yang memproduksi hubus. Anda juga memiliki perusahaan penyedia server eXP. Apakah kedepannya Anda akan mendirikan game developer? Rekan-rekan Anda yang juga hadir malam ini sudah mulai lebih dulu terjun ke bisnis ini."

Mahrus Sediaman tertawa. Memasuki karpet merah tamu undangan, ia dicegat seorang wanita yang ternyata reporter stasiun TV ekonomi dan bisnis. Lelaki 64 tahun itu kemudian menjawab pertanyaan sang reporter, "Kalau bicara kemungkinan, sudah pasti ada. Saya pertama kali berbisnis dengan mendirikan perusahaan marketplace online. Siapa sangka, sekarang saya juga punya restoran dan kedua perusahaan itu."

"Dan 20 perusahaan lainnya."

Mahrus Sediaman kembali tertawa.

"Jadi, kapan Anda akan mengikuti jejak rekan-rekan bisnis Anda? Merintis game developer."

"Ya, nanti."

"Game apa yang akan Anda buat?"

"Saya suka petualangan. Jadi, kalau ingin membuat game, mungkin game petualangan."

"Seperti Storm Kingdom atau Kolony?"

"Travellillo. Saya suka konsep Travellillo."

"Bukankah Travellillo itu game jalan-jalan? Travellillo bukan game petualangan."

Mahrus Sediaman, untuk kesekian kali, tertawa.

***

Dua minggu kemudian. SMA Swasta Duta Buana. Kelas XI IPS 3. Jam istirahat pertama.

"Mid, aku suntuk...!"

Hamid menoleh. Dina melabuhkan dagu di meja. Kedua lengannya berselonjor lurus ke depan.

"Suntuk kenapa?" Hamid kemudian menarik beberapa buku dari dalam tas. Jam istirahat sebentar lagi usai.

"Belajar melulu. Aku bosan...!" Lalu, Dina meniup-niup poni. Rambutnya yang sebahu dibiarkan selalu tergerai. Kadang-kadang, meluruh sampai menutupi separuh wajah.

Hamid menggeleng-geleng. "Kita ini, kan, pelajar," ucapnya mengingatkan. "Pekerjaan pelajar, ya, belajar. Sebagai pelajar teladan, ya, harus belajar."

"Ah, bising!" Dina menutup telinga. "Aku mau liburan!"

Hamid batal meletakkan buku terakhir di atas meja. Ia pakai punggung buku itu untuk menggetok ubun-ubun Dina. Serta-merta, gadis itu menoleh dengan mata membelalak.

"Setiap minggu kita sudah libur dua hari, Din. Hari Sabtu dan hari Minggu. Baru juga kemarin hari Minggu. Nggak cukup?"

"Bukan liburan seperti itu maksudku!" Dina coba menyita buku dari tangan Hamid. Hamid sigap menepis-nepis. Karena usahanya tak berhasil, Dina mendengus jengkel. Bibirnya maju beberapa senti. Ia lalu meletakkan tas yang sedari tadi di pangkuannya ke atas meja. "Dasar nggak pengertian!"

"Kamu memangnya mau liburan seperti apa?" Ujung mata Hamid membidik bibir Dina. Bibir itu membulat-bulat merapal omelan yang tak terdengar. Kata teman-teman sekelas, bibir Dina termasuk bibir primadona. Bentuknya imut-imut jabang bayi. Tambah manis bak mangga manalagi dengan polesan bibir merah jambu. Nyaris Hamid tersedak ketika ingat perumpamaan-perumpamaan itu.

Dina menoleh cepat. Suaranya tiba-tiba meninggi, "Piknik, Mid! Piknik! Jalan-jalan! Keliling dunia!"

Hamid kaget. Bibir yang tadi ingin ia tertawai, kini memarahinya.

"Kamu, kok, nggak peka benget?" Nada suara Dina belum turun. Teman-temannya menoleh.

"Kalau kamu mau jalan-jalan, ya, tinggal jalan-jalan," jawab Hamid dengan gurat kening berlekuk-lekuk.

Woles World Legend: AlphaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang