2.

578 92 24
                                                  







.

Yoona menghela nafasnya dengan pelan sebelum kemudian tangannya bergerak untuk membuang benda yang sedari dia pegang untuk membantunya merasakan sesuatu. Dan kemudian , tangan kurus itu sekarang beralih meraih lembaran putih untuk sekedar membersihkan aliran kecil yang dia buat.

Senyuman miris terukir dibibir nya sebelum kemudian berdiri untuk menuju kamar mandi hanya untuk membuang bekas lembaran putih yang kini sudah terwarnai dengan abstrak. Matanya bersibobrok dengan bayangannya sendiri dicermin yang terlihat menyedihkan?

Ya , dia sadar kehidupannya memang sangat menyedihkan. Bahkan dia kini menertawakan dirinya sendiri yang mungkin saja bisa dianggap gila oleh orang lain.

Bagaimana tidak jika dia bahkan mendengarkan musik yang terbilang penuh energik namun matanya mengalirkan genangan sungai tersendiri? Jangan bertanya kenapa karena bahkan dia juga tidak mengerti dengan keadaannya sendiri.

Dan saat seperti ini , dia tak punya nyali untuk sekedar mengatakan bagaimana keadaannya kepada siapapun , bahkan jika itu adalah orang yang sangat dekat dengannya. Yoona takut jika nantinya pandangan mereka akan berubah , bagaimana jika nantinya mereka menganggapnya gila?

Dia tak pernah berburuk sangka namun kenyataannya pada saat dia bertanya kepada salah seorang saudaranya , dengan lantang saudaranya itu pun mengatakan bahwa itu artinya dia gila.

Yoona selalu sendiri , sebelum akhirnya dia bertemu dengan Sehun. Pemuda yang dia kenal saat berumur 7 tahun itu yang mengerti dan mengetahui semua tentang dirinya. Pemuda yang mengetahui bagaimana rusak dan mungkin sangat buruk kehidupannya. Tidak ada yang tau tentang kesakitan yang dia rasakan , dan tidak ada yang tau bagaimana sakitnya seorang Yoona ketika dia sedang merasa berada digaris paling bawah kehidupan.

Pemuda itu selalu membantu nya untuk keluar dari lingkaran setan yang sudah melekat dalam kehidupannya. Pemuda itu juga selalu menjadi penenang tersendiri saat Yoona merasa dia tidak lagi pantas untuk tetap hidup dan saat Yoona akan mengakhiri hidupnya dengan tegas pemuda itu akan memeluknya dengan erat.

Namun , dirinya dan lingkaran setan yang ada layaknya seperti kehidupannya dan udara. Lingkaran setan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya dan mengurungnya sendiri hingga terlalu sulit baginya untuk pergi keluar. Selalu saja , saat dia mencoba , dia tertarik kembali ke dalam nya.

Yoona selalu melakukan sandiwaranya dengan sangat baik ketika berada di antara keluarganya dan menutupi betapa rapuhnya dia. Dan saat kekosongan kembali menggerogoti dirinya dia akan kembali terjatuh didasar kehidupan dan menutup mata kemudian dengan sesak dia akan menghubungi Sehun agar dirinya bisa tenang.

Yoona selalu berfikir bagaimana jika nantinya dia akan kehilangan Sehun ? Siapa lagi yang bisa membuatnya mengatakan keluh kesah saat dia merasakan sakit tentang kenangan buruk yang tidak bisa dia katakan kepada kakak perempuannya? Yang merupakan tempat kedua dimana dia bisa mengatakan bahwa dia tengah tidak sehat?

Tidak mungkin jika Yoona mengatakan apa yang dia rasakan dan apa yang pernah terjadi di kehidupannya kepada sang ibu , itu hanya bisa malah membuat kesedihan tersendiri. Yoona berfikir bagaimana menyedihkan kehidupannya.

Tak memiliki keluarga yang utuh?

Seseorang yang sangat tidak pandai bergaul?

Mendapat banyak tekanan dalam kehidupannya?

Mendapat perlakuan buruk dari orang yang tidak bertanggungjawab?

Bahkan jika boleh memilih dia lebih memilih untuk tidak perlu dilahirkan di dunia.

Yoona dengan banyak trauma tersendiri yang membuatnya selalu merasa tidak pernah pantas untuk siapapun sekalipun dia masih memiliki apa yang seharusnya dia pertahankan tapi apa yang pernah dia dapatkan membuatnya kembali kehilangan kepercayaan diri.

Saat menutup mata , bayangan gila itu kembali menghantuinya. Kata-kata menyakitkan hati itu kembali terngiang di kepalanya. Menyesakkan hati.

Saat dia mencoba membuka diri dengan mencoba bercerita , sang pendengar hanya mendengarkan kemudian melupakannya tanpa memberikan sedikit dukungan ataupun kata-kata yang mungkin bisa membuat nya sedikit lebih baik.

Dan itu sudah cukup baginya untuk menyadarkan bahwa orang-orang hanya ingin mengetahui tanpa mau memberikan dukungan kepada nya. Dan hanya Sehun lah yang selalu mengatakan bahwa dirinya berharga . Bahwa dirinya bahkan berhak mendapatkan kebahagiaan dan mendapat orang yang mencintainya dengan tulus.

Apa?

Cinta?

Tulus?

Tidak. Yoona telah putus asa untuk itu. Tidak ada cinta yang tulus. Itu hanya bualan semata. Dan Yoona tidak pernah percaya dengan itu semua. Itu hanya sebuah dusta kemunafikan.

"Lo menyedihkan Yoona! Mati aja mending!" Lirihnya pelan dengan pandangan an kelam pada bayangannya sendiri.

"Yoon!!! Buka bangsat ngapain Lo didalem!"

Yoona tersentak , ah dia lupa dia terlalu lama memutar film menyedihkan di kehidupannya sampai melupakan bahwa sahabatnya itu tadi dia hubungi dalam keadaan penuh isakan menyedihkan. Yoona berjalan kearah pintu kamar mandi dan membukanya kemudian mendapatkan Sehun yang menatap tajam dengan tangan terkepal.

"Apa Lo?" tanya Yoona dengan datar yang membuat Sehun menariknya kedalam pelukan hangat dan merancukan ciuman dirambutnya.

"Gw udah bilang jangan sakitin diri lo! Lo punya gw buat numpahin semuanya! Jangan gini bego! Gw gak mau liat Lo luka" ucap pemuda itu dengan lirih.

Yoona mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Sehun . Mengeratkan pelukannya sebelum bergetar hebat.

"calm down dear, i have here for you, don't hurt yourself, tell me everything, i won't be willing to see you like this "

"Gw capek" lirih Yoona teramat pelan dengan suara teredam isakan pilu. Tangan Sehun mengepal kuat hingga buku jarinya memutih kemudian menarik bahu untuk menatap ke arah Yoona.

"Bilang ke gw kalo Lo pengen gw bunuh dia sekarang dear ! Gw bakal lakuin itu demi Lo sekarang juga!" geramnya yang membuat Yoona menggeleng cepat dan tangis yang kembali mengeras.

Sehun memejamkan matanya guna meredam emosi yang meluap. "Jangan gini , gw nggak suka lo terus-terusan nyakitin diri lo sendiri dear , lupain kenangan itu" lirih Sehun mendaratkan kecupan dalam di kening Yoona.

Tidak ada jawaban , Yoona hanya terisak masih berusaha meredakan tangisannya dan meneriakkan dalam hatinya bahwa dia juga ingin melupakannya.

Sakit. Sehun merasakan hatinya berdenyut saat melihat betapa rapuhnya gadis dipelukannya saat ini. Denyutannya terasa sangat pedih saat bagaimana dia membayangkan kenangan buruk yang terjadi pada Yoona. Gadis itu terlalu rapuh. Dan Sehun selalu bersumpah untuk tidak akan membiarkan pondasi jiwa gadis itu runtuh.

Sehun tidak pernah memandang Yoona sebagai sahabatnya. Lebih dari itu. Sehun mencintai gadis itu dengan dalam. Namun Sehun tidak cukup berani untuk mengatakannya karena Yoona selalu mengatakan bahwa dia tidak pernah mempercayai bahwa ada cinta yang tulus. Sehun tak cukup berani jika nantinya gadis itu akan menjauh darinya.

Tidak! Sehun tidak bisa kehilangan Yoona. Sampai kapanpun itu!

Sehun kembali menangkup wajah Yoona ketika merasakan isakan menyedihkan itu telah terhenti dan sekarang berganti menjadi senyuman lebar yang membuat nya menghela nafas pelan.

"Ayo tidur , Lo bakal lebih baik setelah nanti bangun " ucapnya kemudian menarik dengan lembut Yoona untuk merebahkan diri dan memeluk Yoona dengan erat.

Yoona menyamankan dirinya. Sebelum kemudian melayangkan pertanyaan yang membuat Sehun tak bisa menjawab...

"Hun , jantung Lo berisik banget anjir , suka sama gw ya lo!?"












.



Ngaret banget ya ? Hehe

Gimana?

Kalian gak komen gw gak up gais :(

"SEDATIVE"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang