Jim, Jimin, Park Jimin.

50 11 15
                                          

Jimin selalu pulang pukul 10 malam. Mungkin karena ia tahu Sena tak betah membuka mata hingga larut malam. Walau pernikahan selama setahun ini terasa sangat hambar, Sena selalu berusaha menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik.

Mereka melakukan hal yang suami istri lakukan meskipun Jimin akan selalu memakai pengaman ataupun melakukannya terlalu kasar. Sena tak pernah marah kendati Jimin akan langsung meninggalkannya sehabis mereka melakukan itu. Pun tak pernah meminta bantuan Jimin untuk membantunya menuju kamar mandi.

Sena terbiasa melakukan semuanya sendiri biarpun ia tinggal bersama Jimin. Selama setahun, tak pernah ia diperkenalkan sebagai istri tuan muda konglomerat Park secara resmi atau mendatangi pesta besar kolega Jimin. Sena sadar Jimin malu punya istri miskin dan tak berpendidikan tinggi sepertinya. Oleh sebab itu, menjadi istri sah Jimin merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya.

Sena ingin mengucap banyak terima kasih pada mendiang kakek Jimin yang memaksa Jimin menikahi Sena. Sena nenyetujui pernikahan ini bukan karena ingin, tapi karena harus. Selama 10 tahun hidupnya, ia dibiayai oleh kakek Jimin. Tentu permintaan pertama dan terakhir pria baik itu akan Sena lakukan meski amat berat.

Kedua orang tua Jimin pun menyetujui pernikahan ini. Hanya Jimin yang dari awal menolak keras. Tapi, penolakan itu berakhir dengan anggukan mau sebab Kakek Jimin benar-benar berharap Jimin menikah sebelum ajalnya menjemput. Jimin mungkin keras kepala. Namun, ia begitu menyayangi sang Kakek terlepas dari yang pria itu lakukan pada Jimin.

"Aku pulang."

Jimin masuk ke kondominium miliknya dengan wajah penat. Ia meregangkan ikatan dasi yang mencekik leher dan berjalan gontai menuju kamar. Ia lihat Sena yang sudah terlelap dengan novel yang belum habis wanita itu baca. Jimin melepas pakaiannya dan mengganti dengan baju santai.

"Kenapa wanita itu suka sekali membaca?" gumam Jimin yang mendekati Sena. Ia ambil buku di perut Sena dan membaca judulnya.

"Climas? Kenapa dia membaca buku sedih begini?"

Jimin menggeleng tak habis pikir, meletakkan buku itu di nakas samping tempat tidur dan berlalu menuju dapur. Ia selalu tahu Sena akan menyiapkan makan malam dan Jimin dengan senang hati akan memanaskannya tanpa meminta bantuan Sena.

Sehabis makan, Jimin akan menaruh piring kotornya di bak cuci dan langsung bersiap tidur. Ia juga akan mendengar berita terbaru melalui ponsel pintarnya, tak memedulikan apakah Sena terganggu atau tidak.

...

Jimin terbangun dengan wajah bengkak dan rambut acak-acakan. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 9 pagi. Dengan malas, ia segera mandi. Jimin itu pria yang suka kebersihan, ia tak betah jika setelah bangun tidur langsung keluar kamar dan beraktivitas.

Sena sibuk menyiapkan sarapan seperti biasanya, menunggu Jimin selesai mandi. Aroma bunga melati dan citrus ini memberi tahu Sena bahwa Jimin sedang menuju dapur.

"Jimin, mau roti dengan selai apa?"

"Selai nanas," balas Jimin datar. Pria itu duduk di depan Sena yang sibuk mengoles selai ke roti.

Jimin meminum susu coklatnya dengan khidmat, mengucap terima kasih dengan nada lirih saat Sena meletakkan dua lapis roti ke piringnya.

"Jim, Ibu menyuruh kita makan malam di rumah nanti," cicit Sena sedikit takut.

Selama setahun ini, Jimin dan dirinya hanya pernah ke rumah beberapa kali. Jimin tak suka mengunjungi orang tuanya karena ia pasti akan kena ceramah panjang lebar perihal pernikahannya dengan Sena.

"Eum."

Jimin membalas dengan gumaman, terlalu menikmati sarapannya. Sehabis makan, ia takkan membantu Sena beres-beres dan malah menonton televisi di ruang tengah. Sena maklum saja lantas akan menyusul Jimin dan duduk di karpet bulu.

"Bosan. Ingin main game."

"Telepon Taehyung saja kalau begitu," sahut Sena. Jimin mendecak kesal.

"Dia pergi berlibur dengan kekasih manjanya. Mentang-mentang akan menikah tahun ini, dia jadi budak cinta sekarang."

Ucapan Jimin membuat Sena tertawa. Jimin yang heran lantas bertanya, "Ada apa?"

"Kau tahu, Jim? Aku selalu ingin berlibur denganmu ke luar negeri seperti Taehyung dan Luna. Tapi, aku hanya bisa melakukannya di mimpi."

Sena tertawa lagi. Jimin paham sekali Sena tak bermaksud menyindirnya. Ia hanya mengutarakan perasaan yang sesungguhnya. Pernikahan mereka ini walau didasari kepaksaan, tak pernah sekali pun Jimin dan Sena bertengkar. Mereka menjalani hari-hari laiknya teman yang tak saling bergantung.

"Kita bisa melakukannya saat aku tidak sibuk."

"Kau tak pernah tidak sibuk, Jimin."

Jimin menggaruk lehernya yang tak gatal. Ia tahu menjadi istri Park Jimin bukanlah opsi yang membahagiakan. Ia selalu menunggu saat Sena akan mengajaknya berpisah. Ia tak sanggup mengatakannya duluan. Ia masih punya hati untuk memanusiakan Sena.

"Apa bedanya liburan di sini dan di luar negeri? Paling kau juga tidur sehabis jalan-jalan."

"Beda, Jimin. Pasangan akan menghabiskan libur mereka dengan jalan-jalan dan bukannya duduk seharian sambil menonton berita memuakkan."

"Kau menyindirku?"

"Kau bisa menyimpulkannya sendiri," balas Sena sambil bangun dan berlalu menuju kamar.

Jimin mengembus napas lelah. Pernikahan ini bahkan bukan keinginannya, ia sudah berusaha melakukan sebaik mungkin dengan tidak membenci Sena. Namun, kalau wanita itu terus mengadu dan marah padanya begini, apa Jimin bisa selalu tahan?

"Park Sena, mau sampai kapan kau mempertahankan hubungan satu arah ini?"[]

Hanya test-drive. Kalau banyak yang suka ya lanjut kalo engga ya udah. Hehe.

𝓣𝓱𝓮 𝓞𝓷𝓮 𝓒𝓪𝓵𝓵𝓮𝓭 134340. [ 𝓟𝓪𝓻𝓴 𝓙𝓲𝓶𝓲𝓷 ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang