SANG ANGKARA

Mulai dari awal
                                              

Mira merogoh isi tasnya dan mengambil buku tua dengan sampul dari kulit kambing cokelat itu lalu membuka lembar pertamanya. Mira mencocokkan satu sama lain seperti sebelumnya untuk meyakinkan dirinya bahwa aksara jawa yang terpampang di sana benar-benar sama, dan ternyata memang sama.

"MENGHABISI NYAWA SELURUH KELUARGAKU". Mira terdiam lama duduk di kursinya, ia memikirkan siapa yang menulis dan meninggalkan catatan ini di dalam ruangan itu. Apakah mungkin si pemilik catatan ini adalah mayat tanpa kepala itu. entahlah. pikiran Mira masih kalut.

Mira kemudian membalik halaman-per halaman berikutnya hingga halaman terakhir, namuntak ada yang Mira pahami ataupun mengerti karena semua halaman yang ada di dalam buku kuno itu nyaris di penuhi tulisan-tulisan dengan aksara jawa yang Mira sendiri tidak dapat membacanya, padahal Mira sendiri lahir dan besar di jawa.

"tutt... tuttt...tutttt!!" suara telepone di meja Mira tiba-tiba berbunyi sampai membuatnya terlonjak namun dengan sigap Mira mengangkatnya.

"Mir" ucap si penelpon.

"Riko?" tanya Mira,

"syukur masih  ada lo di kantor, gw bisa minta tolong buat cek-buku gw di atas meja kayanya gw lupa tanggal berapa gw ada wawancara dengan pak SOBO, gw butuh nih. Bisa gak?"

Mira menoleh melihat meja Riko, sebelum mengatakannya "buku warna ijo tua itu?"

"ya. Betul sekali. Thanks god. Bisa lo lihat kan Mir, tanggal berapa?"

"oke" kata Mira, ia berdiri dari tempatnya duduk lalu berjalan perlahan- mendekati meja Riko, ia melihat buku berwarna hijau tua itu, membuka  lembar per-lembar halaman saat tiba-tiba suara pintu liftterdengar. "Ting tong" Mira menoleh melihat kearah pintu lift.

Ruangan tempat Mira bekerja sendiri adalah ruangan yang memang di desain dengan sedinamis mungkin sehingga meski dari meja para karyawan bisa melihat langsung kearah pintu lift sehingga para karyawan yang bekerja bisa tahu kedatangan dan kepergian seseorang dari segala sisi ruangan.

Mira masih menatap pintu lift, ia terpaku menunggu siapa yang akan keluar dari sana namun anehnya, tak ada siapapun yang melangkah keluar dari sana.

"Mir. Gimana, tanggal berapa itu?"

Mira terhenyak ia lupa bila Riko sedang menghubunginya, Mira kembali fokus pada buku di depannya, melihat lembaran di atas meja dan setelah mencari-cari akhirnya Mira menemukannya.  tulisan Riko tentang wawancaranya dengan pak SOBO, salah satu orang terkaya di negara ini. "tanggal 24 Agustus tahun 20-" Mira melihat ke arah lift lagi, entah apa yang baru saja terjadi, Mira merasakan perasaan paling tak enak yang belum pernah ia rasakan hingga sejauh ini.

"oke makasih Mir, gw berhutang sama lo. Ngomong-ngomong kok lo masih ada di kantor sih-"

Mira tidak mendengar apa yang Riko katakan, ia masih fokus menatap pintu lift hingga dari jauh terdengar suara langkah kaki mendekat. seseorang baru saja melangkah masuk.

tap tap tap. Mira menatap bayangan hitam orang itu yang berjalan mendekat kearah tempat Mira berdiri.

Sosoknya tinggi semampai dan dari bayangan lekuk tubuhnya, Mira merasa familiar. ia terlihat seperti—Mira terhenyak saat tahu itu adalah wanita yang ia temui di dalam lift tadi.

"getih ireng sing nang njero awak menungso iku ngunu tondo jalar'e teko pitu lakon, kowe salah siji'ne sing onok nang takdir rambat soko kembang Wijayakusuma" (darah hitam yang ada di dalam tubuh manusia itu adalah pertanda dari datangnya musibah tujuh cerita. Kamu adalah salah satu yang ada dalam takdir bunga merambat Wijayakusuma).

JANUR IRENGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang