<6>

159 26 2
                                                  

Pagi ini Taeil berjalan melewati lorong menuju kelasnya dengan santai, handphone nya bahkan tidak berbunyi sejak keberangkatan Kekasih tingginya kemarin malam, Doyoungnya pasti sedang disibukan dengan kegiatan penelitian bersama dosen Im.

"Tumben kau baru datang? dan mana kekasih tiangmu?" Ten langsung bertanya begitu melihat sahabat pendeknya itu datang sendirian

"Doy sedang penelitian dengan Dosen Im"

"Berarti kau bebas dari kekasih tiangmu itu? " Taeil menatap bingung kearah Ten yang terlihat antusias

"Ayo jalan dengan yang lain, Heechan bahkan mengeluh karena kehilangan Taeil hyung tersayangnya, ayolah mumpung kekasihmu itu sedang pergi"

Taeil hanya mengangguk pasrah,  toh sudah lama juga ia tidak berkumpul dengan teman-temannya yang lain,  bukannya tidak mau tapi waktunya habis dengan belajar - bekerja - dan bersama kekasih tampannya.

"Jam 4 di tempat biasa,  aku akan menghubungi yang lainnya" Setelah itu Ten terlihat sibuk dengan ponselnya, mengabaikan Taeil yang terlihat melamun.

"Doyi sudah makan belum ya? "
Taeil menghela nafas pelan,  meski iya sedikit merasa bebas karena tidak di ekori Doyoung tapi entah mengapa rasa sepi lebih mendominasi,  padahal di sampingnya ada Ten yang terus mengoceh tentang banyak hal,  tapi ya kekasih hati tak nampak di mata maka yang terasa hanya hampa. 

begitulah kehidupan perbucinan berjalan...


---


"Taeil hyung,  Heechan marah pada hyung,  kenapa hyung tidak pernah berkumpul lagi dengan kita? " yang lainya hanya terkekeh mendengar protesan bungsu mereka yang memang paling menempel padanya di banding 5 orang lainnya. 
Ten,  Kun, xiaojun,  Yangyang, Lucas,  dan tentu saja si manja Heechan.  Biasanya mereka bertujuh akan menyempatkan berkumpul di akhir pekan,  namun setelah memiliki kekasih, Taeil lebih sering menghabiskan waktu dengan kekasih tingginya itu.

"Si Kim tiang itu terlalu menempel pada Taeil hyung" Heechan masih terus menyerukan kekesalannya

"Dia hyung, Heechan-ah" Taeil mengingatkan bungsu mereka,  karena bagaimanapun Doyoung itu seumuran dengan Ten dan Kun yang mana keduanya adalah hyung untuk Heechan

"Yang kau bilang tiang itu kekasih Taeil hyung, bodoh" Xiaojun melemparkan cup bekas minumnya dan berhasil mendarat mulus di kepala si bungsu

"Xiaojun sialan"

Heechan bermaksud membalas perlakuan Xiaojun,  namun terhenti karena lemparan lain yang berasal dari Ten

"Xiaojun juga hyung mu" Kun mengingatkan, membuat Heechan merajuk dan semakin menempel pada Taeil

"Lihat itu hyung, aku magnae yang terus terbuli, mereka hyung yang jahat"

Taeil terkekeh sementara yang lainnya memutar bola matanya gerah dengan kelakuan bungsu mereka itu. onrolan mereka terus berlanjut -meski lebih di dominasi oleh renggekan Heechan, tak terasa hari sudah malam, dan akhirnya mereka memtutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

"Aku pulang" 

Sepi.

Apartementnya kembali terasa sepi, padahal biasanya tidak sesepi ini, minimal kekasih tingginya itu akan berceloteh riang menyambutnya dan membawa-menyeret-nya kedalam pelukan mautnya.

Ah! Taeil semakin rindu, padahal baru satu hari tapi hati nya sudah tak kuat.

Perlu ku ingatkan bahwa disini bukannya hanya Kim Doyoung yang bucin, Seorang Moon Taeil juga tidak kalah bucin dengan kekasih sempurnanya itu.

'ddrrtt..ddrrtt' 

Senyum sejuta watt langsung menggantikan wajah lesunya saat mendapat panggilan dari sosok yang paling dirindukannya itu.

"Taeil-Hyung, aku rinduuuuuu" Taeil tertawa bahagia saat mendengar renggekan dari sebrang sana, lihatlah wajah menggemaskan itu, andai si manis ada di sampingnya pasti sudah Taeil cium, tapi sayangnya jarak menghalangi.


"Aku juga rinduuu" 

Ah berhenti disini, biarkan sepasang kekasih itu saling mengobati rindu, aku tidak tahan dengan suara renggekan manja yang penuh dengan keluhan mereka. kasihanilah aku yang masih menunggu jodohku.

Biarkan mereka menikmati rasanya saling merindu untuk pertama kalinya...kkk

Ilyoung DailyWhere stories live. Discover now