Prolog : Out Of The Wood

6 1 0
                                          

Prolog

Out Of The Woods

Cayden Perkasa sudah setengah jam berada di udara. Ia sekarang sedang duduk santai sambil menikmati film dengan headset. Ia memesan penerbangan kelas bisnis jadi kakinya bisa selonjoran. Dari luar, udara begitu cerah dan langit begitu biru. Ia bisa melihat laut dari bawah, sedikit berkabut karena masih agak pagi.

Penerbangan kali ini dari Jakarta ke Nine Island adalah penerbangan yang rutin ia lakukan setiap bulan Oktober atau bulan April. Ia selalu menikmati pesta-pesta keluarga Satria. Bulan April untuk Raka, bulan Oktober untuk ayahnya. Keluarga Satria adalah pesaing keluarga perkasa selama tiga generasi dimukai dari kakek, ayah dan sekarang dirinya. Mereka berambisi menjadi pemimpin di markas besar angkatan darat di Jakarta namun tidak pernah sekalipun berhasil.

Sebenarnya ada banyak keluarga lain yang bersaing untuk posisi itu, namun entah bagaimana Cayden sangat suka dengan keluarga Satria khususnya Raka. Ia adalah spesies yang unik, sangat kuat dan berotot namun juga sangat rapuh, apalagi kalau terlalu lama berada dibawah terik matahari. Ia bisa pingsan dan mimisan. Entah bagaimana orang seperti dia dapat lulus seleksi sekolah militer tahun depan.

Pluk! Pluk! Seseorang mencolek bahu Cayden. Cayden menoleh. Selina, tunangannya sudah berdiri disamping tempat duduknya. "Pergilah ke toilet sendiri, tidak ada hantu di dalam pesawat,"kata Cayden sebelum Selina sempat bicara.

"Aku boleh duduk disampingmu tidak?"tanya Selina.

"nggak ah... sempit tahu!"ketus Cayden.

Selina menatap Cayden sambil memancungkan bibirnya dan memberi tatapan penuh harap. "baiklah,"kata Cayden. Selina tersenyum penuh kemenangan dan duduk disamping Cayden.

"Kenapa dengan kursi lamamu?"tanya Cayden. Selina hanya tersenyum. Cayden melirik kursi lama Selina, ada seseorang yang ia kenal disampingnya. Claudia?

Aku menatap Selina lalu tersenyum tipis. "Apa yang terjadi?"tanya Cayden.

"Yah, aku duduk disampingnya selama 15 menit. Tidak bicara sama sekali padahal kita saling mengenal satu sama lain lalu aku mencoba membuka pembicaraan saat dia membuka kotak komestiknya. Aku bilang untuk meminjam sisirnya. Lalu dia menolak. Terus...,"Selina tertahan.

"Terus apa?"tanya Cayden.

"Terus dia bilang aku bau,"kata Selina.

Cayden mengernyit. "Dia hanya melawak,"kata Cayden berusaha menenangkan.

"Tapi aku tidak bau kan?"tanya Selina insecure. Cayden tertawa.

"Dia hanya tidak ingin kamu terlalu dekat dengannya. Respect her personal space. Mungkin,"kata Cayden.

"Yah... Makanya aku pindah...,"kata Selina. Selina terlihat tidak senang.

"Aku sudah bilang kan untuk tidak sok akrab dengan Claudia dan Raka. Mereka itu 'unik' jadi bersikap baik dengan mereka tidak akan membuat kamu terlihat baik,"kata Cayden.

Selina mendengus, "Aku tidak mengerti, rumit sekali. Aku hanya ingin berteman, apalagi dia kan tunangannya Raka. Kita pasti akan bertemu di Dharma Wanita atau sebagainya,"kata Selina.

Cayden tertawa, ia mengambil tas ranselnya dan kotak perlengkapan mandinya lalu mengambil sisirnya.

"Masih mau sisiran?"tanya Cayden. Selina mengangguk. Ia menggerai rambutnya dan membelakangi Cayden.

Cayden mulai menyisiri rambut Selina. 

In Living PartyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang