022

137 20 12
                                                  

Jimin dan Taehyung melaju ke distrik Itaewon. Jimin bilang Yoongi punya apartemen tersembunyi di sana, tapi ia sudah tahu jelas dimana itu.

"Kau membawa pistolmu kan, Tae?"

"Selalu di sakuku, Jim."

"Kita akan membunuhnya malam ini. Harus benar-benar tuntas sebelum pagi datang."

Jimin yang menyetir terlihat amat menyeramkan. Taehyung jelas paham keinginan Jimin takkan bisa diganggu gugat. Pemuda itu sangat optimis dan keras kepala.

Ada aura seram tak terbantahkan dari keduanya saat menapak ke apartemen kumuh di sudut Itaewon. Yoongi bersembunyi di sini karena mengira mereka akan datang ke perumahannya di Gangnam. Nyatanya, ia salah besar.

Dobrakan di pintu flatnya membuat ia yang sedang merokok terbatuk-batuk, meraih pistol di meja dan menodongkannya ke pintu.

"Ah, ternyata kalian. Kenapa bertamu tak ketuk pintu dulu? Tak ada adab ya?"

Yoongi tersenyum miring mendapati Jimin dan Taehyung yang berjalan masuk. Keduanya tak mengalihkan tatapan tajam ke Yoongi. Yoongi memasukan pistolnya di saku sebelum mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

"Santai, bung. Ini wilayah penduduk tak bersalah. Ayo main tembak-tembakan di gudang pinggir kota."

Yoongi memberikan penawaran. Tentu berkelahi dengan senjata di sini akan memicu kepolisian dan pemerintah datang. Mereka akan terlilit masalah besar.

Taehyung melirik Jimin meminta pendapat. Jimin mengangguk samar. Perkataan Yoongi benar. Mereka bisa melukai warga.

Jimin menodong pistol ke pelipis Yoongi, sedangkan Taehyung berusaha memborgol pemuda itu. Yoongi tertawa keras, merasa permainan ini sangat menyenangkan.

"Polisi diborgol penjahat? Keren."

"Kau berisik lagi maka pistolku takkan segan mengeluarkan isinya, Black Cat." Yoongi tergelak puas. Ia menyeringai sinis sebelum berkata, "Aku tahu mafia juga punya kode etik seperti kami. Kau takkan menarik pelatuk ke orang yang tak memegang senjata dan bukan target pembunuhan dari bosmu."

"Lebih baik beri tahu jalan daripada mulutmu kurobek duluan." Taehyung berucap geram. Ia bukan pecundang yang patuh akan aturan.

"Baiklah. Tenang, harimau. Ikut aku."

...

Mereka berada di sudut kota terbengkalai dalam gudang yang tak terpakai lagi. Mereka saling menodong pistol ke dada masing-masing. Yoongi punya dua pistol di tangannya dan rasa kepercayaan diri bahwa ia akan menang.

"Kurasa akan lebih seru berkelahi tanpa senjata api. Bagaimana jika kita main pukul-pukulan seperti saat aku memukuli Jungkook kalian hingga sekarat?"

Taehyung menggeram emosi. Ia melepas satu peluru yang meleset dan meledakkan jerami kering di belakang Yoongi. Yoongi melirik hasil perbuatan Taehyung, tertawa tak bersalah sambil menjulurkan lidahnya mengejek.

"Emosimu itu berbahaya. Mau membunuhku dengan emosi begitu? Sampai kau mati pun takkan bisa melukaiku."

Jimin menepuk bahu Taehyung, menyuruhnya tenang. Menghadapi Yoongi dengan kepala panas bukan opsi yang tepat. Pemuda itu cerdik dan manipulatif.

"Baii. Tanpa pistol. Bagaimana, Yoongi?"

"Sure."[]

Aku baru sadar kalo cerita yang kubuat suka membingungkan karena emang aku nulisnya tanpa outline sama sekali. Ya tinggal mood aja dan pemikiran yang terlintas saat itu. Tapi, setelah mulai belajar nulis pake outline, ternyata enak juga.

Dan, aku mau bilang, jangan harap happy ending. Heuheu.

See you ASAP.

ɓɭɑck cɑt. [ ɱiɳ yѳѳɳgi ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang