021

108 26 12
                                                  

Jimin sedang mengotak-atik informasi di laptopnya saat dengan tak tahu dirinya Taehyung duduk di sebelahnya dan menaikkan kaki ke meja. Jimin melirik sinis, tapi Taehyung bukanlah orang yang peka.

"Apa yang kau lakukan?"

Taehyung yang bosan mendekati layar laptop Jimin. Ia bisa lihat pemuda Park ini sedang membobol website ilegal. Alisnya mengerut dalam, mencuri tatap pada Jimin yang datar.

"Aku sedang mencari Yoongi keparat itu. Kau tentu ingin membalas dendam kan, Tae?"

Taehyung membuka mulutnya menjadi bentuk O besar. Ia mengangguk antusias sambil menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri ---pemanasan.

"Kau pintar juga. Kita harus menangkap begundal itu sebelum Jasmine tahu. Ia takkan mengizinkan kita."

Taehyung memandang Jasmine yang tertidur di atas ranjang rumah sakit. Mereka memang mengambil cuti untuk menjaga Jasmine. Pekerjaan mereka memberi banyak waktu luang, tapi tugasnya juga sangat berbahaya; nyawa.

Jimin ikut menatap objek yang Taehyung lihat. Ia mematikan laptopnya dan menepuk bahu Taehyung sekali.

"Ayo."

"Kemana?"

Taehyung itu bodoh sekali kendati di pelatihan dialah yang selalu menyabet no.1 dalam berbagai kategori. Jimin hanya bisa mengembus napas berat sebelum menjawab tenang.

"Tentu saja menangkap Yoongi. Aku sudah tahu koordinatnya."

"Oh, baiklah. Tunggu! Aku mau cium Jasmine."

Taehyung bangun terburu, meninggalkan Jimin yang menggeleng heran.

"Kau ini tak usah curi-curi kesempatan. Kalau cinta katakan!"

Taehyung meringis ngilu sehabis mencium Jasmine di kening. Ia tahu Jimin sahabat yang suportif.

"Aku bukan menciumnya karena itu. Aku hanya ingin."

Jimin tertawa skeptis. Ia mengenal Taehyung luar dalam, bung. Mereka bagai satu nyawa di tubuh berbeda.

"Aktingmu buruk sekali. Aku sudah tahu sejak Jungkook dan Jasmine pacaran, kau sudah jatuh cinta pada J."

Taehyung diam. Yah, mau berbohong macam bagaimana pun Jimin akan terus menyangkal.

"Iya. Aku memang cinta dia sejak di pelatihan. Tapi, perasaan ini biar aku dan kau saja yang tahu. Aku tak ingin ia berakhir membenciku. Jungkook selalu di hatinya, Jim. Aku mana ada tempat."

Taehyung terkekeh miris, merangkul bahu Jimin dan menarik keduanya keluar. Jimin mendengus dongkol. Taehyung itu kelihatan sekali orangnya, terlalu transparan di mata Jimin.

"Kau berpura-pura menyebalkan di depannya hanya karena tak mau ketahuan cinta kan? Tae, Jasmine butuh seseorang dan kau yang paling kupercaya."

Taehyung pura-pura masa bodoh walau dalam hati terombang-ambing setengah mati.

"Jasmine takkan mau terikat lagi, Ein. Dia tak ingin terluka lagi. Aku harus menghargai itu."

"Jadi, kau yang harus selalu terluka? Begitu?"

Taehyung memandang langit mendung sekilas sebelum menengok ke Jimin. Memasang senyum sangat lebar hingga Jimin keheranan.

"Tak apa. Selama Jasmine nyaman, aku akan menyerahkan segalanya yang kumiliki. Bahkan, nyawaku sendiri."

"Kau sungguh tolol."

"Iya. Cinta itu tolol."[]

ɓɭɑck cɑt. [ ɱiɳ yѳѳɳgi ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang