9. Lo beda

107K 12.3K 1.5K
                                                  

tiga bab sekaligus, khusus kamu doang

tiga bab sekaligus, khusus kamu doang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


9. Lo Beda






"Lo bawa hp nggak?"

Nayya masih panik. Berbeda dengan Jaja yang terlihat biasa saja. Cewek itu terus mondar-mandir macam cacing kepanasan.

"Lo bisa diem dulu?" tanya Jaja membuat Nayya berhenti bergerak. "Hp gue ketinggalan di kelas."

Nayya melebarkan matanya. "Terus gimana? Pak Imam belum tentu bakal balik lagi."

Jaja menggedikan bahu. "Nunggu Mba Nafis aja, paling bentar lagi dateng."

Nayya menghembuskan napas berat. Ia rasa dirinya sudah tak sanggup berada satu ruangan dengan Jaja. Karena bersikap biasa seperti Nayya biasanya, mendadak sulit.

Nayya tuh kenapa sih.

Nggak pernah-pernahnya pake ati ketemu sama cowok.

"Nggak usah panik gitu. Pasti temen lo atau temen gue nyamperin kesini. Mending duduk sini aja." Jaja duduk dan bersender di depan pintu. Nayya awalnya ragu namun akhirnya ikut duduk di sebelah cowok itu.

"Soal kemarin gimana?" tanya Jaja. Memecah keheningan di antara mereka. Dia tidak betah jika terus-terusan diam disaat ada lawan bicara di dekatnya.

"Kemarin apanya?" tanya Nayya balik.

"Nasib lo lah. Gue sempet denger Pak Aji ngancem lapor ke bokap lo."

Nayya mengerjap. "Lo denger?" tanyanya.

Denger lah, gue sering kesana..

"Gue kebetulan ada urusan sama Bu Susi. Mungkin lo nggak sadar ada gue disana."

Nayya mengulum bibir. Mulai rileks dibandingkan sebelumnya. "Gue ngindarin bokap dari kemarin." cicit cewek itu.

Jaja menoleh sepenuhnya pada Nayya. "Kayaknya takut banget ketauan."

Nayya terkekeh pelan. Mengangkat bahunya acuh. "Bokap peduli banget sama nilai gue di sekolah," cewek itu diam sebentar, melirik Jaja sekilas. "Harus jadi yang terbaik."

"Jadi itu alesan lo dateng ke rumah sakit buat minta maaf?" tanya Jaja. Agak tak menyangka sebenarnya.

Nayya tersenyum miris. Menganggukan kepala lagi. "Pak Aji  ngancem bakal ngurangin nilai kalo nggak ada perwakilan kelas dateng minta maaf."

"Tuh guru kenapa sih anjir." gumam Jaja pelan. Berada di London dua bulan, dia tak menyangka suasana sekolah jadi seburuk ini.

Nayya melirik Jaja. "Kelas gue dikurangin nilainya juga karena berantem sama kelas lo. Gue heran kenapa lo seolah-olah baru tau soal ini."

"Gue sempet di luar negri jadi nggak tau banyak. Anak kelas juga nggak pernah bahas." jawab Jaja.

Memang tak ada yang memberi tahu Jaja bahwa setiap bertengkar dengan anak kelas sebelah, Pak Aji hanya menghukum anak IPA. Kenyataan itu sedikit membuat Jaja kesal. Dia juga ingin bertanya pada Junet tapi selalu lupa.

Kelas Sebrangan ( AS1 )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang