2. Hadiah Terakhir

212K 9.6K 641
                                                  

Nungguin yaaa.... 😂

_________

Rania hanya diam, meremas kain kemejanya semakin dalam. Bara menyadarinya. Awalnya tersenyum, jadi tertawa ringan saat ia duduk di tepi ranjang.

"Seriusan lo pengen gue tidurin?" tanya Bara geli, kini menatapi wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Rania masih diam di tempatnya, menatap lurus ke ujung ruangan. Tak mau menanggapi.

"Kenapa?" tanya Bara selanjutnya. Merasa tak perlu lagi mendengar jawaban dari pertanyaannya yang pertama. "Apa diem-diem lo ada rasa sama gue?"

"Nggak ada," jawab Rania tetap tenang.

"Terus kenapa?" Bara melipat lengan di dada.

"Aku ada alasan sendiri. Cukup jawab aja, kamu akan setujui syarat itu atau gak?"

Senyuman Bara surut. Sejujurnya ia jadi kesal. Jelas permintaan wanita itu sangat aneh jika dijadikan syarat untuk menyetujui sebuah perceraian. Bara tahu wanita ini licik, dan ia yakin ada sesuatu yang Rania sembunyikan.

"Rania," panggil Bara tenang. Berhasil membuat wanita itu berhenti menatap lurus ke sudut ruangan, beralih menatapnya. "Jujur aja, gue gak mau nidurin lo..."

"Kamu bisa urus surat cerainya sendiri kalo gitu," potong Rania segera berbalik untuk pergi, sebelum Bara selesaikan kata-katanya.

Bara meradang mendengarnya.
"Lo selingkuh Rania," balas Bara agak keras. "Lo pikir gue gak bisa ajuin cerai karena alasan itu?"

Rania terdiam menghentikan langkahnya.

Bara jadi teringat akan sosok laki-laki yang ia maksud. Laki-laki tinggi dengan tubuh kurus, bahkan tidak atletis seperti dirinya. Wajahnya memang tampan dengan hidung mancung dagu runcing dan alis tebal, namun lagi-lagi tak setampan dirinya tentu saja.

"Yah, semoga berhasil dengan alasan itu." Rania mengakhiri percakapan mereka. Ia lanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruangan.

"Kamu yakin akan ada yang percaya kalau aku selingkuh?" tanya Rania berhenti di pintu. "Jangankan orang lain, mamamu saja pasti lebih percaya sama aku kalau aku bilang itu cuma fitnah."

Bara terperanjat. Ia yakin ia melihat senyum sinis dari sudut bibir wanita itu sebelum ia lenyap tak terlihat. Ia semakin yakin kalau Rania menyimpan sesuatu. Tapi apa?

Bara masih termenung di tempatnya. Sejujurnya ia pun setuju dengan apa yang Rania katakan sebelum pergi dari kamarnya. Mamanya tidak akan percaya. Kebodohannya karena tidak mengambil foto, video atau apa pun yang bisa ia jadikan sebagai bukti bahwa istrinya selingkuh. Permainan wanita itu terlalu rapi hingga ibunya saja akan lebih percaya pada ular itu daripada anaknya sendiri.

Bara tahu permohonan cerai yang ia ajukan tanpa persetujuan Rania akan sulit dikabulkan tanpa adanya alasan kuat. Harapannya yang lain adalah surat gugatan dari wanita itu. Tapi sudah satu tahun menikah dan dengan segala tingkahnya saja Rania tak melayangkannya.

Dengan berselingkuhnya Rania, Bara tidak bisa melanjutkan pernikahan mereka lebih lama. Bara merasa terhina jika ada orang lain mengetahui ini, istri seorang Bara berselingkuh dengan laki-laki yang bahkan tidak lebih baik dari dirinya. Akan memalukan untuk dia.

Bara sungguh tak habis pikir. Apa yang wanita itu kejar sebenarnya? Apa hartanya?
Bara terkejut dengan dugaannya sendiri.

"Udah jelas, kan? Apa lagi emangnya?" gumam Bara tersenyum sengit. "RANIA!" teriak Bara kemudian. Menunggu beberapa saat hingga wanita itu muncul di pintunya.

"Kenapa?" tanya Rania.

"Gue harus bayar berapa supaya lo mau tanda tangan?" tanya Bara.

Senyuman Rania muncul dan itu terasa melegakan bagi Bara. Akhirnya ia tahu apa yang sebenarnya diinginkan wanita itu.

"Urus saja sesuai rencana kamu Bara, gak perlu repot bayar aku. Wanita-wanita yang kamu tiduri itu lebih membutuhkan uang kamu daripada aku," jawab Rania tersenyum dengan lembut sebelum berbalik lagi.

"FUCK!!" umpat Bara bangkit, akhirnya mengejar wanita itu. "Apa mau lo sebenernya hah?" tanya Bara menahan lengan Rania.

"Kamu tahu apa yang aku minta..."

"Buat apa lo minta kayak gitu sama gue?"

"Aku cuma minta hakku Bara. Cuma satu kali," kata Rania. "Apa susahnya syarat itu buat kamu? Kamu biasa tiduri siapa aja, kenapa sulit buat kamu lakuin itu sama istri kamu sendiri?"

Bara tertawa pelan. Geli mendengar Rania menyebut diri sebagai istrinya.

"Lo selingkuh Rania, itu masalahnya," jawab Bara tersenyum sinis. "Gue jijik kalo harus nidurin bekas dari cowok kayak selingkuhan lo itu."

"Jijik?" tanya Rania tak percaya. "Kamu bahkan, mungkin gak lebih hebat dari dia Bara," balas Rania tersenyum manis walaupun tahu kata-katanya itu akan membuat Bara naik pitam.

"Lo bakalan nyesel ngomong gitu," geram Bara yang setelah itu menarik Rania ke kamarnya. Mendorong wanita itu dengan kasar hingga terjerembab di ranjangnya.

"Fine," kata Bara sibuk melepas sepatunya. "Cuma satu kali ini dan setelah itu kita selesai."

Rania nampak ragu juga cemas, tak lagi sepercaya diri yang tadi. Tapi ia mengangguk untuk menyetujui.

Entah apa yang sedang Rania pikirkan, wajahnya nampak tegang saat Bara memulai, saat laki-laki itu menyusulnya ke ranjang dengan raut penuh kekesalan. Bahkan ia terkesiap ketika Bara menarik celana pendeknya dengan kasar hingga lepas satu hentakan.

"Sebaiknya lo gak tersinggung kalo gue kelepasan nyebut nama cewek lain," sinis Bara menurunkan celananya sendiri sebatas lutut.

"Aku pengen lakuin hal yang sama," Rania merasakan kehangatan itu membelai miliknya dengan lembut. "Tapi aku rasa akan sulit kalau memang kamu gak sehebat dia," lanjut Rania.

"Lo gak tau apa-apa," geram Bara menghentakkan miliknya.

Suara kesiap Rania cukup keras. Bara terkejut dengan apa yang ia dapati. Wanita itu masih perawan. Satu tahun pernikahan mereka, Bara tak pernah menyentuhnya dan mahkota Rania masih terjaga.

Perlahan Bara alihkan mata ke wajah Rania. Wanita itu tengah membungkam mulutnya sendiri dengan mata terpejam erat dan air mata perlahan jatuh dari sudutnya. Bara menekan makin kuat dan nampak Rania berusaha semakin keras untuk menahan rasa sakitnya.

Bara semakin tak paham. Apa mau wanita ini sebenarnya. Ia bisa saja pergi dengan kesucian dirinya. Kenapa malah sengaja memberikan ini padanya? Meminta haknya? Apa sungguh itu alasan Rania?

Rania masih perawan, lalu apa yang ia lakukan dengan laki-laki itu di hotel? Sungguh, apa wanita ini benar-benar sebodoh kelihatannya? Menjaga diri selama satu tahun penuh padahal tak sedetik pun Bara melihat dirinya.

Bara mendekatkan wajahnya, menyingkirkan tangan yang menutupi bibir Rania. Mengulum bibir itu dengan lembut. Menggiring nafsu Rania agar mengikutinya. Setelah Rania terbawa barulah Bara menekan dirinya lagi hingga berhasil masuk seluruhnya.

Bara bergerak pelan tak melepaskan tautan bibir mereka. Ia mulai sibuk melepasi kancing kemeja istrinya. Setelah terbuka, bibir Bara turun ke rahang juga lehernya. Rania menggeliat pelan dan Bara menaikkan temponya.

Bara setubuhi wanita itu dengan lembut. Karena meskipun tak akan bersama, sebagai pria pertama bagi Rania, Bara ingin Rania bisa menyimpannya. Anggap saja hadiah terakhir dari Bara atas kesetiaan bodoh Rania.

_____

Bersambung...

Sorry pendek ya, aku update senyampainya 😅😅

Kesempatan Kedua [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang