Semua bermula dari kelas 1 SMP aku adalah murid yang biasa-biasa saja, tak ada yang spesial dari diriku. Tapi aku selalu mengikuti kegiatan esktrakulikuler di sekolah. Di kelas aku punya banyak teman karna aku suka bergaul dan tidak banyak memilih-milih teman aku tidak suka bergabung dengan geng-geng ala jaman sekarang. Sepulang sekolah aku jarang untuk langsung pulang kerumah, karna aku adalah anak yang sekarang orang bilang broken home, dunia ku berubah setelah di sekolah aku bermain-main, tapi dirumah semua berubah aku jadi anak yang tak banyak bicara. Tapi aku tak akan membahas itu.
Setelah stgh tahun aku menduduki kelas 7a, ada lelaki yang mendekatiku. Ya dia adalah dika dia lumayan tampan, dia seru, lucu dan dia mengasikkan. Aku nyaman berteman dengannya sampai akhirnya dia menembakku, dia menginginkan ku untuk menjadi pacaranya. Tak berfikir panjang aku pun menerimanya, sebelumnya aku tak pernah pacaran tapi setelah aku mengenal dika dan aku sangat menyukainya aku pun menerima saja. 2 bulan jadian semua berjalan dengan mulus, sampai akhirnya di bulan kedua dia mulai berubah, semua yang ada pada dirinya semua berubah aku tak mengerti kenapa dia sebenarnya, sampai akhirnya aku tau dari temanku, bahwa dia sedang dekat dengan wanita lain. Aku yang waktu itu masih polos dengan perasaanku, yang hanya tau kalau 2 orang saling mencintai tetapi salah satunya selingkuh berati selingkuh, akhirnya aku langsung menegurnya, aku menanyakan semua nya kepadanya, lantas tak lama dia mengelak,
"Dengerin aku dulu," ucapnya,
"Apaan sih, udah lah males gue pacaran baru sama lo ya, tapi udah di giniin, dasar playboy" jawabku dengan sedikit nada kasar.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk putus dengan dika. Setelah putus, dia menjadi playboy yang jarang di ketahui banyak wanita.
Aku berfikir, mungkin aku belum siap untuk menjalin sebuah ikatan di usiaku ini.
1 tahun berlalu, dan aku naik kelas dan duduk di bangku 9b, aku senang pikirku aku sebentar lagi lulus dan menjadi siswa SMA/SMK. Pelajaran seperti biasa, tetapi kali ini ibu guru tidak sendiri, dia bersama anak baru, aku tak terlalu memperhatikannya dia lulusan dari Pesantren, namanya sebut saja jepin.
Beda dengan murid baru yang satunya dia lebih beruntung karna baru 2 hari masuk sekolah dia sudah punya teman yang akrab. Aku biasa saja kepadanya menyapa pun aku tidak pernah, sampai temanku Yana bilang kepada teman-teman perempuan yang duduk dibarisan paling belakang, tentu aku pun ikut mendengarkan karna aku juga duduk di barisan paling belakang. Dia bercerita bahwa si jepin ternyata menyukai cewe yang duduk barisan paling belakang,
"Emang siapa na?" Jawab nini, Dengan raut muka yg penasaran
"Ada deh pokoknya lo semua tunggu aja, yang dapet sms dari dia sepulang sekolah nanti, berati dia cewe yang didemenin sama si jepin" jelas Yana,
Raut muka ku langsung kesal, dalam hati,
"Apaan sih cowo alay, ganteng kaga bikin heboh cewe2 lagi"
Sepulang sekolah aku melupakan kejadian tadi di sekolah, karna aku memang orangnya masa bodo, dan aku memang tidak tertarik kepada murid baru itu, beda dengan cewe2 yang lain.
Aku langsung memasuki kamar, mandi dan makan, setelah selesai aku langsung berbaring di kamar, mataku hampir terpejam tapi bunyi ponsel jadulku mengagetkanku, aku langsung membuka mata, ku fikir siapa, aku pun tak mengenali nomer nya.
"Ah orang iseng" pikirku
Aku meletakkan balik ponselku, dan mataku terpejam,
Setelah bangun aku mendapati SMS dari nomer yang sama dari yang sebelumnya menelfonku sewaktu aku mau tidur tadi.
"Hai" -pesan nya
"Assalamualaikum kek" jawabku
"Oiya, yaudah ulangin deh. Assalamualaikum, ini bener dian?" Tanya nya
"Iya ini aku, ini siapa dan dapet nomerku dari siapa?" Tanya ku
"Aku jepin, siswa baru dikelas" jelasnya
Aku langsung berfikir dengan perkataan Yana tadi siang,
"Anjirrr ngapain dia ngechat gue sih, tau nomer gue dari siapa nih" -pikirku
Dan setelah lama aku bales chat dia, berhari-hari sampai berminggu-minggu kita chattingan, aku tau semua. Dia menyukaiku sejak pertama melihatku, tapi aku terlalu cuek dan terlihat galak, tak pernah mau menyapa nya makanya dia tidak pernah berani untuk menyapaku duluan. Selang beberapa bulan dia mulai terbuka kepadaku, dia bilang dia ingin aku menjadi pacarnya, aku yang sudah mulai menyukainya karna sikapnya yang tidak membosankan membuatku mau untuk meng-iya kan permintaannya. Aku senang sekali ternyata dia adalah sosok laki-laki yang idaman, dia baik, dia sayang kepadaku.
Kita berpacaran sudah hampir 1 tahun 4 bulan, itu bukan hal yang mudah ada kala nya ego selalu ingin didepankan, tapi hati ingin selalu mempertahankan. Dan kita sama-sama lulus sekolah, aku yang tak menyangka akan berpisah sekolah dengannya aku bersekolahan di Sekolah Swasta Kesehatan, dan jepin diterima di salah satu sekolah Negri di kota. Tapi 3 bulan berjalan semua baik-baik saja kita saling percaya satu sama lain, aku yang semakin sayang kepada, dia pun sebaliknya.
Sampai pada akhirnya, kita jarang berkomunikasi, dia mengira aku selingkuh disini, temanku yang memberitahunya. Aku tak mengerti kenapa ia melakukannya. Jepin pun akhirnya menuduhku yang tidak-tidak. Aku pasrah aku tak punya kesempatan untuk menjelaskannya karna aku tau dia sedang marah besar. Aku sedih, tapi aku yakin besok saat aku bertemu dengannya aku akan menjelaskan semuanya.
Seminggu setelah kejadian itu aku hendak menjenguk sahabatku yang sedang sakit, dia baru saja pulang dari rumah sakit. Aku yang mengendarai motor dengan berboncengan dengan temanku sedang menuju ke arah rumah sahabatku itu, tak sengaja aku melihat jepin sedang memboncengi wanita lain. Sontak aku kaget dan aku langsung mengejarnya, tak lama aku langsung menanyakan kepada dia saat kita sama-sama masih di atas kendaraan yang sedang berjalan,
"Dia siapa? Kenapa kamu boncengan sama dia mesra banget? Kamu selingkuh?" Tanya ku sambil menahan air mata ku
"Te,te,teemen yan, aku cuma nganterin dia pulang" -jawabnya dengan muka ketakutan
"Halah alesan!"
Aku langsung melaju dengan kecepatan penuh, aku tak memperdulikan resiko nya, aku pun tak memikirkan nyawa temanku Kiki yg sedang ku bonceng,
"Sabar yaaan, aku tau perasaanmu" -ucapnya sambil berusaha menenangkan ku.
Aku ingin menangis, aku tak bisa menahan air mata, hatiku hancur lebur seolah petir sedang menyambar hatiku, dan membuat hatiku hancur berkeping-keping. Pikiranku sangat kacau, aku tak bisa memikirkan masa depanku, aku terlalu menyukainya sampai aku tak rela dia dimiliki wanita yang lain.
Hari-hari ku saat itu sangat sepi, sunyi wlpn banyak teman-temanku yang antusias menghiburku.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai membiasakan diri untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan karna kehilangan seseorang. Berbulan-bulan sampai 2 tahun aku mulai mulai terbiasa, mulai bisa memulihkan hati dan fikiranku kembali dan akhirnya aku berhasil kembali menjadi diri ku sendiri.
