Four

43 7 0
                                                  

Jam sepuluh tiga puluh adalah waktu dimana semua siswa tidak akan ada di dalam kelas, kalian tau kenapa? Karen tempat yang akan mereka datangi jam segini adalah tempat dimana sumber makanan di sekolah ini berada.

Bagi Aga suasan seperti ini sudah biasa, karena menu di sekolah SMPnya tidak jauh beda dengan sekolah SMAnya sekarang.

Hari ini hari pertama Aga mulai belajar dan membuatnya sangat lapar ia juga lupa untuk sarapan tadi pagi.

"Lo mau pesen apa biar gue yang pesenin", Aga dan Dian memilih duduk di tempat paling pojok di katin.

"Gue ngikut lo aja".

"Yaudah gue pesen dulu".

Awalnya yang di kantin sangat hening dan tenang tidak lama kemudian kantin mulai ribut.

Seperti biasa, Aga tidak akan peduli ia memilih untuk menyantap semangkuk bakso di hadapannya. namun ketidak pedulian itu segere pudar setelah manik bola mata Aga menatap seorang pria, dengan paras tubuh tegak, rahang yang tegas dengan tatapan dingin.

Tampan, Ya! Itulah yang ada di benak Aga sekarang.

"Lo tau nggak mereka bertiga itu adalah The most wanted sekolah ini, wajar kalo semua isi kantin histeris ketika mereka datang", Ucap Dian yang kini pandangannya juga tertuju kepada 3 pria itu.

"Tunggu disini sebentar".

"Aga lo mau kemana".

Namun aga tidak menghiraukan panggilan Dian.

Mata Dian dan seisi kantin terbelalak menatap Aga yang menghampiri Rasya.

"Hay kak", Rasya dan kedua sahabatnya mendongakan kepalanya ke gadis di hadapannya.

"Hay manis, ada apa? mau minta nomor whatshapp ya" ucap Key pede.

"Eh engga kak, aku ada perlu sama kak Rasya".

Plak

"Pede amat lo, orang dia nyariin Rasya" ucap Rey, dengan memukul leher bagian belakang Key.

"Yee gak papa kali siapa taukan dia kesini mau minta nomor whatsapp gue gitu kan"

"Yee itukan maunya elo, lagian ngapain dia minta nomor whatsapp elo, cuma jadi sampah kontok aja".

Rasya memilih pergi dari pada harus menyaksikan kedua sahabatnya berdepat tidak jelas.

Baru saja beberapa langkah sebuah tangan mungil menggenggam lengan Rasya, yang membuat ia menghentikan langkahnya.

Rasya menatap tajam tangan mungil itu yang menandakan Aga harus segera melepaskan tangannya dari lengan Rasya.

"Eh maaf kak, aku mau balikin sesuatu". Aga mebuka tas berwarna biru miliknya dan mengeluarkan sebuah jaket berwarna hitam yang Rasya pinjamkan kemarin sewaktu hujan"

"Ini kak aku kembalikan, trimakasih berkat jaket itu kemaren aku gak kedinginan, jaketnya udah aku cuci jadi bisa langsung kaka pake".

Rasya menerima jaketnya dan pergi dari hadapan gadis itu tanpa sepatah kata pun.

Di sisi lain ada seorang gadis yang menatap geram mereka berdua.

"Itu murid baru siapa si kecentilan amat", ucap Vera sahabat Reni.

Suhu tubuh Reni naik ketika melihat gadis lain brani braninya mendekati pria yang di cintainya, baginya tidak ada yang boleh mendekati Rasya selain Reni, karna Rasya cuma milik Reni.

Seribu pertanyaan dari Dian di lontarkan kepada Aga namu ia hanya diam, sibuk menyantap bakso yang belum ia habiskan tadi.

"Ntar stelah makan gue critain di kelas", Ucap Aga.

Setelah di dalam kelas Aga menceritakan kejadian dari awal dia menunggu Aang supirnya, sampai ia sampai ia di romah.

Dian kaget tidak percaya mendengar cerita dari sahabatnya itu.

"Seriusan lo" ucap Dian.

"He'eem" Aga mengangguk agukan kepalanya.

"Gue gak nyangka si sahabat gue bisa deket sama most wanted di skolah ini".

**

Rasya, nama itu terus berputar di kepala Aga sejak pertama kalia bertabrakan dengannya, Aga sendiri tidak tahu mengapa nama itu terus terus berputar di kepalanya.

Aga semakin penasaran dengan kaka kelasnya itu.

Akhir akhir ini Aga sering sekali melamun karena memikirkan Rasya, Aga merasa ada yang aneh di tubuhnya jika ia memikirkan Rasya, apalagi saat melihat Rasya jatungnya bisa dua kali berdetak kencang dari biasanya.

"Apa gue jatuh cinta sama kak Rasya?" Batin Aga, tapi ia segera menepis jauh jauh pikiran itu. Ia dan Rasya kan baru bertemu 3 kali, masa iya Aga langsung jatuh cinta sama Rasya.

"Ga" panggilan itu membuat Aga terkejut bukan main. Naya menolehkan kepalanya kesumber suar, ia mendapati Dian sedang berdiri di sampingnya dengan memasang wajah bingung.

"Ini orang kapan dateng" batin Aga.

"Dian lo kapan dateng, ko gak ketuk pintu dulu?". Tanya Aga.

Dian mengenyitkan dahinnya bingung, "lah dari tadi gue udah ketuk kamar lo berkali kali tapi gak lo bukain pintu, yaudah gue coba langsung masuk aja terus gue nemuin lo ngelamun disini, lo kenapa sih Ga? ada masalah?.

Setelah pulang sekolah tadi Dian memang berniat untuk bermain kerumah Aga karna kedua orang tuanya akan dinas ke luar kota.

"Nggak papa ko Yan" jawab Aga sedikit terbata bata.

"Lagi mikirin kak Rasya lo ya", perkataan Dian membuat Aga mendelikan matanya ke Dian.

"Benerkan lo lagi mikirin kak Rasya? ngaku deh lo", melihat Agak tak menjawab perkataannya itu, Dian mengguncang guncang tubuh Aga.

"Dian stop gue pusing nih".

"Gue gak papa ko mending kita nonton filem aja skuy", ajak Aga mengalihkan pembicaraan, tapi Dian segera memegang pundak Aga.

"Ga gak usah ngalohin pembicaraan deh, buruan cerita". Ucap Dian dengan nada serius.

"Oke" jawab Aga mengajak Dian duduk di tempat tidur.

"Jadi?" Ucapa Dian mulai.

"Gue emang lagi mikirin kak Rasya".

"Tuh kan udah gue duga lo pasti lagi mikirin kak Rasya, sejak kapan lo mikirin dia?".

"Gue gak ngerti sejak kapan gue mikirin dia, gue juga gak ngerti kenapa nama dia terus terusan muncul di kepala gue, padahal gue ketemu dia baru tiga kali".

"Terus lo mau ngapain sekarang".

"Gue mau stalker dia".

Rasya melepas jaket berwarna hitam yang melekat di tubuhnya dan duduk pada sofa berwarna hitam di ruang tengah rumahnya, Rasya merasa sangat lelah.

Setelah menjalankan hukuman dari Buk Lia tadi siang karena ia ketahuan membolos, Rasya segera meninggalkam sekolahnya untuk segera pulang, Rasya bolos lagi.

Rasya sudah tidak perduli lagi jika kedua sahabatnya mencarinya atau jika Buk Lia memberi hukumannya lagi besok, yang Rasya inginkan sekarang hanyalah tidur di kamarnya.




Jangan lupak tinggalkan jejak vote atau komen.
Slamat membaca.

RASA YANG KEMBALI HIDUPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang