Bab 3

135 42 3
                                                  

Saya berjalan bolak-balik seperti seorang penjaga keamanan di dinding setiap hari, memegang bawang dan pura-pura membuat napas terengah-engah, hanya untuk hari ini.

Tapi hasilnya, dia datang hanya untuk memintaku membantunya membuka tutup botol???

Saya menatapnya dan menggertakkan gigi.

Dia dengan hati-hati menarik tangannya, "Jika… Jika kamu... Jika kamu tidak bisa, tidak apa-apa, aku akan menemukan orang lain."

Saya mengambil botolnya dan dengan mudah melepaskan tutup botol itu untuknya. Sembari menyerahkannya kembali, Saya berkata dengan kasar, “Oke, sudah dibuka. Nih.”

Dia mengambilnya dan tersenyum.

Sialan.

Naga ini memiliki lesung pipit.

Senyumnya lembut seperti permen kapas.

Benar-benar membuat frustasi.

Tidak apa-apa jika Saya, seorang putri, harus membantunya membuka tutup botol. Tapi masakan Saya tidak terlihat semanis dia saat tersenyum.

Kalau dia seperti ini, jika dia menculikku, siapa yang mengambil keuntungan dari siapa?

Saya begitu kesal sehingga Saya berjalan berputar-putar sambil menunduk ke bawah. Tapi ketika Saya melihat ke atas, Saya melihat dia dengan ragu-ragu mencium botol itu.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Dia menghela nafas sedikit demi sedikit, sedikit mengernyit, dan agak malu saat berkata, "Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya aku mencium bau yang menyengat."

Bau tajam…

Saya diam-diam meremas bawang yang rusak di lengan bajuku, dan mengambil kesempatan untuk dengan diam-diam melemparkannya ke dinding saat dia tidak memperhatikan.  Berpura-pura batuk beberapa kali, Saya dengan tenang berkata, "Mungkin minumannya sudah kadaluarsa?"

Dia dengan patuh berujar, 'Oh'. Tapi wajahnya masih tampak agak bingung.

Saya dengan cepat mengubah topik pembicaraan, "Kamu adalah naga, apakah kamu pernah menculik seorang putri?"

Dia akhirnya mengalihkan perhatiannya dari botol air dan menggelengkan kepalanya, “Tidak.  Tapi, kali ini aku keluar untuk menemukan seorang putri. ”

Mata saya berbinar, "Saya seorang putri!"

Matanya melebar dan dia berseru dengan suara lembut, "Kamu seorang putri?"

"Apa maksudmu? Apakah saya tidak terlihat seperti seorang putri?"

Dia buru-buru melambaikan tangannya, "Tidak, tidak, hanya saja Saya belum pernah melihat seorang putri. Kata ayahku, semua putri sangat cantik. "

Kemudian, dia menambahkan, "Kata ayah saya, mereka semua jauh lebih cantik dibandingkan saya."

Saya: “……”

Saya merasa seakan Saya sedang dipandang rendah secara sopan.

Diunggah: 19-12-2019
Diterbitkan: 9-01-2020

[BL Terjemahan] ✓ Pangeran dan Naga Yang Tidak Tahu MaluTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang