Bad thoughts!

60.7K 1.6K 173
                                    

Happy Reading.

+

"Aliyaaaaa!" Tubuhku bergetar saat Jimin membentakku. Tangannya mencengkeram kuat lenganku dan matanya menatap tajam padaku. Bibirku bergetar hebat dan air mataku kembali lolos.

"Hiks!" Aku menunduk dan menangis. Aku tidak pernah bisa dibentak. Aku tidak suka, aku bukan seseorang yang suka kekerasan.

"Dengarkan aku!" Jimin memaksa wajahku untuk menatapnya. Wajahnya masih merah padam. Penglihatan ku semakin kabur karena air mataku terus saja mengalir. Isak tangisku tidak kuat hanya sedikit terdengar.

Aku tidak suka seperti ini! "Lihat mataku!" Aku menggeleng kuat. Mencoba melepaskan tangan Jimin dari wajahku. Aku tidak suka seperti ini. Aku benci Jimin yang seperti ini. "Kau tidak mau melihat aku? Aku lembut kau berontak, aku kasar kau tidak suka. Lalu apa yang harus kulakukan untuk menjelaskan ini. Kau tidak bilang kenapa. Aku datang kau berteriak dan minta Cerai. Kau warasss?"

Jimin semakin membentakku dan aku semakin menangis. Isak tangisku semakin kuat dan tenagaku semakin lemah. "Hiks!"

Jimin menarikku untuk mendekat padanya. Tubuh kami masih diatas ranjang. Jimin membawaku dalam gendongannya. Membawa Tubuh kami turun dari ranjang, dia menuju kamar mandi. Dia mau apa?

"Lepaskan" lirihku memukul dada Jimin pelan. Dia tidak bereaksi terus saja berjalan ke kamar mandi.

Brakk! Jimin menendang kuat pintu kamar mandi. Aku semakin takut, dia berjalan lurus, terus saja berjalan. Dia mau apa?

Jimin masuk kedalam Buth up dan mendudukkan tubuh kami disana. Dia mamangku tubuhku. Guruyan air membasahi tubuh kami. Jimin menyalakan airnya. "Lihat aku!" Intonasi suara Jimin melembut, tangannya menangkup wajahku dan membuat aku menatapnya.

"Kenapa hem?" Aliya menggeleng pelan. Aku tidak mau menjawabnya. Jemari Jimin mengusap pipiku dengan lembut.

"Katakan sayang!" Isakkanku kembali terdengar saat Jimin bertanya dengan lembut.

"Sayang!"

"Kau tidur dengan wanita lain kan?"

"Hah?"

"Jam 11 aku menelfon mu dan yang menjawab perempuan. Kau tidur dengan dia kan? Kau pasti melakukan itu. Kau selingkuh. Kau bilang mencintaiku tapi kenapa kau melakukan itu. Kenapa Ji. Kau jahat! Aku~~"

"Aliya Stop!" Bibirku terkatup mendengar suara pelan Jimin. Aku takut.

Jemari Jimin mengusap pipiku dengan pelan. Tatapannya berubah lembut dan aku hanya bisa menangis. "Biarkan aku menjelaskan ini. Jangan sela ini nde?" Aku mengangguk pelan. Aku takut Jimin marah lagi.

"Jam 11 aku masih meeting, dari aku berangkat sampai tadi jam 2 dini hari aku masih meeting dan jika kau tidak percaya bisa tanya Taehyung. Dia ada bersamaku dari jam yang ku sebutkan tadi. Dan untuk ponselku yang katamu kau telfon tadi, kau salah faham. Telfon ku hilang, aku tidak tau kemana hilangnya dan aku juga tidak mencarinya. Aku baru sadar saat ponselku hilang adalah saat akan pulang. Aku mencarinya dan tidak ketemu. Jadi semua tuduhan mu itu salah. Bagaimana bisa aku tidur dengan wanita lain sementara aku punya istri yang sangat cantik dirumah. Dan aku juga tidak tau jika perempuan yang mengangkat telfon mu tadi, mungkin dia yang menemukan telfonku. Sayang kau percaya padaku kan?"

"Aliya Park Jimin!"

+

"Ji!" Aku menggeliat saat Jimin mengusik tidurku. Tanganya terus saja mencolek pipiku. Benar-benar menyebalkan, aku masih mengantuk.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang