018

114 34 10
                                                  

Yoongi jelas-jelas tahu siapa pria di dalam foto itu. Ia meneguk ludah sekali sebelum memilih duduk di sebelah Jasmine.

Pria itu dengan samar melirik sang gadis. Ia melihat bagaimana air mata jatuh begitu deras di pipi gadis blasteran itu.

"Jeon, lama tak berjumpa. Apa tidurmu nyenyak?"

Yoongi tahu bukan saatnya ia menginterupsi kegiatan Jasmine. Melihat wajah sedih gadis itu terasa ganjil baginya. Jasmine selalu nampak riang dan ceria.

Ia tak pernah tahu gadis itu pandai menyembunyikan luka.

"Ini ulang tahunmu. Mungkin di sana kau masih 20 tahun, tapi di bumi ini, kau 23 tahun, Jung. Tiga tahun tanpamu terasa begitu berat bagiku," keluh Jasmine dengan tetes air mata yang menganak sungai.

Gadis itu mengusap kasar air matanya, meletakan kado yang ia beli bersama Yoongi di dekat nisan Jungkook.

"Kau harus tahu sampai kapanpun aku akan mencintaimu. Janji melamarku pun akan selalu kutunggu. Kita bisa melakukannya di atas sana kala waktuku tiba."

Jasmine tersenyum pedih, mengelus lembut foto Jungkook dengan tangan yang gemetar.

"Kurasa dua bodoh itu belum kemari, ya? Mereka pasti marah jika tahu aku kesini."

Jasmine mencoba tertawa, tapi Yoongi tahu jelas itu tawa terpaksa. Ia merasa sedih untuk gadis itu.

"Jungkook, setidaknya kau tak merasakan kesakitan dan penderitaan menjadi tua. Hidup kita ini takkan menghasilkan bahagia. Jadi, aku berterima kasih pada Tuhan karena Ia sangat menyayangimu."

Jasmine melirik Yoongi dengan cepat. Ia menggigit bibirnya cemas saat berkata lagi, "Tapi, aku takkan lupa membalas pembunuh keparat yang sudah menembakmu, Jung. Aku akan menukar nyawaku untuk membuatnya merasakan apa yang kau rasa."

Jasmine merogoh pinggangnya yang tertutup jaket, mendorong Yoongi yang tak tahu apa-apa hingga jatuh ke tanah.

Dengan gerakan gesit, pistol gadis itu sudah mendarat di rahang Min Yoongi. Ia menindih pria itu dengan air mata yang kembali jatuh saat memandang mata sehitam arang Yoongi.

Yoongi sempat terkejut, tapi ia tak boleh menunjukkan ekspresinya pada musuh. Jadi, saat gadis itu berhasil menindihnya, yang Yoongi lakukan pertama kali adalah membalik keadaan.

Jasmine jelas bukan lawan yang seimbang dibandingkan dengannya. Ia menindih gadis itu dan membuat pistol di tangan Jasmine terlempar jauh.

Ia menatap tajam pada mata kecoklatan yang Yoongi baru sadari nampak begitu indah namun penuh luka. Ia sedikit banyak merasa bersalah entah karena apa.

"Kau pandai menebak ya, J?"

Yoongi tersenyum miring, menguatkan cengkramannya pada tangan dan memblokir gadis itu untuk bergerak.

"LEPASKAN, BANGSAT!"

Yoongi terkekeh pelan. Ia mendekat pada telinga Jasmine dan membisikan kalimat yang langsung menyulut amarah gadis itu, "Jeonmu itu sudah mati di tanganku. Apa kau juga mau merasakan mati di tanganku, hm?"

Jasmine semakin menangis. Ia memandang sangat benci pada eksistensi di atasnya. Yoongi memang setenang danau, tapi saat dipukul batu, tentu bisa langsung bereaksi.

"Kau mencoba lawan yang salah, Nona."[]

ɓɭɑck cɑt. [ ɱiɳ yѳѳɳgi ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang