prolog

2.4K 350 63
                                                  

Budak cinta. Buta karena cinta. Dan istilah-istilah lainnya yang menunjukkan bahwa Kafka benar-benar bucin terhadap Olivia, semua dia terima saja. Tak peduli dengan pandangan orang lain tentang dirinya, entah itu dilabeli sebagai cowok yang kena pelet karena selalu melakukan segalanya untuk Olivia atau sampai menjadi cowok yang mudah tergoda pada sahabat mantannya sendiri. Kafka tidak pernah ambil pusing. Dia sendiri juga terus meyakinkan Olivia untuk tidak meladeni suara-suara itu.

Semua adalah masa lalu. Sebuah pengalaman yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran hidup untuk masa depan yang lebih baik.

Ini bukanlah tentang bagaimana bodohnya Kafka. Hanya prespektif orang lain terhadap cara Kafka menunjukkan rasa sayangnya untuk Olivia. Tidak terlalu sulit dicerna. Sesederhana itu. Dan Kafka bukanlah seseorang yang dengan senang hati membiarkan dirinya terbelenggu dalam sebuah hubungan yang rumit, terkecuali dengan Olivia.

Mobil yang dikendarainya melewati halte Garuda Taman Mini dan berhenti sejenak di persimpangan. Sore sabtu itu, memori pertemuannya dengan Olivia kembali berputar di kepala. Teringat bagaimana raut wajah Olivia yang serba salah di kursinya, memikirkan nasib dirinya yang sedang haid dahsyat. Kecemasan yang menggugah Kafka untuk melepas jaket jeansnya, bahkan menumpahkan susu stroberi yang dia beli di kantin kampus hari itu.

Seperti sedang bertelepati, Olivia tertawa kecil saat melihat senyuman yang merekah di bibir Kafka. Menarik perhatian lelaki yang baru saja selesai berfoto close up berdampingan untuk melengkapi dokumen wajib dalam penyatuan dua keluarga. Dia meletakkan kembali foto pose formal tersebut ke dalam tasnya.

Tanpa perlu bicara, Olivia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri Kafka yang menganggur. Berada pada tempat yang seharusnya. Layaknya melengkapi sesuatu yang memang diciptakan untuk berpasang-pasangan.

"Di halte tadi," kata Kafka menggantung, dia menatap Olivia sekilas sebelum kembali fokus mengemudi. "Tempat pertama kali kita ketemu."

Olivia menggeleng. "Bukan. Di halte tadi, tempat pertama kali Kakak nolongin Oliv."

"Apa bedanya?"

"Kalo ketemu, sebelum sampai di halte, Kakak kan udah numpahin susu stroberi dan kasih Oliv jaket."

"Jadi sebelum stop di halte ya?"

Adik kesayangannya Ghifari itu mengangguk membenarkan. Dia membiarkan Kafka dengan leluasa menggenggam tangannya. Merasakan dirinya seolah sedang bersatu padu dengan dunia.

Kafka menarik napas panjang. Menikmati tiap detik yang dilewatinya bersama Olivia. "Udah berapa tahun ya?"

Perempuan cantik itu mengingat-ingat. Menggerakkan jemari kirinya sembari berhitung. "Sekitar... lima tahun?"

"Wah, lama juga ya," tawa Kafka renyah. "Lima tahun yang lalu... haltenya masih ada. Udah direnov dan nggak sebuluk yang dulu. Mungkin bisnya sudah pensiun."

"Kayaknya gitu deh."

Mereka berdua tertawa.

"By the way, waktu turun, kursi yang dulu kamu duduki itu... udah kamu bersihin, kan?"

"Ya iyalah, Kak!" pekik Olivia meninggi. Tak terima karena keraguan Kafka yang tak langsung menuduh bahwa dirinya pergi tanpa membersihkan kursi itu. "Oliv sampai ngehabisin semua tisu dalam tas Oliv cuma buat bersihin semuanya. Lagian, nggak nemplok basah ke mana-mana juga. Dikata ngompol apa!"

"Kali aja, Liv..." kata Kafka menenangkan dan mengalah pada waktu yang bersamaan. "Kakak kan nggak tau."

Mobil kembali bergerak. Meninggalkan halte di mana mereka berpisah pada pertemuan pertama dan memberikan kesan manis untuk masing-masing hati, berjalan menuju jalur yang akan mengantarkan mereka ke tol Jagorawi.

Strawberry GirlfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang