Chapter 7 : Malam pernikahan

Mulai dari awal
                                    

Plaakk

Sebuah tamparan mendarat dipipi arinka, giska dengan berani menampar wajah arinka sehingga membuat wajah arinka memerah, arinka ingin menangis karena ini pertama kalinya dia diperlakukan dengan buruk, tetapi arinka berusaha tak membalas tamparan giska walaupun dalam hatinya ia ingin membalas.

"dasar jalang murahan, beraninya kau meremehkanku, kau bilang hormat berbicara sopan, HAH sungguh menggelikan" pekik giska

"aku bukan jalang, sekali lagi aku istri sah, kalau kau suka setengah mati sama Si tuan Arogan itu ambil saja aku juga muak dengan kalian, jangan mentang-mentang aku diam kalian bisa seenaknya denganku,melukai harga diriku, jika kau ingin menikahinya cari cara agar kami bisa berpisah, aku sangat bahagia dan terima kasih"

Kreekk

Pintu kamar mandi terbuka, renza keluar menggunakan handuk yang hanya membalut bagian bawah sedangkan dadanya dibiarkan polos.

"ada apa ini?" tanya renza

Giska segera berlari kearah renza, dan arinka segera membalikan badan melihat tubuh atletis renza.

"gadis kampungan itu beraninya dia memanggilku jalang" fitnah giska

Arinka terkejut padahal giska la yang berbicara seperti itu kepadanya dan menamparnya pula, giska pura-pura menangis didepan renza.

Dasar wanita licik batin arinka

"beraninya kau arinka, kau baru menjadi istriku belum satu hari tapi sudah berani mengatakan keburukan kepada pacarku, dasar tak tau di untung, sudah aku bilang urusan wanitaku kau tak boleh ikut campur"

Giska tersenyum jahat penuh kemenangan karena telah di bela oleh sang kekasih,sedangkan arinka hanya menahan tangis mendengar perkataan menyakitkan itu.

"tadi kau berani bicara didepanku, kenapa sekarang kau mendadak diam, dia tidak berani bicara didepanmu yang, padahal aku lah yang tersakiti disini" ucap giska

Arinka hanya menangis sambil membelakangi renza dan giska, arinka lalu meneguk air digelas dan segera keluar dari kamar hotel dan pergi meninggalkan meraka berdua.

Arinka berjalan menuju taman, ingin sekali arinka pulang tapi arinka tak ingin membuat bi yati khawatir pasalnya ini malam pernikahannya, masa iya pulang.

Arinka duduk di sendiri di bangku taman memakai piyama, arinka menangis teringat perkataan renza yang menyakiti hatinya, aku benci orang seperti renza dan giska batinnya.

Dikejauhan arinka melihat renza dan giska berjalan menuju mobil dan pergi entah kemana, sungguh miris nasibku malam pernikahan ditinggal suami berselingkuh jerit arinka dalam hati.

"hah, sebentar lagi hatiku akan keras seperti batu,selalu tersakiti terus sungguh sial" gumamnya sambil menangis.

Arinka melihat sekitar ada seorang laki-laki yang melihat kearahnya,arinka merasa curiga dan takut, kemudian arinka duduk berpindah tetapi lelaki itu ikut berpindah.

"Siapa disana?" teriak arinka

Tiba-tiba muncul seorang lelaki gagah,lelaki itu sangat tinggi dan tampan menuju kearah arinka dan duduk disampingnya.

"Bu arinka, perkenalkan saya Denista bisa panggil saya Deni,saya tangan kanannya Pak Renza, maaf sudah membuat ibu takut,saya kesini atas perintah tuan renza"

"kenapa dia memberi perintah?" jawab arinka sambil menahan isak tangis

"iya bu, tuan renza memang memberi perintah bahwa harus mengawasi gerak gerik ibu agar tak melapor kepada nek murti"

"Astagaa segitu takutnya Tuanmu itu kepada neneknya, dasar" arinka tak berani melanjutkan kata-katanya karena Deni terus memandangnya dengan sorot tajam.

"kenapa kau melihatku begitu, ada yang salah denganku, oh ya aku tau aku wanita kampungan, miskin, menjijikan, dan juga jalang" pekik arinka sambil menangis

Deni hanya diam, tak menjawab perkataan arinka,deni merasa iba melihat arinka yang merutuki dirinya sendiri.

"Apa salahku? Kalau terlahir menjadi orang kampung apa itu salah, kalau terlahir miskin apa itu juga salah, bukan salahku bila aku menikah dengan Tuanmu itu, aku hanya terpaksa dan aku juga tak mencintainya"

Hiks hiks arinka menangis semakin menjadi dan terus mengoceh

"aku juga tak ingin menikahinya, aku sangat membenci dirinya, kelakuannya sangat memalukan bagiku, didepan neneknya dia baik padaku, sedangkan dibelakangnya dia memaki aku, dasar pria munafik, omong-omong kamu ada tisu?"

Seketika Denis tertawa sambil menyodorkan sapu tangan,sungguh gadis lugu batinnya.

Bersambung..

Dukung aku ya dengan cara beri kritik dan saran, jangan jadi pembaca gelap tanpa menghargai penulis..

Luv U 😘

Suamiku, Cintai Aku! (Eksklusif Di Noveltoon dan Mangatoon) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang