One

26 1 0
                                                  


Sakit,. 

Rasanya sudah tidak bisa di jelaskan lagi, lehernya sakit, dadanya sesak, sulit untuk bernafas, tangan besar itu mencekik lehernya, ia lelah, sudah sangat lapar bahkan tidak mampu mengangkat tangannya untuk melawan, mungkin, ia akan menyerah saja.

Matanya mengerjap berapa kali, mata yang berwarna coklat muda, hingga kemerahan, mengernyap berapa kali hingga tiba ia menutup matanya rapat, mungkin, ini saatnya, ia bisa beristirahat dengan tenang, setelah ini, semua mungkin akan berakhir.


Cahaya yang tajam, menusuk hingga ke mata, tapi bahkan saat matanya belum bisa membuka dengan jelas, ia sudah mendengar suara ribut di sekitarnya.

"Luca! Luca ku sayang!" Suara wanita, melengking dengan nada berat, suaranya tertahan beberapa saat seperti menahan nafasnya, suaranya sesak, berusaha mengambil nafas kembali sebelum ia berseru kembali.

"Luca! Huks" ia menangis, suara Isak tangis yang berat.

Lembut sekali, permukaan di mana ia berbaring, lembut dan empuk, nyaman dan udara ini, udara yang berhembus di wajahnya bersih, tidak berbau, panca inderanya mulai berfungsi, perlahan ia membuka matanya, tempat itu, sangat asing, suaranya juga asing, apalagi, orang-orang yang melihat ke arahnya, semua sangat asing, tapi, mereka terlihat hangat, senyum, di balik air mata yang menuruni pipi mereka, pria yang tampan, wanita yang cantik, mereka tersenyum ke arahnya, apakah, ini mimpi, atau, ini mungkin yang namanya surga, ingin sekali menikmati semua lebih lama, tapi ia lemah, suara desah nafasnya di balik masker oksigen berat, mungkin, akan tidur saja kembali, menikmati mimpi, yang sangat indah ini lebih lama, setitik air mata mengalir menuruni sisi mata pemuda itu, matanya yang lelah, cahaya kehidupan yang redup, bahkan seolah perlahan menghilang, api itu, tidak adalagi di matanya, sebelumnya tidak ada, dan kini, ia semakin redup.

"Luca" wanita cantik itu maju ke depan dan meraih tangan pemuda itu, menggenggamnya seolah tidak akan melepaskannya, airmata yang turun tidak terbendung, ia terisak bagai anak kecil, dadanya sakit, di genggam tangan lemah itu mengecupnya berulang kali.

"Huks Luca"


~~~

The Boy Name is LucaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang