Day 2 : SATU bagian 1

58 8 0
                                    

"La!" Suara Brian bergema di sepanjang koridor ketika pemuda itu menginginkan atensi salah satu gadis di dekat ruang ganti.

Kyla, sang pemilik nama, menoleh dengan wajah tak bersahabatnya. Ia benci saat Brian menarik perhatian orang-orang di sekitar gadis tersebut dan menjadikan mereka pusat gravitasi.

Sementara itu, Brian dengan santai menghampirinya dan merangkul pundak Kyla. Ia sama sekali tidak peduli pada anggota AGT yang menatapnya jengah.

"Nanti sore ke Jingga, yuk! Gue traktir."

Setelah memastikan semua team-nya di club basket pergi, Kyla serta merta menyipitkan mata sembari melipat kedua tangan di depan dada. "Tumben. Biasanya lo nggak seantusias ini kalau kita mau ke Jingga."

Brian hanya tersenyum. "Gue kan udah janji sama lo mau traktir kalau pertandingan lo sukses kemarin. So ...."

Kali ini sebuah bulan sabit perlahan terbit di wajah Kyla. "Gue kira lo bakal lupa."

"Gue nggak akan lupa kalau itu tentang lo."

Kedua alis Kyla menyatu, tapi tak lama kemudian gadis itu kembali tersenyum dan berkata, "Kalau gitu, sampai ketemu nanti, gue masih ada urusan sekarang." Kyla hendak melenggang sebelum kembali berujar, "Eh, tapi lo jangan ngikutin gue!"

Brian terkekeh. Kyla selalu tahu hal bodoh yang tanpa sengaja dilakukannya tatkala berdekatan dengan gadis tersebut. Anehnya, Brian pun baru menyadarinya akhir-akhir ini.

"Bri!" Seruan itu membuyarkan lamunannya. "Entar sore kita jadi nongkrong, 'kan?"

Dia Bagas, salah satu teman dekat Brian di sekolah. Atau lebih tepat, salah satu tiket Brian menuju kepopuleran.

"Jadi."

"Sip, gue ajak Viona juga," bebernya sambil tersenyum menggoda.

"Thanks, bro. See you di Jingga entar sore!"

"Sip, sip!"

Tepat ketika Bagas berbalik, senyum yang sejak tadi menghias paras Brian perlahan memudar. Jantungnya mendadak bertalu kala memikirkan rencananya untuk mendekatkan Kyla dengan Bagas dan lainnya. Meskipun ia tak begitu yakin lantaran teman-temannya pernah menyimpuk Kyla karna dekat dengannya.

Kyla tidak akan senang, tapi Brian harus mencoba. Dia ingin memberikan semua hal terbaik untuk gadis yang disayanginya itu. Tentunya dengan cara tersembunyi. Ia masih belum bisa mengungkapkan perasaan tersebut ke permukaan.

Teman-teman satu gengnya tidak akan setuju. Bagi mereka, Kyla tidak pantas ada di sampingnya. Brian tahu itu. Namun, semakin ia menyanggah, perasaan yang ia miliki semakin kuat setiap detik. Ia jatuh cinta pada Kyla tanpa sebab. Sekarang yang harus ia lakukan adalah memastikan jika sahabatnya tersebut merasakan hal yang sama. Dia akan membuat Kyla cemburu.

What Happened To Perfect? Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang