New Life.

85.6K 1.9K 150
                                    


Happy Reading.

+

"Park Jimin keluar dari selimut dan mandi. Awas saja jika dalam 10 menit kau tidak keluar!" Aku mendengus setelah berteriak untuk kesekian kalinya. Hampir setiap hari dipagi hari Jimin membuat aku emosi. Sialan, dia tidak berubah.

"Sayang biasakan kau tidak berisik. Ini masih pagi!" Aku melihat Jimin turun dari tangga sambil terus saja mendumel. Kupilih mengabaikan dia dan kembali menata sarapan kami.

"Aliya Park Jimin?" Aku berbalik dan menatap Jimin dengan kesal. Tidak bisakah langsung duduk dan makan.

"Apa?" Dia menunjukkan bajunya yang masih acak-acakan dan aku semakin kesal. Kemana perginya Park Jimin yang rapi dan mandiri? Kenapa sekarang yang ada hanya Park Jimin yang menyusahkan dan manja.

"Aish!" Kiraih kerah kemejanya dengan kesal dan menariknya dengan kasar. Jimin diam dan pura-pura tidak tau apa yang kurasakan. Dia tau kalau aku kesal hanya saja pura-pura bodoh.

"Yang benar!" Aku mendongak dan menatapnya jengkel. Memang apa bedanya benar dan tidak!

"Berisik!" Kebenaran baju Jimin dengan cepat. Aku malas berlama-lama seperti ini.

"Sarapan!" Ketusku yang akan berlalu kedapur tapi suara Jimin membuatku berbalik dan menatapnya luar biasa kesal.

"Ini bukan Racun seperti pagi kemarin kan?" Mataku melotot saking kesalnya. Dia bilang makanan ini racun?

"Tidak usah Makan sekalian. Pergi saja sana!" Aku yakin jika suaraku benar-benar keras. Masa bodoh dengan Jimin yang tuli. Dia selalu membuatku emosi akhir-akhir ini.

Kuhentakkan kakiku meninggalkan dia. Masa bodoh mau makan atau tidak. Aku tidak peduli, cari saja makanan diluar. Sudah susah payah dimasakkan malah bilang masakannya racun! Besok-besok keberikan racun saja sekalian. Biar saja dia mati. Dasar Idiot.

+

Aku tidak keluar dari kamar. Setelah bertengkar dengan Jimin tadi aku tidak kemana-mana. Jimin pergi kekantor, tentu aku mendengar suara mobilnya. Dia tidak menyusulku dan aku jadi semakin kesal. Dia tidak sadar jika salah? Dasar sialan.

"Ayahmu Sialan sayang!" Kuusap perutku dengan lembut. Masa bodoh dengan anak kami yang kesal dengan Jimin. Dia harus tau jika ayahnya sangat menyebalkan.

Punya ayah menyebalkan juga buat apa, buang saja kelaut. Dasar bodoh. Ayahmu bodoh sayang! Kau harus tau itu.

Perutku berbunyi dan aku lapar tentu saja. Dari tadi aku tidak makan. Sibuk kesal dan marah dengan Jimin aku lupa makan. Ah hari yang buruk. Menyebalkan.

Aku turun dari ranjang dengan malas, aku harus makan. Bukan untukku saja, tentu saja untuk anak Park Jimin menyebalkan ini. Aish.

"Yaaa" aku berteriak saat melihat Jimin duduk manis didepan pintu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Yaaa" aku berteriak saat melihat Jimin duduk manis didepan pintu. Pakaiannya Masih sama seperti tadi pagi. Dia duduk sambil bersendekap dada dan matanya terlihat datar. Dia tidak berangkat kerja? Lalu tadi siapa?

"Jadi?" Aku yang sadar langsung mendecih. Berbalik dan kembali menuju kamar tapi tanganku lebih dulu dicekal. Ah sialan.

"Perlu sarapan Aliya? Kau lupa jika yang butuh makanan bukan hanya dirimu? Ada anakku didalam tubuhmu jadi jangan lakukan hal bodoh dengan mengunci diri dikamar, mengabaikan sarapan dan keluar dari kamar jam 1 siang. Aliya dengarkan aku, aku tidak akan mentoleransi hal seperti ini lagi. Jika besok ini terjadi lagi ku pastikan pintu yang kau kunci ini jadi abu"

Ancaman Jimin membuatku gentar. Jika sudah seperti ini, Jimin seperti dulu. Dimana Jimin yang selalu menang akan keinginannya dan selalu mau menang. Tidak mau mengalah dan selalu memonopoli. "Sarapan!" Hampir saja aku memekik saat Jimin justru membawaku kedalam gendongannya. Turun kebawah dan aku yakin jika dia akan membawaku kedapur untuk makan.

Tiba-tiba aku memikirkan hal yang Jimin katakan. "kau hanya peduli pada anakmu?" Tanyaku sinis.

"Tanyakan pada dirimu sendiri. Apa aku terlihat seperti orang yang penuh pilih kasih. Perlu kau garis bawahi, dia bukan hanya anakku, tapi anakmu juga. Kau lupa jika dia tumbuh dalam tubuhmu?" Cetus Jimin dingin dan mendudukkan diriku di meja makan.

"Duduk diam. Aku akan memasak!"

+

"Tidak mau Ji. Disini saja!" Aku merengek saat Jimin akan mandi. Kutarik kerah kemejanya dan dia kembali terjungkal keranjang. Kuraih tangannya dan menaruhnya di perutku. Kuusapkan dengan pelan, dan Jimin hanya menurut.

Aku tersenyum merasakan usapan lembut Jimin tanpa kugerakkan. Akhirnya dia sadar juga. Ah andai Jimin jadi penurut seperti ini setiap hari! Kami baikan tentu saja. Jimin mengalah dan tidak ketus lagi.

"Ada keluhan lain Nyonya?" Suara Jimin membuatku jengkel. Aku suka usapan dia juga karena anaknya. Kenapa dia harus sewot seperti ini. "Usap saja. Kenapa kau banyak tanya?" Ketusku dan memejamkan mata. Malas aku bertengkar dengan Jimin.

"Sayang ini sudah sore. Aku harus mandi, jam 7 aku ada rapat!" Kupilih Diam dan mengabaikan Jimin. Berisik, dia tidak tau aku ingin tidur.

"Aliya~~~"

"Yaya sana pergi dan mandi. Aku risih mendengar rengekanmu!" Ketusku dan memunggungi Jimin. Selalu saja berisik jika ingin sesuatu.

+

Ini sudah tengah malam dan kenapa Jimin belum pulang juga. Jimin tidak pernah pulang sampai selarut ini. Paling larut adalah jam setengah sebelas malam dan ini hampir tengah malam. Kemana dia.

Aku tidak mengantar dia tadi, bahkan saat dia pamit aku juga tidak menoleh tadi. terus saja memunggunginya. Dia membuatku kesal, Jimin memamg pamit dan mencium keningku, hanya saja tadi aku masih kesal. Jadi dia kuabaikan.

Ingin kutelfon tapi aku masih kesal dengan dia. Tapi jika tidak kutelfon juga aku khawatir sendiri. "Aish!" Kuraih ponselku dengan kasar dan mencari dial nama Jimin. Sialan, dia benar-benar tau caranya membuat aku kesal.

"Yakh Park Jimin Sialan kenapa kau tidak pulang hah? Ini jam berapa?" Aku berteriak saat panggilan ini tersambung.

"Istri Jimin?" Ponselku terjatuh saat mendengar suara perempuan yang menjawab telfon Jimin.

"Perempuan?" Tubuhku tiba-tiba lemas. Apa Jimin sedang bersama perempuan? Ditengah malam seperti ini? Apa yang mereka lakukan?

"Jimin?" Air mataku tiba-tiba mengalir, menangis tanpa mengambil ponselku yang sepertinya masih tersambung. Aku terisak, bagaimana bisa Jimin bersama perempuan disaat seperti ini? Apa dia selingkuh?

"Arhhhhh!"

+

Aku tidak tidur semalaman, mataku bengkak dan aku hanya diam menggulung tubuhku diatas ranjang. Memperhatikan jam yang terus saja berputar. Suaraku sudah bilang dan nafasku sesak. Kepalaku pusing, dan hidungku juga sudah mampet. Aku menangis semalaman, jam sudah menunjukkan jam 4 pagi dan Jimin tidak kembali.

Jawabannya pasti, dia tidur dengan perempuan tadi. Jimin selingkuh. Aku kembali menangis. Rasanya sakit bodoh, kenapa bajingan itu melakukan hal Laknat seperti itu. Dia mengatakan selalu mencintaiku tapi kenapa dia selingkuh. Laki-laki Sialan, Bangsat, Bodoh, Idiot, Jimin Brengsek.

"Sayang!" Aku terdiam mendengar suara yang diyakini adalah Jimin. Aku berbalik dengan cepat.

"Aku Minta Cerai!" Teriakku kesetanan.

Tbc.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang