16. Pewaris

18K 4.6K 422
                                                  

Kemaren sih sempet ada drama dalam hati eikee, terus males ngelanjut ini. Hahahaa tapi untung aja si drama gak berubah jadi sinetron indo. Makanya, cepet berlalu dari hati eike yg selembut beludru ini.

Baiklah, happy reading yaaa...

***

Tidak ada yang mereka kerjakan selepas sekretaris Affan meninggalkan hotel. Keduanya hanya berbincang mengenai hobi dan juga makanan kesukaan. Anin menolak membicarakan hidupnya, namun Affan tidak keberatan menceritakan segala hal yang telah ia lalui untuk sampai pada tahap ini.

Lelah berbincang, Anin menyerah dan mengatakan ingin berbaring sebentar. Namun kantuk rupanya ikut datang, jadi tak hanya berbaring, Anin pun terlelap juga. Hingga tak lama berselang Affan mengikutinya dan naik ke ranjang.

Hanya tidur siang.

Tak ada yang mereka lakukan selain berlomba meleburkan penat lewat buai alam bawah sadar. Mengizinkan mimpi hadir bila ingin turut bergabung dalam petualangan setelah mata terpejam. Mereka bersisian di ranjang yang sama. Tanpa menyentuh satu sama lain. Tanpa ada yang berniat mencuri kesempatan dalam kesempitan.

Lalu, saat jagad raya mulai bermain dengan warna demi menyambut senja, mereka membuka netra. Tersenyum kikuk dan kembali dikuasai kecanggungan. Sampai akhirnya, Affan berinisiatif menjadi pihak yang paling aktif. Ia menyandarkan punggung pada bantal yang ia susun tinggi, sementara Anin duduk bersila dengan mata menatap jendela.

“Kamu suka senja?”

Anin menggeleng seraya menyugar rambut panjangnya yang berjatuhan ke sisi wajah. “Aku nggak menyukai banyak hal, Fan. Dan menurutku, senja salah satunya.”

“Kenapa?”

Anin mengedik, ia pandangi Affan sekejap sebelum kembali melarikan cakrawalanya menikmati pendar jingga yang mulai terlihat. “Untuk apa menjadi indah kalau hanya singgah? Karena menurutku, senja adalah peristiwa paling antagonis yang berkedok sebagai pemanis. Padahal, dia hanya bertugas sebagai pengantar sebuah perpisahan yang tragis.”

Memeluk lututnya, Anin tersenyum muram. Ia menatap Affan sekali lagi, lalu memutuskan mengganti lengkungan bibirnya menjadi lebih tulus.

“Sebagai pemisah antara batas waktu, senja seharusnya nggak dikasih keistimewaan itu ‘kan?” tanya Anin memastikan. Lalu mencari ikat rambutnya di balik bantal namun tak ia temukan.

“Kalau menurutku, senja malah yang paling menderita,” Affan menemukan yang tengah dicari istrinya. Menunjukkan pada wanita itu lalu bergeser mendekat ke balik punggung. “Senja yang paling menderita. Karena dia di takdir hanya sebagai pemisah. Padahal dia udah berdandan paling elok. Tapi tugasnya di langit hanya untuk mengantar matahari ke peraduan. Sekaligus menjemput bulan, lalu dia menghilang. Tragis ‘kan?”

Anin membiarkan Affan berada di balik punggungnya. Ia juga mempersilakan pria itu untuk membantu menyatukan rambutnya, agar terikat rapi. “Enggak tragis andai dia mau menolak tugas itu. Tapi nyatanya, senja nggak pernah menolak. Dia tetap berada di sana, memamerkan keindahannya.”

Sambil tertawa mendengar perkataan Anin, tiba-tiba ia menyukai tekstur rambut wanita itu yang bersentuhan langsung dengan kulitnya. “Di dunia ini, banyak hal yang nggak bisa kita jalani sesuai keinginan kita. Termasuk senja ini, Nin. Dia nggak suka, tapi karena ini tugasnya, dia bisa apa coba? Lagipula, keindahan yang dia pamerkan itu, semata-mata agar dunia tahu kalau eksistensinya juga ada. Ngomong-ngomong, rambut kamu wangi.”

“Kamu nggak lagi modusin aku ‘kan?” tuduh Anin setengah geli.

“Enggaklah,” sangkal Affan segera. “Tapi, kalau ngemodusin kamu juga nggak masalah ‘kan? Istri sendiri.”

Bening Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang