2. Who is He?

34 8 1
                                    

Memang benar jika penyesalan datangnya di belakang. Hal itulah yang membuat Kaisar uring-uringan sepanjang sore hingga langit mulai menggelap. Ia merasa cemas dan dihantui rasa bersalah karena tadi sudah meninggalkan Renka.

Jika Renka dan Rega akan membicarakan tentang surat cinta, atmosfer yang terasa saat keduanya bertemu mestinya tidak setegang tadi. Kaisar menyesal karena baru menyadari hal tersebut saat ia sudah sampai di rumah.

"Ck! Kenapa gue parno sendiri?" keluhnya sembari mengacak rambut.

Langkah lebar Kaisar melenggang menuju balkon kamarnya. Barangkali jika berada di luar ruangan, pikirannya yang sedang gelisah itu bisa sedikit teredam.

Sesampainya di luar, Kaisar mencoba menenangkan pikiran dengan duduk di bean bag empuknya. Namun, meski suasana area balkon kamarnya cukup asri, ternyata Kaisar belum bisa rileks. Beberapa tanaman kecil di sekitar pagar balkon yang biasanya tampakmenyejukkan, malam ini terasa biasa saja di mata Kaisar. Ia belum bisa bernapas lega sebelum memastikan bahwa Renka benar-benar dalam keadaan baik.

Kaisar sigap kembali masuk ke dalam, mengempaskan tubuhnya di atas ranjang dan mulai megusap layar ponsel yang barusan disambarnya dari nakas. Pemuda itu lekas membuka aplikasi WhatsApp dan mengetikkan sebuah nama di kolom pencarian kontak.

Kaisar tanpa sadar menahan napas dan kembali dilanda keraguan. Selama ini, ia jarang chatting dengan teman kelasnya. Sangat canggung apabila ia tiba-tiba mengakrabkan diri.

Kaisar pun kembali meletakkan ponselnya di nakas dengan lesu. Sekarang ia mencoba berpikir positif bahwa Renka pasti baik-baik saja. Anggota OSIS yang dijadikan panutan itu tidak mungkin melakukan hal sembrono, sehingga ia tidak perlu mencemaskan gadis tersebut.

Kaisar merebahkan dirinya lagi, tapi tetap saja, ia tidak bisa tenang. Matanya melirik lagi gawai pipih tersebut dengan konsentrasi penuh seolah jika ia berkedip benda itu bisa raib. Setelahnya Kaisar benar-benar memantapkan niat. Ada satu orang yang bisa ia manfaatkan. Segera ia mengetik pesan dan mengirimnya dalam satu kali tarikan napas.

Kaisar: Ra.

Kaisar membuka Instagram untuk mengisi waktu sampai ada balasan dari Maura, ketua kelasnya sekaligus teman dekat Renka. Dalam suasana hati normal, pemuda itu pasti akan lupa waktu saat sudah menyelami aplikasi tersebut, tapi kali ini ia gusar tidak karuan.

Jantung Kaisar seakan melompat ke perut saat pop-up pesan muncul di layar ponselnya. Maura langsung memberondongnya dengan banyak chat balasan.

Maura: EH BANG KAI!

Maura: Ada apa nih malam-malam chat gue?

Maura: Bentar-bentar.

Maura: Kalau lo mau ngamuk masalah senar gitar yang putus bukan gue pelakunya.

Maura: Noh si Nijar main gitarnya kekencengan.

Kaisar menghela napas saat membaca deretan chat dari Maura. Ketua kelasnya itu seharusnya tidak memilih gitar sebagai pokok bahasan dalam obrolan ini.

Kaisar: Bukan itu.

Kaisar: Teman lu.

Kali ini tanda centang biru langsung muncul. Maura pun terlihat segera mengetik balasan. Kaisar berharap-harap cemas dan menggigit bibir sembari fokus memandang layar. Kaisar berharap Maura langsung peka dengan maksud chat-nya.

Maura: Siapa dah? Teman gue banyak.

Kaisar berdecak. Ia menyisir rambutnya dengan jemari karena bingung memikirkan jawaban yang harus diberikan kepada Maura. Pemuda itu tidak mau terang-terangan menyebutkan nama Renka karena gengsi, tapi jika harus melontarkan petunjuk sekali lagi, otaknya sudah tidak bisa diajak kompromi. Gugup membuatnya kehilangan cara berpikir.

ResetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang