Candy Boy (Chapter 19)

518 166 60
                                          

     “Kau tahu, sebenarnya hubungan Sehun dengan ayahnya tidak sedekat itu. Mereka sangat jarang berbincang. Sehun juga jarang mengunjunginya. Kurasa kau juga bisa melihatnya sendiri, karena kau isterinya.”
     “Tapi dia menangis.” kata Yoona—tak sepenuhnya sepaham dengan perkataan Manager Ji.—karena tadinya dia melihat langsung. Suaminya itu menangis hingga tersedu-sedu.

     Saat ini mereka sedang menunggu di samping mobil. Menunggu Sehun yang belum berkeinginan meninggalkan makam ayahnya. 2 jam sudah berlalu. Bahkan langit mulai meredup. Rekan dan keluarga sudah pada pulang, hanya Yoona dan Manager Ji masih setia menunggunya disana.
     “Sebaiknya setelah ini kau mencari Daniel. Aku kesulitan menghubunginya.”
     “Apa Sejeong juga belum bisa menghubunginya?” Yoona kembali khawatir. Karena hingga kini Daniel tak juga ditemukan. Sejak kemarin, hingga ayahnya sudah dimakamkan, Daniel tak juga terlihat.
     Manager Ji menggeleng lesu. “Dia pasti sangat terpukul hingga memilih bersembunyi seperti ini.”
     “Paman, sebenarnya aku masih belum begitu memahaminya. Apa yang membuat Sehun dan Daniel tampak begitu kaku ketika berhadapan dengan ayah mereka? Jelas sekali mereka sangat menyayanginya.”
     “Ketua termaksud kejam dalam mendidik.” Kening Yoona mengerut. “Bukan mengenai fisik. Tetapi mental.”
     “Maksud Paman, mereka merasa tertekan?”
     Manager Ji mengangguk. “Sejak kehilangan isterinya, ia menjadi pribadi yang keras. Terutama ketika menghadapi kedua puteranya. Awalnya aku tidak begitu mengerti, mengapa dia bisa berubah seperti itu. Mungkin itu hanya efek dari rasa terpukul karena baru saja kehilangan isteri tercintanya.”
     “Daniel masih sangat kecil. Karena itu Sehun lah yang lebih dulu merasakan bagaimana tertekannya hidup dimasa itu. Ia tidak bisa memilih, ayahnya sudah lebih dulu menyiapkan masa depannya.”
     Yoona masih mencoba memahami itu. Karena selama ia bersama ayah metuanya, ia tidak merasakan sisi lain dari mertuanya itu.
     “Tapi jika kita melihat dari hasilnya. Kurasa apa yang diinginkan ayahnya sudah tercapai. Semuanya tak lain hanya untuk kebahagiaan puteranya.”
     “Hidup tanpa isteri sungguh sulit. Apalagi jika kau masih sangat mencintainya. Dalam sekejap kau dipaksa untuk merawat kedua puteramu tanpa pengalaman sedikit pun. Sedangkan selama ini yang kau lakukan hanya bekerja dan bekerja. Kau tidak mungkin menyerah, karena mereka tetaplah anakmu.”
     “Karena aku juga seorang ayah. Jadi aku mencoba untuk memahaminya. Dan kau, kau juga harus bisa memahami Sehun. Mengapa dia bisa sekaku sekarang. Cobalah untuk mengerti itu.”
     “Jika memang dia menangis, aku yakin tangisnya tak lain adalah sebagai rasa penyesalan, karena selama ini belum bisa bersikap lebih baik kepada sang ayah.”

--

     Mereka baru saja mengantar Manager Ji pulang. Sebenarnya Manager Ji berniat menyetir hingga rumah bosnya itu, tetapi Sehun bersikeras ingin menyetir sendiri. Sepertinya usai itu dia akan segera mencari adiknya.

     Benar sekali. Saat ini mobilnya tengah mengarah ke asrama. Tempat dimana yang selama ini Daniel tempati. Sementara itu Yoona terus berusaha untuk mengubungi nomor Daniel, namun tetap tidak mendapatkan jawaban.

     Sehun parkirkan mobilnya di sebuah jalan bersama barisan mobil lainnya yang terparkir rapi di tepinya. Dilihatnya rumah 2 tingkat yang ada di samping mobilnya. Rumah itu dulunya sengaja ia beli agar dapat ditempati Daniel dan teman-temannya. Karena agensi yang menaungi adiknya tidak sehebat itu.
     Seharusnya aku beli permen dan jelly dulu.
     Pikir Sehun sembari berjalan menuju pintu masuk bangunan itu. Dibelakangnya Yoona mengikuti dengan tenang. Sehun menekan bell pada pintu besi rumah itu. Tak terduga, pintu besi itu terbuka tanpa harus menunggu lama. Tapi bukan Daniel yang terlihat, melainkan temannya.
     “Oo? Burger nuna?” ujar remaja tampan yang sedang menatap Yoona bahagia.
     “Ong?”
     “Wah.. Nuna bahkan mengingat namaku. Haha.. Aa, nuna mencari Daniel?” ia melirik Sehun sesekali, tetapi tetap fokus pada Yoona. Sesungguhnya tak ada satupun dari teman Daniel yang mengetahui wajah Sehun—mereka hanya tahu bahwa Daniel memiliki seorang kakak yang kaya raya.
     “Daniel ada di dalam?” sambar Sehun tak sabaran. Ong tampak gugup ketika mendengar suara rendah Sehun, ditambah raut datar wajah Sehun yang selalu sukses membuat orang gugup ketika berhadapan dengannya.
     “A-ada. Daniel ada di kamarnya.” jawabnya tak berani menatap Sehun. “tapi.. Sebenarnya dari kemarin dia belum keluar dari kamar. Dia juga mengunci pintu dari dalam.”
     “Tunjukkan padaku dimana kamarnya.”

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now