13. Dia Sakit

16.5K 4.7K 418
                                                  

Aku lagi nggak bisa berkata2. Nggak bisa bikin AN juga.

Yaudahlah happy reading ajaa ya...

***

Saat ia berusia sembilan tahun, ia sudah berpisah dengan ibunya.

Saat ia berusia sembilan tahun, semesta membuat kejutan dengan mengirim sosok ayah yang selama ini ia idamkan dalam diam.

Dan ketika usianya masih semuda itu, ia sudah paham konsep tidak diterima dalam kehidupan. Ia adalah kesalahan yang tak sengaja dilahirkan. Dirinya merupakan bentuk nyata dari dosa kedua orangtuanya yang tidak menikah. Lalu, semua hukuman itu seakan jatuh padanya.

"Aku nggak akan terima dia! Aku nggak akan terima anak harammu!"

Suara Nirmala kala itu masih terngiang hebat di kepalanya. Membuat langkah Anin terseok dan ia jatuh beberapa kali ketika baru saja turun dari taksi.

"Papa! Papa!"

Ia menggedor pagar tinggi rumahnya sambil berteriak memanggil ayahnya.

Tak ia hiraukan seruan supir taksi yang meminta ongkos, ia masih terus menggedor hingga tak lama berselang satpam rumah membukakan pagar untuknya dengan ekspresi kaget. Sekali lagi, Anin tak menghiraukan mereka. Memacu larinya, sementara air mata terus mengalir deras.

"Papa!"

"Mbok! Antarkan Bening ke kamarnya!"

"Enggak! Dia nggak boleh masuk rumahku!"

Ingatan-ingatan mengenai awal mula ia sampai di rumah ini, membuat lukanya makin menganga perih. Ia tak sanggup lagi berlari. Hingga ia terjatuh dengan lutut menghantam tanah.

"Neng?"

Anin mendongak dengan mata basah. Di sebelahnya ada satpam yang tadi membukakan pintu untuknya. "Papaku?" bisik Anin tercekat. "Papaku mana?" ia sudah tak sanggup berteriak.

"Bapak ada di dalam, Neng, mari saya bantu?"

Anin menggeleng kuat, napasnya masih compang-camping setelah berlarian keluar dari rumah Affan lalu menyetop taksi untuk mengantarkannya ke sini. "Papa?"

Satpam tersebut menggaruk kepala, kemudian meringis menatap supir taksi yang masih menunggu bayaran. Sepertinya, bila sudah begini, ia langsung minta saja ke dalam. "Kalau gitu, saya yang panggil Bapak, ya, Neng?"

Dan tanpa menunggu jawaban darinya, Satpam tersebut memacu langkah cepat. Berlarian menuju rumah sementara ia masih terkapar dengan sendi-sendi seakan mati.

"Kamu tunggu di sini bentar, Nin!"

Suara Affan tiba-tiba menyusup. Dan hal itu membuat tubuhnya kian gemetaran. Ia pandangi segala arah dengan segera, namun sosok tersebut tak nampak di matanya.

"Atau kamu tunggu di kamarku. Sebentar, Bik! Tolong anterin Anin ke kamarku, Bik!"

Ia tidak mau menunggu lagi.

Ia tidak akan bersedia menanti bila akhirnya hanya tetap tak diterima.

Sambil mencoba berdiri, Anin kembali memacu langkah kembali. Kali ini pelan, karena tubuhnya sudah bermandi pelu dan lelah.

Mama Nirmala juga jatuh pingsan saat ia datang untuk pertama kalinya ke sini. Lalu barusan, ibunya Affan pun melakukan hal yang sama. Anin tak ingin ada di sana sampai wanita setengah baya itu bangun. Karena pengalaman pertamanya, ia langsung dihardik begitu Nirmala sadar dan membuka mata.

Sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran, Anin berusaha tetap waras ketika kenangan-kenangan menyakitkan itu datang menghantam benaknya. Matanya tak henti memproduksi cairan kesakitan, sementara sesak mulai mencekiknya secara tak beradab.

Bening Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang